Pages

Showing posts with label tri s sunoko. Show all posts
Showing posts with label tri s sunoko. Show all posts

Tuesday, December 21, 2010

Jelang Natal & Tahun Baru, Penumpang Soekarno - Hatta Diprediksi Naik 15 Persen

Terhitung mulai hari ini, 22 Desember 2010 hingga 04 Januari 2011 mendatang, PT Angkasa Pura II (Persero) membuka Posko Angkutan Natal 2010 dan Tahun Baru 2011 di Bandara Soekarno-Hatta (BSH), Cengkareng, Banten.  Direktur Utama PT AP II Tri S Sunoko mengatakan, langkah ini menjadi salah satu upaya perusahaan dalam menciptakan dan meningkatkan pelayanan bagi  masyarakat pengguna jasa bandara agar dapat melaksanakan penerbangan menuju  kampung halaman maupun tempat-tempat wisata dengan tertib, aman, nyaman dan lancar.

Bandara Soekarno - Hatta, Cengkareng
”Sebagaimana komitmen kami, perusahaan akan selalu mengupayakan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh pelanggan, terlebih di masa-masa khusus seperti momentum Natal dan Tahun Baru seperti sekarang ini, yang diprediksi akan mengalami peningkatan pergerakan penumpang hingga 15 persen dibandingkan hari-hari normal yang mencapai rata-rata 124.000 penumpang per hari,” jelasnya.

Monday, October 11, 2010

AP II Naikkan Status Penerangan Umum dan AC Terminal di Bandara Soetta Jadi Prioritas

Menyusul terjadinya gangguan pasokan arus listrik pada fasilitas-fasillitas bandara yang tergolong non-prioritas di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, PT Angkasa Pura II (Persero) memutuskan untuk menaikkan status suplai tenaga cadangan (back up) pada kategori tersebut menjadi prioritas. Salah satunya adalah fasilitas penerangan umum dan penyejuk ruangan (AC) di seluruh area terminal.
Dirut AP II Tri Sunoko (berjaket) dan
Dirut PLN Dahlan Iskan (foto: antara)


”Penerangan umum atau pun AC di terminal-terminal itu semula masuk kategori non-priority dalam sistem back up kita. Tetapi sekarang sudah kita naikkan statusnya menjadi prioritas. Dengan demikian, ketika pemadaman listrik oleh PLN terjadi, lampu maupun AC di Bandara Soekarno—Hatta bisa tetap menyala. Kami menyadari betul bahwa kenyamanan penumpang merupakan salah satu faktor yang harus kami prioritaskan. Tujuan peningkatan status ini sendiri tak lain untuk meningkatkan kenyamanan bagi setiap pengguna jasa bandara,” ungkap Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko, Senin (11/10).

Dikatakannya, peningkatan status tersebut juga merupakan salah satu tuntutan dari masyarakat pengguna jasa Bandara Soetta yang direspons perusahaannya. Dia berharap, peristiwa terakhir, yaitu padamnya lampu penerangan umum dan AC di area terminal seperti ketika gardu induk PLN Kosambi terganggu beberapa waktu, lalu tidak akan terulang lagi ke depan. ”Karena ketika pasokan listrik PLN terhenti, sistem back up akan langsung mengambil alih dalam hitungan detik,” ujarnya.

Menurut Tri Sunoko, saat ini Bandara Soetta memiliki total tenaga listrik cadangan sebesar 7300 KVA. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3000 KVA telah teralokasikan untuk mem-back up fasilitas yang selama ini masuk dalam kategori high priority dan priority. Fasilitas yang masuk dalam kategori high priority adalah seluruh seluruh perangkat teknikal pada sisi udara (air side) dan berkaitan erat dengan sistem pengaturan lalu lintas pergerakkan pesawat, seperti peralatan navigasi, landasan pacu, radar, dlsb. Sementara pada kategory priority, perlengkapan operasional di dalam bandara, seperti fasilitas check  in, imigrasi, bea dan cukai, karantina, x-ray, conveyer, dan lainnya.

Sedangkan fasilitas lainnya masuk pada kelompok non-priority yang selama ini adalah fasilitas-fasilitas yang hanya mengandalkan ketersediaan pasokan arus dari PLN dan back up sebesar 20-30 persen. Perangkat tersebut di antaranya adalah lampu penerangan umum dan penyejuk ruangan di terminal. ”Sejalan dengan naiknya status beberapa fasilitas dari non-prority menjadi priority, kita alokasikan sekitar 75 persen dari dari 4300 KVA cadangan arus listrik yang tersedia. (Peningkatan status) ini merupakan salah satu tuntutan dari masyarakat pengguna jasa yang kita respons. Kita harapkan, peristiwa padamnya lampu dan AC di area  terminal seperti ketika gardu induk PLN Kosambi terganggu beberapa waktu lalu, tidak akan terulang lagi ke depan,” lanjutnya.

Di sisi lain, lanjut Tri Sunoko, untuk meningkatkan kapasitas listrik cadangan di Bandara Soetta, perusahaanya juga telah menyewa pembangkit  listrik (genset) secara berkala dalam dua tahap. Tahap pertama, genset berkapasitas 3 x 2 MVA, dan tahap kedua 5 x 2 MVA. Keseluruhan genset sewaan itu akan digunakan untuk mem-back up seluruh jalur penerangan, perkantoran, serta tenant. Termasuk pula seluruh fasilitas mekanikal elektrikal seperti AC, elevator, escalator, dan conveyor di terminal 1 dan 2. ”Seluruh pengadaan ini kita lakukan tahun 2010, dan itu semua di luar program RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan),” jelasnya.

Menurutnya, penyewaan genset tersebut dilakukan mengingat sisa pasokan tenaga cadangan dari genset yang telah ada selama ini, sebesar 4300 KVA, tidak dapat digunakan seluruhnya. ”Tenaga cadangan yang tersisa 4300 KVA itu memang tidak boleh digunakan total 100 persen. Prosedurnya seperti itu, maksimal kita hanya bisa pakai 75 persen. Karena itu kita alokasikan dana untuk menyewa genset untuk meng-cover fasilitas-fasilitas yang sebelumnya belum masuk daftar cadangan, baik di terminal 1, 2, maupun terminal 3,” tandasnya.

Tri menambahkan, terkait upaya perbaikan terhadap jaringan T9 dan T10 yang sempat membuat kedipan selama 1,7 detik dan menyebabkan terganggunya aktivitas penerbangan di Bandara Soetta pada 6 Agustus silam, saat ini AP II yang bekerja sama dengan PLN tengah melakukan penggantian instalasi kabel secara menyeluruh. Sampai kabel tersebut selesai diganti, untuk sementara pasokan arus listrik di kedua titik tersebut menggunakan kabel darurat melalui unit kabel berjalan (UKB) milik PLN.

”SOP dan gugus kerja antara AP II sudah kita bentuk untuk penanganan darurat. Jadi, sekarang ada pegawai PLN yang berada di Soetta untuk koordinasi dan fasilitas radio komunikasi yang terhubung antara bandara dengan kantor PLN,” imbuhnya.

Kemudian, lanjut dia, sambil berjalan PT AP II juga melakukan uji performasi terhadap sistem back up dengan melakukan simulasi pemadaman listrik dan resetting pada masa sepi, antara pukul 24.00 sampai pukul 04.00. Hasilnya dari uji performasi itu cukup memuaskan alias seluruh sistem back up dapat bekerja maksimal sesuai harapan.

”Untuk menghindari kesalahfahaman informasi, selama proses pengujuian ini seluruh airlines dan tenant sudah kita informasikan. Kita targetkan Oktober ini selesai, sedangkan untuk untuk suplai yang ke T3, 25 September lalu sudah selesai. Selain itu, di luar infrastruktur, kita juga melakukan penambahan teknisi pada main power station, di luar penempatan pegawai PLN di sana,” pungkas Tri. (roda kemudi)

Friday, September 17, 2010

Listrik Padam Lagi di Soetta, Pelayanan Tetap Normal

Pasokan listrik di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Cengkareng, Banten, kembali terkena masalah. Jumat (17/9), sekitar pukul 12.30 WIB, arus listrik di bandara tersibuk se-Indonesia itu kembali mengalami masalah. Kendati demikian, tidak ada gangguan signifikan terhadap fasilitas bandara maupun jadwal penerbangan, seperti yang terjadi pada 6 Agustus 2010 lalu.

”Peristiwa hari ini berbeda dengan yang waktu itu. Tidak ada gangguan terhadap konter-konter check in maupun pelayanan lainnya di bandara. Penerbangan juga masih tetap normal, tidak ada masalah yang muncul karena terimbas kejadian ini,” jelas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay saat dikonfirmasi.

Menurut Dirjen Herry, hingga saat ini penyebab padamnya listrik untuk kali kedua tersebut masih dalam penelusuran. ”Kita belum ketahui penyebabnya apa. Saya masih menunggu laporan dari PT Angkasa Pura II. Tapi yang jelas, kondisi saat ini tidak seperti waktu itu,” tegasnya, seraya berharap kejadian ini menjadi kali terakhir.

Pada Jumat, 6 Agustus 2010 lalu, kali pertama listrik di bandara mengalami masalah. Kedipan selama 1,7 detik yang terjadi saat itu sempat membuat sejumlah pelayanan penumpang dan jadwal penerbangan terganggu. Menindaklanjuti kondisi tersebut, PT AP II dan PT PLN bersinergi untuk mengelola pasokan listrik di Bandara Soetta.

Terpisah, Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko menjelaskan, gangguan aliran listrik di bandara yang dikelolanya terganggu sejak pukul 12.30 hingga 13.42 WIB. Namun, jelasnya, berkat sistem pendukung (back up) yang berfungsi dengan baik, pergerakan penumpang dan lalu lintas udara  tetap beroperasi normal.

”Penyebab gangguan sedang diatasi tim gabungan PLN dan AP2 yang sedang melakukan tugas bersama sejak awal pelaksanaan angkutan lebaran juga untuk tahap-tahap selanjutnya. Insya Allah, secepatnya kita akan perbaiki agar tidak ada lagi gangguan,” jelasnya.

Juru Bicara PT AP II Andang Santoso menambahkan, gangguan pasokan listrik yang terjadi di Bandara Soetta tidak sempat menyentuh fasilitas utama seperti konter pelayanan check in di area penumpang, maupun yang terkait dengan keamanan dan keselamatan penerbangan. ”Hanya listrik untuk penerangan umum. Tetapi masalah cepat terlesaikan dengan pasokan cadangan dari genset. Saat ini petugas dari PLN sedang menelusuri penyebab gangguan itu. Yang jelas, semua pelayanan tetap lancar,” jelasnya. (dephub.go.id)

Friday, August 6, 2010

AP II Jadwal Ulang Penerbangan di Bandara Soetta

Terkait adanya gangguan pasokan aliran listrik di Bandara Soekarno-Hatta yang terjadi pada Jumat (6/8), PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara melakukan redistribusi terhadap seluruh jadwal penerbangan secara merata.

”Redistribusi jadwal akan kita lakukan agar tidak semua slot time (jadwal penerbangan) terpusat pada jam-jam sibuk (peak hour) atau golden/prime time,” jelas Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II Tri Suriadjie Sunoko, ketika dikonfirmasi, Jumat (6/8).

Dijelaskan, langkah pemerataan penerbangan tersebut akan mengurangi beban terpusatnya penumpang, parkir, dan navigasi dll, yang berpotensi menimbulkan beban penggunaan listrik yang tinggi. Selain itu, selanjutnya sistem check in dan x-ray akan dimasukkan dalam kategori prioritas (mandatory) agar masuk kategori nihil toleransi terhadap gangguan. ”Diharapkan akibat ini tidak terjadi penurunan level of service di pelayanan konter,” imbuhnya.

Tri memaparkan, ganguan tidak meratanya pasokan listrik di area Bandara Soetta diakibatkan terjadinya ganguan listrik selama 1,7 detik pada Jumat dinihari, sekitar pukul 4.02 WIB. Terkait itu, pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan PLN perihal penyebab terganggunya aliran listrik.

”Akibat gangguan yang hanya beberapa detik itu, genset yang dimiliki bandara cengkareng langsung mengambil alih beban yang besarnya mencapai 7.300 KVA untuk seluruh area bandara. Tetapi, karena beban operasional priority sebesar 3.000 KVA, maka sebagian check ini dan x-ray tidak tercover sehingga perlu mereset sitem komputasi,” ungkapnya.

Di satu pihak, lanjut dia, kondisi itu diperparah karena gangguan terjadi pada saat jam pelayanan sibuk (peak hour). ”Sehinga kemampuan pelayanan check in dan x ray tergangu dan terlambat mengimbangi arus penumpang yang sangat padat pada masa itu,” ujar Tri. Untuk mengantisipasi kekacauan, saat itu juga dilakukan demobilisasi petugas, termasuk melibatkan aparat Polres Bandara untuk kebutuhan pengamanan. ”Sekarang, kondisinya berangsur-angsur sudah normal kembali.” (roda kemudi)

Wednesday, June 16, 2010

Kemenhub Temukan Maskapai Low Service Pasang Tarif Full Service

Hingga saat ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan masih melakukan proses pemantauan terhadap penerapan Keputusan Menteri Perhubungan No. 26 tahun 2010 tentang tarif penumpang angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri. Pada proses yang menjadi bagian dari evaluasi awal aturan baru tersebut, di lapangan tim pemantau sempat menemukan indikasi adanya pelanggaran dalam penetapan tarif kepada penumpang.

”Ada maskapai yang terindikasi melakukan pelanggaran, yaitu menerapkan tarif melebihi ketentuan standar kelas pelayanan yang diberikan. Kelasnya low service (pelayanan minimum), tapi pasang tarif masuk ke kelas full service (pelayanan maksimum),” jelas Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Tri S Sunoko di Jakarta, Rabu (16/6).

Pada KM 26/2010, maskapai dibagi pada tiga kategori yang didasarkan pada jenis standar pelayanan tambahan yang diberikan pada saat melakukan penerbangan. Yaitu full service, medium service, dan no frill. Kategorisasi ini menjadi acuan dasar yang wajib dipatuhi maskapai dalam menetapkan besaran tarif yang dikenakannya terhadap penumpang.

Bagi maskapai yang menempatkan diri pada kategori full service atau standar pelayanan maksimum, diberikan kewenangan untuk mengutip tarif hingga 100 persen dari batas maksimal yang diizinkan pada setiap rute yang dilayani. Sementara untuk maskapai pada kategori kedua, medium service airlines, pengenaan tarif tertinggi yang diberikan maksimal hingga 90 persen dari batas atas yang diizinkan.

Sedangkan maskapai yang masuk pada kategori no frills (pelayanan minimal), atau maskapai yang tidak memberikan pelayanan tambahan di udara, hanya diizinkan mengutip tarif tertinggi hingga 85 persen dari batas atas. ”Tapi berdasarkan hasil temuan di lapangan, harga yang dikenakan dalam tiket maskapai ini mencapai 95 persen dari batas atas. Itu berarti dia sudah menggunakan hak maskapai di kategori full service, sementara dia ada di kelas LCC/no frills. Ini tidak betul,” lanjut Tri.

Terkait itu, menurutnya, pihaknya akan segera mengirimkan surat teguran kepada maskapai yang bersangkutan. Sementara di sisi lain, verifikasi juga akan dilakukan untuk memastikan apakah besaran yang tercantum dalam tiket tersebut merupakan keputusan manajemen maskapai atau oleh agen penjualan resminya. ”Kita juga akan evaluasi ke dalam. Bisa jadi itu terjadi karena kurang maksimalnya sosialisasi yang kita lakukan sebagai regulator,” jelasnya.

Proses monitoring yang dilakukan di tujuh bandara utama di seluruh Indonesia ini, menurut Tri, akan dilakukan hingga akhir pekan depan. Sementara objek pemantauan meliputi penumpang, loket penjualan di bandara maupun di luar bandara, hingga pelayanan langsung di udara. Setelah proses monitoring rampung, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap seluruh hasil yang didapat dari proses tersebut.

”Semuanya akan kita evaluasi secara menyeluruh. Kalau ada yang perlu diperbaiki, ya, akan langsung kita perbaiki. Harapannya, ke depan aturan ini benar-benar diterapkan secara optimal oleh semua pihak, baik oleh operator maupun regulator,” pungkasnya.

Sehubungan dengan itu pula, Tri mengimbau seluruh calon penumpang untuk mengkonfirmasi jenis layanan maskapai yang dipilihnya sebelum memutuskan untuk membeli tiket. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh pihak maskapai. Ketika menemukan kejanggalan maupun indikasi pelanggaran, konsumen diminta untuk melaporkannya melalui layanan SMS ke nomor 081311111105 agar pemerintah bisa menindaklanjutinya.

Tri juga meminta pihak maskapai untuk terbuka terkait standar pelayanan yang diberikannya. Yaitu dengan mengumumkan jenis pelayanan yang mereka berikan kepada calon konsumen melalui media publikasi maupun secara lisan. ”Misalnya, memasang pengumuman berisi jenis kategori yang dilayani hingga besaran tarif yang dikenakan. Itu bisa di agen-agen atau loket penjualan langsung,” pungkasnya. (roda kemudi)