Pages

Monday, January 25, 2010

Kajian Proyek Jembatan Selat Sunda Perlu Diperpanjang

Realisasi proyek Jembatan Selat Sunda sepertinya masih perlu waktu lama. Pemerintah menilai studi kelayakan (feasibility study) proyek tersebut belum rinci, sehingga perlu dilakukan perpanjangan pengkajian proyek tersebut.


PT Bangungraha Sejahtera Mulia, anak perusahaan Artha Graha Network yang menggagas proyek ini, dinilai belum melakukan studi kelayakan secara lengkap. "Feasibility study yang disampaikan belum detail. Perlu dikaji satu hingga satu setengah tahun lagi," ujar Dedy S Priatna, Deputi Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), akhir pekan lalu.

Maka dari itu, hingga saat ini pemerintah belum memutuskan investor mana yang akan dipilih untuk membangun proyek prestisius tersebut. Pasalnya, konsep proyek senilai Rp 100 triliun itu belum jelas.

Bappenas menyatakan, meskipun Artha Graha Network sudah mengajukan hasil studi kelayakan, perusahaan milik Tomy Winata itu belum memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai pemrakarsa. Padahal, pada Agustus 2009 lalu Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Provinsi Lampung telah menandatangani memorandum of agreement (MoA) dengan Artha Graha Network untuk menindaklanjuti hasil kajian itu. Pra-studi itu juga telah diusulkan kepada pemerintah pusat untuk pembahasan lebih lanjut.

Sebenarnya, pemerintah juga sudah menunjuk Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto sebagai Ketua Tim Proyek Jembatan Selat Sunda.

Bentuk skema pembangunan proyek itu melalui mekanisme public private partnership (PPP). Pemerintah akan melibatkan swasta dalam pembangunan Jembatan Selat Sunda.

Menurut Dedy, skema PPP akan sesuai dengan isi revisi Peraturan Presiden 67 Tahun 2005 tentang Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur. Revisi tersebut menyatakan, apabila pemerintah daerah dan menteri keuangan menyetujui usulan proyek dan studi kelayakan dari kalangan swasta, investor tersebut dinyatakan sebagai pemrakarsa proyek.

Dedy menyatakan, kajian kelayakan yang disampaikan anak usaha Artha Graha tersebut telah dikaji juga oleh pemerintah, tetapi masih ada beberapa hal yang kurang. Misalnya, mengenai tinggi jembatan dengan permukaan laut dan pola kerja sama ataupun nilai konsesi.

Berdasarkan hasil kajian sementara, biaya yang dibutuhkan untuk merealisasikan Jembatan Selat Sunda ini mencapai Rp 100 triliun.

Jika terealisasi, proyek ini juga harus dibarengi dengan pengembangan sektor pariwisata di wilayah Sumatera sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan proyek dapat segera kembali. (kompas.com)

Pesawat Jatuh itu Maskapai Terbaik se-Afrika

Kabar jatuhnya pesawat komersil milik maskapai Ethiopian Airlines di lepas pantai Lebanon Senin dini hari tadi merupakan pukulan bagi pengelola maskapai utama di Etiopia itu. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir, maskapai ini mendapat sederet penghargaan, termasuk sebagai yang terbaik di Afrika.

Pihak Ethiopian Airlines masih menyelidiki kabar jatuhnya pesawat Boeing 737 yang membawa 85 penumpang itu tak lama setelah lepas landas dari Beirut dan dalam perjalanan menuju Addis Ababa.

Menurut laman Ethiopian Airlines, mereka baru saja mendapat penghargaan NEPAD Transport Infrastructure Awards pada 25 November 2009 dan anugerah "Airline of the Year" dari Asosiasi Maskapai Penerbangan Afrika (AFRAA) pada 24 November 2009 sehingga Ethiopian Airlines sudah mendapat lima penghargaan sejak awal 2009.

Pada Agustus 2008, Ethiopian juga memenangkan "Corporate Achievement Award" dari Aviation of Allied Business karena mengalami perkembangan yang pesat dalam layanan jasa penerbangan.

Maskapai yang memulai penerbangan pada 1946 itu melayani 35 kota di Afrika dan 56 tujuan internasional di empat benua. Ethiopian Airlines pun baru memesan 10 unit pesawat Boeing 737-800 Next Generation dengan nilai total US$767 juta.

Ethiopian Airlines pun dikenal sebagai maskapai Afrika pertama yang memesan pesawat 787 Dreamliner, dengan pemesanan 10 unit pada 2005. Seluruh armada maskapai itu adalah pesawat buatan Boeing.(vivanews)

Kemenhub Serap Dana Stimulus Fiskal 94,93 Persen

Kementerian Perhubungan menyerap anggaran dana stimulus fiskal bidang infrastruktur sebesar Rp2,087 triliun atau 94,93 persen dari total Rp2,199 triliun.

Menhub Freddy Numberi mengatakan realisasi daya serap fisik stimulus fiskal di Kemenhub mencapai 96,62 persen.


"Pagu anggaran stimulus fiskal Kemenhub sebesar Rp2,199 triliun," katanya dalam Raker di Komisi V DPR, hari ini.

Capaian Kemenhub dalam penyerapan dana stimulus fiskal itu lebih baik dibandingkan dengan penyerapan anggaran rutin 2009.

Selama 2009, Menhub menerangkan Kemenhub telah menyerap dana anggaran 022 sebesar Rp13,424 triliun atau 77,29 persen dari total anggaran Rp17,368 triliun dengan realisasi fisik 87,92 persen.

Dana bagian anggaran bendahara umum negara 999 tahun 2009 telah diserap sebesar Rp1,910 triliun atau 88,87 persen dari total anggaran Rp2,150 triliun dengan realisasi fisik 91,46 persen.

Beberapa kondisi yang menyebabkan tidak tercapainya target realisasi pelaksanaan itu a.l. adalah sisa belanja pegawai dan dana cadangan belanja pegawai, sisa belanja barang serta sisa anggaran belanja modal.(bisnis.com)

Pesawat Ethiopian Airlines Jatuh ke Laut usai Take Off

Kecelakaan pesawat kembali terjadi. Sebuah pesawat milik maskapai Ethiopia jatuh ke laut. Pesawat  Ethiopian Airlines itu mengangkut 85 orang.


Pesawat itu jatuh ke Laut Mediterania sesaat setelah lepas landas dari bandara internasional Beirut, Lebanon, Senin, 25 Januari dini hari waktu setempat.

Demikian disampaikan sumber-sumber bandara seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (25/1/2010).

Menurut sumber tersebut, pesawat Boeing 737  itu menghilang dari radar sekitar 5 menit setelah lepas landas.

Sekitar 50 penumpang berkebangsaan Lebanon. Penumpang lainnya merupakan warga negara Ethiopia. Diperkirakan ada 7 kru pesawat.

Menurut sumber tersebut, pesawat naas itu lepas landas sekitar pukul 03.10 waktu setempat. Dikatakannya, warga sekitar pantai melihat sebuah pesawat yang terbakar jatuh ke laut. (detik)

Wednesday, January 20, 2010

KNKT Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Nasional

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menggandeng sejumlah perguruan tinggi nasional untuk bekerja sama dalam program peningkatan kualitas investigator melalui jalur pelatihan singkat. Upaya ini juga menjadi wadah bagi lembaga tersebut untuk melakukan perekrutan investigator baru.


Ketua KNKT Tatang Kurniadi menuturkan, dirinya sejak 2009 lalu telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perihal kerja sama pendidikan tersebut dengan sejumlah perguruan tinggi nasional. Materi pelatihan yang dikerjasamakan mencakup pelatihan investigasi di bidang angkutan udara, angkutan darat, angkutan kereta api dan angkutan laut.

”Sekolah-sekolah tersebut adalah sekolah yang memiliki materi pendidikan khusus di bidang transportasi. Terakhir, Senin (18/1) kemarin, saya menandatangani MoU kerja sama dengan dua kampus untuk program pelatihan terpadu investigasi udara. Yaitu dengan Sekolah Tinggi Teknologi Adisucipto (STTA) Jogjakarta dan Universitas Nurtanio Bandung. Penandatanganannya dilakukan bersamaan di Jogjakarta,” jelasnya di markas KNKT di Jakarta, Selasa (19/1) malam.

Sebelumnya, pada Agustus 2009, Tatang melakukan penandatanganan MoU pelatihan investigator bidang angkutan udara dengan Akademi Teknik dan Keselamtan Penerbangan (ATKP ) Surabaya. Ke depan, kerja sama sejenis akan dilakukan KNKT dengan sejumlah perguruan tinggi lain. Di antaranya dengan Institut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Hangtuah Surabaya, serta Akademi Pelayaran Surabaya, untuk bidang angkutan laut.

”Untuk bidang angkutan kereta api kita akan bekerjasama dengan STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat) karena saat ini belum ada sekolah khusus tentang kereta api. Sedangkan untuk investigator darat, selain dengan STTD, kita juga akan bekerja sama dengan Universitas Bhayangkara dan STT Trisakti Jakarta,” papar Tatang.

Dia menambahkan, upaya kerja sama ini juga sebagai jawaban atas temuan hasil audit organisasi penerbangan sipil internasional ICAO pada 2007 silam, yang mempertanyakan sejauh mana kegiatan pelatihan dilakukan KNKT. Saat itu, jelasnya, ICAO menilai bahwa upaya KNKT untuk mengembangkan kualitas SDM melalui jalur pelatihan masih sangat minim.

Ditanya perihal alokasi anggaran biaya yang dibutuhkan untuk mendukung program tersebut, Tatang mengaku belum dapat menyebutkan secara pasti berapa jumlahnya. ”Untuk biaya kita belum tahu, sekarang masih hitung-hitungan. Kemungkinan tidak akan terlalu besar, karena ini bersifat strategis di mana KNKT juga akan menyumbangkan instruktur.

Tetapi yang pasti, alokasinya akan kita ambil dari pos pelatihan yang sudah ada,” imbuhnya. Kendati demikian, dirinya menargetkan, mulai Februari 2010 mendatang, program kerja sama pelatihan investigator kecelakaan di empat moda angkutan tersebut dapat terealisasi.

Tatang menegaskan, sesungguhnya program kerja sama yang dilakukannya dengan sejumlah perguruan tinggi ini bukanlah kerja sama pertama yang dilakukan KNKT untuk meningkatakan kualitas para investigatornya. Jauh sebelumnya, bahkan sejak 2007 lalu, KNKT telah secara intensif menggelar pelatihan bersama untuk mengembangkan mutu SDM-nya dengan lembaga-lembaga sejenis milik negara-negara lain. Antara lain dengan komite keselamatan transportasi Australia (ATSB), serta komite keselamatan transportasi Jepang (JTSB).

Saat ini, dijelaskan Tatang, KNKT baru memiliki sebanyak 59 investigator. Sebanyak 29 orang di antaranya merupakan investigator bidang udara. Sedangkan 14 orang sisanya di bidang angkutan laut, delapan untuk moda kereta api, dan dua orang untuk moda angkutan darat. Melalui program kerja sama dengan perguruan tinggi nasional ini pula, Tatang menargetkan KNKT tidak hanya mampu meng-upgrade SDM yang telah ada. ”Tetapi juga kita harapkan bisa menjaring tenaga-tenaga investigator baru,” pungkasnya. (roda kemudi)