Pages

Friday, January 30, 2009

Jusabella Dirut Baru Pelni

Mengawali tahun 2009, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) berganti pemimpin. Mantan Direktur Usaha BUMN Pelayaran itu, Jusabella Sahea, dilantik menjadi Direktur Utama menggantikan pendahulunya, Isnoor Hariyanto.

Manager Corporate Relation PT Pelni Edi Heryadi menjelaskan, prosesi pelantikan Jusabella sebagai dirut dilakukan Deputi Bidang Usaha Logistik dan Pariwisata Kantor Kementerian Negara BUMN Harry Susetyo di Kantor Menneg BUMN, Jakarta, 28 Januari 2009.

”Posisinya yang lama (Dirut Usaha Pelni) digantikan Pak Asep Suparman yang sebelumnya menjabat sebagai Dirut PT Sarana Bandar Nasional, salah satu anak perusahaan PT Pelni,” jelas Edi.

Sementara posisi tiga direktur lainnya, lanjut dia, tetap pada formasi semula. Posisi Direktur Keuangan masih tetap dijabat oleh Wibisono, Direktur Armada dipegang Capt Mochammad Lutfi, serta Direktur SDM dan Umum oleh Agus Sumitro.

Jusabella mengawali kariernya di PT Pelni pada tahun Maret 1981. Sementara keberadaan Agus Sumitro pada perusahaan itu sejak Juni 1987. ”Bu Jusabella dan Pak Agus cukup dikenal di lingkungan Pelni, karena keduanya pernah menduduki berbagai posisi strategis. Insya Allah PT Pelni bisa melakukan perubahan lebih baik lagi ke depan,” ujar Edi.

Menurut Edi, Jusabella akan meneruskan program-program yang telah dicanangkan Isnoor Haryanto untuk membawa Pelni keluar dari permasalahan setelah kondisi perekonomian yang tidak menguntungkan bagi dunia usaha.

”Ada beberapa program strategis yang akan menjadi prioritas utama, antara lain perubahan alat produksi dari kapal penumpang menjadi kapal three in one atau two in one, serta perbaikan pelayanan kepada calon penumpang maupun penumpang di atas kapal yang berbasis pada perkembangan teknologi moderen,” pungkasnya. (roda kemudi)

Thursday, January 29, 2009

Helikopter Pelita Air Terbalik, 2 Teknisi Tewas Terpotong-potong

Sebuah helikopter jenis Superpuma milik maskapai Pelita Air Service kehilangan kendali saat melakukan uji coba mesin dalam rangka perawatan rutin di landasan pacu Lapangan Udara Pondok Cabe, Tangerang Banten, Kamis (29/1) pukul 10.00 WIB.

Dua orang teknisi Pelita Air yang terlibat dalam ujicoba tersebut tewas seketika dengan tubuh terpotong-potong akibat tersabet baling-baling pesawat. Sementara pilot, Kapten Rahman Adi, dan seorang teknisi lain yang berada di dalam helikopter, lolos dari maut dan hanya mengalami luka-luka.

Kedua korban meninggal tersebut adalah Ahmad Suparja, 54 tahun, warga Kampung Gondrong, Tangerang, dan Sri Setiabudi, 44 tahun, warga Perumahan Bumi Pelita Kencana Blok A Pondok Cabe, Tangerang, Banten. Saat kecelakaan terjadi, kedua korban tidak berada di dalam pesawat, tetapi tengah berada di tepi lintasan untuk mengecek kondisi pesawat dari luar. Korban tersabet baling-baling karena tak sempat menghindar dari terjangan pesawat yang bergerak cepat. Untuk keperluan otopsi, kedua jenazah langsung dievakuasi di RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Hingga saat ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tengah menyelidiki penyebab kecelakaan yang membuat mesin dan baling-baling pesawat itu rusak. ”Kami sudah mengirimkan dua investigator untuk menyelidiki kecelakaan itu, yaitu Capt. Toos Sanitioso sebagai Inspector In Charge (IIC) dan Sulaeman,” jelas Ketua KNKT Tatang Kurniadi saat dikonfirmasi, Kamis siang.

Tatang menambahkan, pesawat nahas bernomor registrasi PK-PUH yang berkapastitas 17 penumpang itu bukan terjatuh dari udara. Pesawat rakitan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) tahun 1983 tersebut terbalik saat masih berada di landasan pacu, tepat di depan hanggar pesawat. ”Helikopter tidak sedang terbang atau hendak terbang, tetapi sedang melakukan pemeriksaan rutin,” jelasnya.

Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang S , selain KNKT, Dephub juga mengutus dua orang inspektur untuk menyelidiki peristiwa ini. Yakni seorang pilot yang bertindak sebagai Pricipal Operations Inspector (POI), dan seorang teknisi dari sebagai Principal Maintenance Inspector (PMI). Keduanya merupakan utusan dari Direktorat Kelaikan Pesawat dan Operasi Penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Bambang menjelaskan, informasi yang diterimanya Kamis siang menyebutkan bahwa pesawat oleng ke kiri dan terjatuh saat melakukan run up. ”Bisa dibilang, saat pemanasan mesin, helikopter kehilangan kendali dan terguling. Banyak teori yang bisa digunakan untuk menyelidiki penyebab kecelakaan ini, tetapi itu bukan wewenang saya untuk menjelaskannya. Kita tunggu saja hasil investigasi KNKT,” ujarnya. (roda kemudi)

Wednesday, January 28, 2009

Amazing Human

OOT: Just for relaxation..

Beat Box


Shlomo - Human Beatbox

Friday, January 23, 2009

Tarif Angkot DKI Turun Rp 500

Pemprov DKI Jakarta akhirnya menetapkan penurunan tarif angkutan umum Rp 500. Tarif berlaku setelah tanggal 27 Januari 2009 nanti.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) mengatakan, pihaknya setuju dengan peresmian tarif angkutan oleh anggota dewan yang ditetapkan melalui rapat pimpinan dengan ketua fraksi. Jadi, usulan yang akan berlaku di Jakarta adalah Rp 500.

Foke menambahkan, penetapan tarif ini Rp 500 ini bukan semata permintaan dewan. Sebelumnya, Pemprov DKI telah mengirimkan usulan Rp 500 ke DPRD DKI Jakarta. Namun, atas rekomendasi Dewan Transportasi Kota (DTK) usulan tarif tersebut diubah karena perubahan kembali harga premium dan solar.

"Minggu lalu kami usulkan Rp 500. Sekarang saya turunkan Rp 500. Saya kira tidak ada masalah," ujar Foke di Balaikota DKI Jakarta, Jumat (23/1).

Mengenai kapan waktu penerapannya, Foke menjelaskan bahwa malam kemarin dirinya akan menandatangi surat keputusan gubernur mengenai revisi tarif angkutan Jakarta. Namun, karena terhadang libur imlek, maka pengguna angkutan umum akan berlaku setelah tanggal 27 Januari mendatang.

Perlu diketahui, berdasarkan penetapan anggota dewan, maka penurunan tarif angkutan umum yang diresmikan adalah sebesar 25 persen. Yakni, bus kecil menjadi Rp2.000, bus sedang Rp2.000, bus besar (Patas) Rp2.000, dan tarif pelajar tetap Rp1.000. (okezone)

Adpel Parepare dan Samarinda Dinonaktifkan

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan menonaktifkan sementara dua administrator pelabuhan (adpel) terkait kasus tenggelamnya KM Teratai Prima di perairan Majene, Sulawesi Barat, beberapa waktu lalu.

”Kemungkinan besar mereka kurang profesional dan kurang kompeten untuk menjadi administrator pelabuhan,” kata Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo dalam jumpa pers di kantornya, Jumat (23/1).

Kedua Adpel yang dinonaktifkan tersebut adalah Adpel Parepare Nurwahidah dan Adpel Samarinda Sudiyono. Surat penonaktifan kedua adpel yang bernomor UK.11/2/1/DJPL-09 itu dikeluarkan Sunaryo pada 22 Januari 2009. Selama yang bersangkutan berada di Jakarta, Dephub menunjuk dua pegawainya sebagai pejabat pelaksana harian di kedua pelabuhan tersebut untuk menghindari terjadinya stagnasi.

Kedua pegawai yang diutus tersebut adalah Kasubdit Sarana dan Prasarana Direktorat Kesatuan Penjagaa Laut dan Pantai (KPLP) Kapt. Thamrin sebagai pejabat pelaksana harian Adpel Parepare, dan Kasie Kelaiklautan Kapal Direktorat Perkapalan dan Kepelautan (Ditkapel) Kapt. Jhonny R Silalahi sebagai pejabat pelaksana harian Adpel Samarinda.

Menurut Sunaryo, tujuan utama penonaktifan Nurwahidah dan Sudiyono adalah untuk memaksimalisasikan penyelidikan terhadap kasus itu dari sisi administratif. Untuk penyebab teknis kecelakaan sendiri, masih dalam proses penyelidikan Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT).

Penonaktifan ini, lanjutnya, bukan untuk mendahului kebijakan Menteri Perhubungan. Di sisi lain juga bukan tidak mengindahkan azas praduga tak bersalah, karena tidak terkait permasalahan hukum perdata maupun pidana. Kondisi itu berbeda dengan penetapan status nakhoda KM Teratai Prima, Sabri, sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

”Sanksi administratif tidak bisa disamakan dengan sanksi pidana. Dan, ini bukan hukuman. Tetapi ini bagian dari evaluasi internal kami, dan merupakan reaksi cepat Dirjen Perhubungan Laut. Penonaktifan ini sambil menunggu keputusan lebih lanjut dari Menteri Perhubungan,” tegas Sunaryo.

Sekretaris Ditjen Perhubungan Laut Jimmy Nikijuluw menambahkan, sejauh belum dikeluarkannya keputusan oleh Menhub, status kedua orang tersebut masih sebagai adpel di masing-masing tempat mereka ditugaskan. ”Keduanya akan dimintai keterangan melalui mekanisme internal terkait kecelakaan itu,” jelasnya.

Sunaryo menjelaskan, selain akan menghimpun keterangan dari Nurwahidah dan Sudiyono, pihaknya juga akan menyelidiki tentang performa KM Teratai Prima. Karena didapat informasi bahwa kapal nahas itu telah beralih fungsi dari kapal kargo menjadi kapal penumpang dengan mengubah struktur kapal, serta telah dua kali berpindah status kepemilikan.

”Saya akan tugaskan direktur-direktur untuk menelusuri semua informasi terkait kondisi dan sejarah kapal ini secara menyeluruh, mulai dari awal dibangun sampai kondisi terakhir sebelum tenggelam,” pungkasnya. (roda kemudi)