Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengkategorikan peristiwa terperosoknya pesawat Sriwijaya Air di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Rabu (27/1) siang, sebagai insiden serius. Yaitu kategori di mana peristiwa tersebut tergolong sebagai peristiwa di mana pesawat udara mengalami kejadian yang membahayakan akibat kerusakan pada sistem hidrolik.
”Apalagi sampai pesawat keluar dari landasan,” ujar Ketua KNKT Tatang Kurniadi kepada wartawan di ruang wartawan Kementerian Perhubungan, Rabu malam. Tatang menambahkan, institusinya telah mengirimkan sejumlah investigator untuk menginvestigasi penyebab insiden tersebut. Mereka adalah Capt. Prita Wijaya dan Markus Toto Hermawan.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan menjelaskan, terkait insiden tersebut, Menhub Freddy Numberi telah memerintahkan Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti untuk mengetatkan pengawasan terhadap sistem perawatan pesawat baik berkala maupun harian. Hal tersebut disampaikan Menhub di sela rapat kerja yang dilakukan dengan Komisi V DPR di gedung dewan.
”Dirjen juga sudah mengutus inspektur dari Direktorat Kelaikan Udara dan Perawatan Pesawat Udara (DKUPPU) untuk bersama-sama investigator KNKT menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut,” jelas Bambang.
Untuk diketahui, pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-020 tujuan Jakarta– Padang– Medan mengalami kerusakan sistem hidrolik dan terperosok saat melakukan pendaratan di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Cengkareng, Banten, Rabu (27/1), pukul 13.52 WIB. Akibat peristiwa tersebut, sejumlah penerbangan dari dan menuju Soekarno-Hatta ditunda karena bandara harus ditutup hingga pukul 16.10 WIB untuk melancarkan proses evakuasi pesawat.(roda kemudi)
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menggandeng sejumlah perguruan tinggi nasional untuk bekerja sama dalam program peningkatan kualitas investigator melalui jalur pelatihan singkat. Upaya ini juga menjadi wadah bagi lembaga tersebut untuk melakukan perekrutan investigator baru.
Ketua KNKT Tatang Kurniadi menuturkan, dirinya sejak 2009 lalu telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perihal kerja sama pendidikan tersebut dengan sejumlah perguruan tinggi nasional. Materi pelatihan yang dikerjasamakan mencakup pelatihan investigasi di bidang angkutan udara, angkutan darat, angkutan kereta api dan angkutan laut.
”Sekolah-sekolah tersebut adalah sekolah yang memiliki materi pendidikan khusus di bidang transportasi. Terakhir, Senin (18/1) kemarin, saya menandatangani MoU kerja sama dengan dua kampus untuk program pelatihan terpadu investigasi udara. Yaitu dengan Sekolah Tinggi Teknologi Adisucipto (STTA) Jogjakarta dan Universitas Nurtanio Bandung. Penandatanganannya dilakukan bersamaan di Jogjakarta,” jelasnya di markas KNKT di Jakarta, Selasa (19/1) malam.
Sebelumnya, pada Agustus 2009, Tatang melakukan penandatanganan MoU pelatihan investigator bidang angkutan udara dengan Akademi Teknik dan Keselamtan Penerbangan (ATKP ) Surabaya. Ke depan, kerja sama sejenis akan dilakukan KNKT dengan sejumlah perguruan tinggi lain. Di antaranya dengan Institut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Hangtuah Surabaya, serta Akademi Pelayaran Surabaya, untuk bidang angkutan laut.
”Untuk bidang angkutan kereta api kita akan bekerjasama dengan STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat) karena saat ini belum ada sekolah khusus tentang kereta api. Sedangkan untuk investigator darat, selain dengan STTD, kita juga akan bekerja sama dengan Universitas Bhayangkara dan STT Trisakti Jakarta,” papar Tatang.
Dia menambahkan, upaya kerja sama ini juga sebagai jawaban atas temuan hasil audit organisasi penerbangan sipil internasional ICAO pada 2007 silam, yang mempertanyakan sejauh mana kegiatan pelatihan dilakukan KNKT. Saat itu, jelasnya, ICAO menilai bahwa upaya KNKT untuk mengembangkan kualitas SDM melalui jalur pelatihan masih sangat minim.
Ditanya perihal alokasi anggaran biaya yang dibutuhkan untuk mendukung program tersebut, Tatang mengaku belum dapat menyebutkan secara pasti berapa jumlahnya. ”Untuk biaya kita belum tahu, sekarang masih hitung-hitungan. Kemungkinan tidak akan terlalu besar, karena ini bersifat strategis di mana KNKT juga akan menyumbangkan instruktur.
Tetapi yang pasti, alokasinya akan kita ambil dari pos pelatihan yang sudah ada,” imbuhnya. Kendati demikian, dirinya menargetkan, mulai Februari 2010 mendatang, program kerja sama pelatihan investigator kecelakaan di empat moda angkutan tersebut dapat terealisasi.
Tatang menegaskan, sesungguhnya program kerja sama yang dilakukannya dengan sejumlah perguruan tinggi ini bukanlah kerja sama pertama yang dilakukan KNKT untuk meningkatakan kualitas para investigatornya. Jauh sebelumnya, bahkan sejak 2007 lalu, KNKT telah secara intensif menggelar pelatihan bersama untuk mengembangkan mutu SDM-nya dengan lembaga-lembaga sejenis milik negara-negara lain. Antara lain dengan komite keselamatan transportasi Australia (ATSB), serta komite keselamatan transportasi Jepang (JTSB).
Saat ini, dijelaskan Tatang, KNKT baru memiliki sebanyak 59 investigator. Sebanyak 29 orang di antaranya merupakan investigator bidang udara. Sedangkan 14 orang sisanya di bidang angkutan laut, delapan untuk moda kereta api, dan dua orang untuk moda angkutan darat. Melalui program kerja sama dengan perguruan tinggi nasional ini pula, Tatang menargetkan KNKT tidak hanya mampu meng-upgrade SDM yang telah ada. ”Tetapi juga kita harapkan bisa menjaring tenaga-tenaga investigator baru,” pungkasnya. (roda kemudi)
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memasukkan peristiwa tergelincirnya pesawat Merpati Nusantara Airlines nomor penerbangan MZ 766 di runway Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, ke dalam kategori accident (kecelakaan). Saat ini KNKT tengah memeriksa data hasil rekaman black box pesawat tersebut untuk menelusuri penyebab kecelakaan.
”Karena, meski tidak menelan korban jiwa, ada struktur pesawat yang rusak. Ada wringcle (kerutan) pada bodi bagian depan sebelah kiri. Selain itu, engine-nya juga kena. Jadi, ini masuk dalam kategori accident, bukan insiden. Garuda yang pecah ban di Denpasar (Bali) sebelumnya juga sama, masuk kategori accident karena ada kerusakan yang ditimbulkan sebagai akibatnya,” jelas Ketua KNKT Tatang Kurniadi di kantornya, Jakarta, Rabu (23/12).
Dipaparkan Tatang, kerusakan struktur yang terjadi pada pesawat jenis jenis Boeing 737-300 dengan register PK-MDH itu diduga akibat hentakan keras yang terjadi saat melakukan pendaratan. Pesawat yang tengah melayani penerbangan untuk tujuan Surabaya-Makassar-Jayapura itu, menurutnya, turun terlalu cepat dan mengalami perubahan udara drastis pada ketinggian sekitar 50 feet.
”Hentakan keras saat landing terjadi karena pesawat terkena hampa udara. Untuk memastikan, sekarang KNKT sedang membongkar black box pesawat itu di laboratorium,” imbuh Tatang, yang baru saja kembali dari Makassar untuk mengambil black box pesawat Merpati tersebut.
Pesawat yang mengangkut 100 orang penumpang ini tergelincir setelah ban bagian depannya pecah pada Senin (21/112) dini hari lalu, sekitar pukul 02.00 WITA. Peristiwa tersebut terjadi setelah pesawat melakukan penerbangan sekitar dua jam dari Surabaya.
Tatang menyebutkan, selama kurun tiga tahun terakhir telah terjadi 13 kasus serupa. Tahun 2009 ini saja, terdapat delapan kasus pesawat pecah ban. (roda kemudi)
Departemen Perhubungan dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) langsung mengirimkan inspektor dan investigatornya untuk menyelidiki lepasnya ban pesawat Garuda Indonesia tujuan Jakarta-Banda Aceh di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Jumat (30/10).
”Sudah diutus inspektor dari DKUPPU (Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara) Ditjen Perhubungan Udara untuk memeriksa pesawat tersebut di Cengkareng,” jelas Kepala Pusat Komunikasi Publik Dephub Bambang S Ervan di Jakarta, Jumat.
Pesawat yang membawa total 49 orang penumpang, terdiri dari 45 penumpang kelas ekonomi dan empat penumpang kelas ekonomi itu lepas landas dari landasan pacu Soekarno-Hatta pukul 08.14 WIB. Beberapa saat setelah meninggalkan bumi, ban sebelah kiri bagian dalam (main wheel No.2) dari pesawat dengan nomor penerbangan GA 142 itu terlepas.
Sebelum mendarat kembali ke bandara asal, pilot terlebih dahulu membawa pesawat untuk berputar-putar di udara selama sekitar satu jam. Hal itu dilakukan untuk mengurangi jumlah bahan bakar agar bobot maksimal pesawat saat mendarat (maximum landing weight) terpenuhi.
Tidak ada korban akibat insiden ini. Pesawat landing dengan lancar pukul 09.35 WIB. Seluruh penumpang dialihkan dengan pesawat pengganti yang terbang pukul 11.00 WIB. Pesawat penggantinya adalah Boeing 737-500 dengan nomor penerbangan yang sama.
Menurut Bambang, selain memeriksa penyebab lepasnya ban, para inspektur Ditjen Perhubungan Udara yang dikirimkan beberapa saat setelah diketahui terjadinya tersebut, juga akan meneliti riwayat perawatan rutin pesawat jenis Boeing 737-300 beregristrasi PK-GGQ tersebut. Pesawat, kata Bambang, tidak akan diterbangkan hingga pemeriksaan dan perbaikan selesai dilakukan.
Sementara itu, Juru Bicara KNKT JA Barata menambahkan, institusinya juga telah mengutus dua orang investigator untuk menyelidiki penyebab lepasnya ban pesawat Garuda. ”Yaitu Kapten Chaerudin sebagai Inspector In Charge (IIC) dan investigator Sulaeman. Mereka akan menyelidiki apakah lepasnya ban akibat faktor maintenance atau akibat kelelahan material (fatigue),” jelasnya. (roda kemudi)
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengoperasikan laboratorium pembaca kotak hitam (black box) pesawat. Dengan demikian, KNKT kini memiliki kemampuan untuk membaca data kotak hitam yang terdiri dari flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR) untuk menyelidiki kecelakaan.
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Rabu (26/8), dalam kunjungannya ke laboratorium milik KNKT tersebut mengatakan, keberadaan laboratorium dan perangkatnya itu bisa mendongkrak kemampuan dan kredibilitas KNKT ke depan.
”Sejak bergabung dengan ICAO 59 tahun lalu, baru pertama kali ini Indonesia punya laboratorium pembaca Black Box sendiri. Dari dahulu kita selalu meminta bantuan Singapura atau Australia,” jelas Menhub.
Ketua KNKT yang mendampingi Menhub menjelaskan, investasi yang dibutuhkan untuk mengadakan perangkat lunak (software) pembaca data, mencapai sebesar USD 250 ribu. Ditambahkan, investasi tersebut belum termasuk untuk pengadaan perangkat keras (hardware).
”Software untuk FDR berasal dari Kanada. Sedangkan CVR-nya dari Australia. Kalau hardware-nya, kita menda[patkan bantuan dari pemerintah Jepang senilai 32 ribu yen atau setara Rp 3 miliar,” jelas Tatang.
”Kita juga harus berterima kasih kepada komisi V DPR RI yang telah menyetujui anggaran untuk pengadaan alat pembaca black box tersebut,” sambung Menhub menambahkan.
Menurut Menhub, perlengkapan yang dimiliki KNKT tersebut saat ini baru untuk membaca data FDR dan CVR pesawat. Namun ketika terjadi deformasi data, maka black box masih membutuhkan bantuan dari laboratorium lain seperti laboratorium metalurgi ITB atau negara lain yang lebih canggih.
Laboratorium KNKT yang secara resmi dioperasikan sejak 17 Agustus 2009. Operasi pertama laboratorium KNKT adalah membaca rekaman CVR pesawat Twin Otter Merpati Nusantara, dan menampilkan hasil pembacaan data FDR milik pesawat BAE Aviastar Mandiri yang jatuh di Papua beberapa waktu lalu. (roda kemudi)
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan dan Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) langsung membentuk tim untuk menyelidiki insiden lepasnya salah satu ban sebelah kiri pesawat Boeing 737-200 milik maskapai Merpati Airlines di Bandara Fraz Kaiseppo, Biak, Papua, Senin (6/7).
Kepala Pusat Komunikasi Publik Dephub Bambang S Ervan menjelaskan, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bhakti telah memerintahkan sejumlah invetigator dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) untuk memeriksa penyebab lepasnya ban tersebut.
”Dirjen Udara juga telah meminta KNKT untuk mengirimkan tim ke Biak. Saat ini pesawat telah di-grounded untuk penyelidikan besok,” jelas Bambang saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin malam.
Bambang menambahkan, jika dari hasil investigasi tersebut ditemukan kesalahan akibat kelalaian mekanik yang membuat terlepasnya ban, maka mekanik yang bersangkutan akan di-grounded dan diberikan sanksi. ”Tidak hanya mekanik, maskapainya juga bisa terkena sanksi, misalnya betul ada kesalahan akibat kelalaian,” tegasnya.
Lepasnya salah satu ban sebelah kiri pesawat yang akan terbang membawa 107 penumpang menuju Makassar, Ujung Pandang, tersebut terjadi saat pesawat melakukan lepas landas. Petugas di menara pemantau yang melihat hal tersebut langsung mengabarkannya kepada pilot agar tidak meneruskan penerbangan.
”Pesawat diarahkan oleh petugas menara untuk mendarat kembali di Bandara Franz Kaiseppo. Setelah berputar-putar beberapa lama untuk menghabiskan bahan bakar, pesawat akhirnya mendarat lagi di bandara yang sama dengan tiga roda bagian belakang, dua di kanan dan satu di kiri. Tidak ada korban jiwa dari insiden ini,” papar Bambang.
Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara KNKT JA Barata menjelaskan, tim yang akan menyelidiki penyebab lepasnya ban pesawat dengan nomor penerbangan MZ 761 yang dipiloti Kapten Haryogi dan kopilot Eko Laksono tersebut, akan diketuai oleh Wakil Ketua KNKT Frans Wenas. Proses investigasi terhadap pesawat itu akan dilakukan Selasa (7/7).
”Tim beranggotakan Masruri, teknisi, dan Sulaiman. Investigator Masruri akan berangkat besok pagi (Selasa) bersama wakil ketua KNKT. Sedangkan Sulaiman, langsung terbang dari Denpasar malam ini juga menuju Biak,” jelas Barata. (roda kemudi)
Proses pencarian pesawat Aviastar yang hilang saat melintasi rute Dekay-Wamena, Papua, pada Senin lalu, mendapatkan titik terang. Pilot pesawat Cesna dari maskapai "Associated Mission Aviation" (AMA) registrasi PK-RCX, NG Dong, melihat puing-puing pesawat di daerah Pegunungan Tangma, Kurima, Kabupaten Yahukimo, Papua.
Juru Bicara Badan SAR Nasional Gagah Prakoso mengatakan, puing-puing tersebut diyakini merupakan puing pesawat Aviastar yang hilang itu. ”Puing terlihat pada ketinggian 9600 kaki, pada pukul 08.00 WIT. Koordinat lokasinya 04.15.65 LS 139.00.57 LT. Ini baru pantauan dari jarak jauh, sehingga belum diketahui kondisi pasti separah apa kondisi pesawat dan awaknya,” jelasnya saat dihubungi, Rabu (1/7).
Gagah menambahkan, pada pukul 12.00 WIT, tim evakuasi dari Brigadir Mobil (Brimob) Timika, berencana mendatangi lokasi dengan menggunakan helikopter Bell Air milik PT Freeport. Namun, rencana itu dibatalkan karena cuaca buruk. Selain cuaca, kondisi medan juga menjadi kendala utama proses pencarian dan evakuasi.
”Karena itu, peluang besar melakukan evakuasi korban dan pesawat haya bisa dilakukan lewat jalur udara. Kalau melalui jalur darat, medannya terlalu berat,” ujarnya.
Ditemukannya bagian badan pesawat jenis Twin Otter Aviastar pembawa sembako yang diawaki Capt. Frans Noble dan kopilot Dedi Sudrajat tersebut, menjadi kabar gembira bagi tim pencari. Pasalnya, sejak putusnya komunikasi proses pencarian selalu berbuah nihil.
”Kita semua menginginkan yang terbaik. Semoga awak pesawat bisa kita temukan masih dalam keadaan selamat,” harapnya.
Dijelaskan Gagah, pada hari kedua pencarian, Selasa (30/6), operasi SAR dibagi dalam dua periode. Yakni pada pukul 05.30-1200 WIT dan pukul 12.00-15.00 WIT. Pencarian dimulai dengan menggunakan helikopter jet ranger milik organisasi misi keagamaan dengan fokus pencarian di wilayah Polimo, Kurima, Pasima, Pule, dan Ogima.
Pencarian selanjutnya dilakukan dengan menggunakan pesawat ATR Trigana dengan menyisiri rute yang dilalui pesawat Aviastar, yaitu dari Dekay menuju Wamena. Disusul kemudian pencarian dengan menggunakan pesawat maskapai AMA Cesna PK-MAU pada wilayah Pasima-Soba, serta dengan Cesna PK-MAQ pada wilayah Polimo-Haluwon.
Kemudian pada sisi darat, proses pencarian dilakukan tim dari TNI AD Kodim Wamena pada wilayah Kaliyetni, serta Polres Wamena untuk wilayah Asatipo dan Tanah Longsor.
”Seluruh operasi SAR pada hari itu dihentikan pukul 15.00 WIT karena cuaca buruk, dan hasilnya masih nihil. Kemudian, hari ini operasu direncanakan menggunakan helikopter, Cesna dan MAF, milik maskapai Swiss Air, AMA, Trigana, serta helikopter jet ranger milik misi keagamaan dan Yajasi,” papar Gagah.
Menanggapi informasi terbaru ini, Juru Bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata mengatakan, pihaknya tengah menyusun rencana untuk mengirimkan tim investigasi sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari tim SAR.
”Untuk saat ini kami masih menunggu sampai proses evakuasi selesai, sambil terus melakukan verifikasi informasi dari semua aspek. Verifikasi informasi sendiri telah kami lakukan sejak awal, dengan mengutus seorang anggota kami ke sana. Hanya saja kami belum mengirim tim untuk menginvestigasi penyebab kecelakaan itu, karena itu belum diperlukan. Prioritasnya saat ini adalah evakuasi korban,” jelas Barata. (roda kemudi)
Pesawat terbang jenis Twin Otter milik maskapai penerbangan Avia Star Airlines diduga hilang saat menerbangi rute Dekai-Wamena, Papua. Hingga saat ini tim dari Kantor Badan SAR Jayapura masih melakukan pencarian pesawat beregistrasi PK-BRO tersebut.
Ketika dihubungi, Juru Bicara Badan SAR Gagah Prakoso menjelaskan, pesawat yang dipiloti Capt. Frans Noble dan kopilot Dedi Sudrajat itu putus kontak dengan menara pengawas pada pukul 06.54 UTC (15.54 WIT).
”Pesawat terbang dari Dekai menuju Wamena, lepas landas pukul 06.32 dan dijadwalkan mendarat pukul 07.02 UTC. Informasinya pesawat sedang mengangkut sembako. Tidak ada penumpang, hanya ada seorang awak kabin yang dibawa pesawat ini,” jelasnya, Senin (29/4).
Gagah menambahkan, hingga saat ini pihaknya masih mencoba untuk mencari koordinat pasti penentu posisi pesawat tersebut melalui saluran radio. ”Kami belum bisa mencari dengan menggunakan pesawat, karena kondisi di rute itu sudah gelap. Mungkin besok kita akan melakukan pencarian dengan menggunakan pesawat,” ujarnya.
Sementara itu, Juru Bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata mengatakan, pihaknya baru akan mengirimkan tim setelah mendapatkan kepastian informasi dari Badan SAR terkait hilangnya pesawat Aviastar.
”KNKT belum mengirimkan tim, karena informasinya masih belum pasti. Kita belum tahu apakah pesawat itu benar-benar hilang, atau melakukan pendaratan darurat di suatu tempat yang kita belum ketahui lokasinya. Sampai saat ini, kami masih menunggu informasi dari Badan SAR,” jelasnya.
Rute penerbangan Papua memang terbilang sebagai rute yang rawan kecelakaan. Saat ini pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan tengah mengkaji ulang jalur penerbangan di kawasan ujung timur Indonesia tersebut untuk membuat standar khusus bagi penerbangan di sana.
Standar khusus tersebut sangat dibutuhkan bagi penerbangan di Papua mengingat seringnya kecelakaan pesawat terbang di sana. Standar itu antara lain meliputi standar pengamanan yang lebih ketat yang mencakup kelaikan pesawat, kemampuan pilot, kelengkapan kapasitas fasilitas bandara termasuk fasilitas pesawat dan lainnya.
Sebelumnya, pada 9 April 2009 lalu, pesawat milik Aviastar lainnya yang berjenis BAe 146-300 tipe B463 juga pernah mengalami kecelakaan. Pesawat rakitan British Aerospace tahun 1990 itu terjatuh dan meledak di wilayah pegunungan di Desa Pike, Wamena, Papua. Seluruh kru yang berjumlah enam orang dinyatakan tewas dalam peristiwa itu.
Kecelakaan terjadi ketika pesawat yang tengah mengangkut 9 ton bahan bakar avtur itu tengah melakukan pendekatan untuk mendarat di Bandara Wamena. Pesawat diketahui terjatuh dan seketika terbakar ketika tengah mencari posisi untuk mendekati runway 15 yang akan didaratinya.
Pesawat diindikasikan menabrak puncak Gunung Pike ketika masuk ke dalam awan. Mengingat kondisi cuaca saat itu dalam keadaan berkabut sehingga membuat jarak pandang pilot menjadi sangat terbatas.
Kemudia pada 30 Januari 2008 silam, pesawat Aviastar lain berjenis DHC-6 Twin Otter juga sempat mengalami kecelakaan. Pesawat rakitan Kanada yang saat itu mengangkut sebanyak 15 penumpang tersebut tergelincir di Bandara Sugapa, Kabupaten Paniai, Papua. Satu dari 15 penumpang yang dibawanya meninggal dunia, dan dua lainnya menderita luka berat, akibat peristiwa tersebut. (roda kemudi)
Direktorat Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan membekukan sementara sertifikat kompetensi Supriyanto, masinis KA 523 KRL Ekonomi Bogor-Jakarta yang menabrak KA 265 Depok Ekspress di Blok 202 perlintasan antara Stasiun KA Tebet-Manggarai, Jumat (5/6) pagi.
”Karena menurut penyelidikan sementara, kecelakaan diduga kuat bukan karena masalah teknis. Tetapi terjadi akibat pelanggaran yang dilakukan masinis,” jelas Direktur Jenderal Perkeretaapian Tundjung Inderawan dalam jumpa pers di kantornya, Jumat petang.
Ditegaskan Tundjung, pernyataannya itu juga sebagai klarifikasi atas pernyataan pihak manajemen PT Kereta Api yang menyebutkan bahwa kecelakaan terjadi akibat adanya gangguan pada sistem pengereman.
”Berdasarkan pemeriksaan teknis sementara dan olah TKP yang dilakukan penyidik PPNS, diketahui bahwa tidak ada bukti adanya rem blong. Analisis sementara, masinis KA 523 langgar sinyal blok dan batas kecepatan,” sambung Tundjung.
Direktur Keselamatan dan Teknik Sarana Ditjen Perkeretaapian Hermanto Dwiatmoko menambahkan, dugaan kuat bahwa kecelakaan akibat kelalaian masinis tersebut diperoleh berdasarkan sejumlah bukti-bukti teknis yang diperoleh di lapangan.
Bukti pertama, pada rekaman terakhir monitoring sinyal dan pergerakan KA di rute tersebut, misalnya, diketahui bahwa lampu blok 202 yang dilalui KA 523 dalam kondisi berwarna merah. Itu artinya di blok 202 tersebut masih ada KA yang berhenti, yaitu KA 265 Depok Ekspres.
”Seharusnya dia (masinis KA 523) tidak melanggar sinyal dan masuk ke blok itu. Pada akhirnya, dia tidak sempat melakukan pengereman maksimal dan menabrak KA yang di depannya,” jelas Hermanto.
Bukti kedua yang menegaskan bahwa tidak terjadi masalah pada pengereman, lanjut dia, adalah tingkat kerusakan ringan akibat tubrukan baik pada bagian depan KA 523 maupun bagian belakang KA 265. Selain itu seluruh roda kedua KA tersebut juga tetap pada posisinya, tidak anjlok keluar dari rel.
”Kalau benar-benar remnya blong, bagian depan KA yang menabrak pasti rusak berat karena menabrak KA yang berhenti, dan kereta bisa keluar rel. Tetapi ini tidak, hanya kacanya saja yang pecah akibat benturan. Ini bukti bahwa dia sempat melakukan pengereman untuk mengurangi efek benturan,” papar Hermanto sambil menunjukkan gambar bagian depan KA 523 yang utuh pada monitor peraga.
Hasil pemeriksaan lainnya menyebutkan, penyidik PPNS tidak menemukan adanya tanda-tanda bekas dilakukannya pengereman darurat oleh masinis bersangkutan di sepanjang lintasan yang dilalui. Sedianya, berdasarkan prosedur, pengereman darurat wajib dilakukan masinis ketika terjadi rem blong.
”Kalau dilakukan, bekasnya pasti terlihat, akibat pengereman darurat rel pasti akan tergerus. Tetapi setelah kita telusuri hingga sepanjang 500 meter, tidak ada bekas-bekasnya sama sekali. Itu berarti tidak ada pengereman darurat yang dilakukan masinis sebagai solusi terakhir ketika remnya blong,” lanjutnya.
Di sisi lain, laporan yang menyatakan bahwa rem blong tersebut dilakukan masinis telah peristiwa kecelakaan terjadi. ”Seharusnya dia melaporkan rem blong sebelum kejadian. Itu standar operasinya,” pungkas Hermanto, seraya menegaskan bahwa kondisi KA 523 yang menjalani pemeriksaan di Balai Yasa Perhubungan pada 2008 tersebut dalam keadaan laik operasi.
Atas kelalaiannya itu, Supriyanto terancam pidana kurungan 1 tahun penjara karena diduga melanggar pasal 206 Undang-undang 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian karena mengoperasikan sarana dengan tidak mematuhi Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), serta sinyal atau tanda.
Hermanto menambahkan, hingga saat ini, faktor kelalaian manusia masih mendominasi kecelakaan kereta api di Indonesia. Sepanjang tahun 2008, sebanyak 33 persen kecelakaan disebabkan SDM operator. ”Kecelakaan yang diakibatkan prasarana seperti anjlok atau rel patah, relatif mengalami penurunan. Itu karena selama ini upaya perbaikan terus dilakukan Departemen Perhubungan,” pungkasnya.
Tabrakan antara KA 265 Depok Ekspress dengan KA 523 KRL Ekonomi Bogor-Jakarta, terjadi di perlintasan antara Stasiun KA Tebet-Manggarai di KM 11+200, Jumat (5/6) pukul 07.45 WIB.
Tidak ada korban jiwa pada kecelakaan ini, namun empat penumpang di antaranya mengalami luka ringan. Mereka terdiri dari dua penumpang, yaitu Amanah (80 tahun) dan Soleh (75 tahun), serta dua pegawai kontrak PT KA, Wawan (23 tahun) dan Purwanto. (roda kemudi)
Tabrakan antara KA KA 265 Depok Ekspress dengan KA 523 KRL Ekonomi Bogor-Jakarta, terjadi di perlintasan antara Stasiun KA Tebet-Manggarai di KM 11+200, Jumat (5/6) pukul 07.45 WIB. Tidak ada korban jiwa pada kecelakaan ini, namun empat penumpang di antaranya mengalami luka ringan.
Untuk menyelidiki kecelakaan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengutus empat investigatornya. Juru Bicara KNKT JA Barata menjelaskan, keempat investigator yang diutus instutisnya tersebut adalah Kun Sabdono (Investigator In Charge) Wahyudianto, Sunarto, dan Mumu.
”Mereka langsung dikirim ke lokasi kejadian tidak lama setelah informasi kecelakaan ini kami terima,” ujar Barata saat ditemui di Press Room Dephub, Jumat siang.
Barata menambahkan, keempat korban dalam kecelakaan tersebut adalah Amanah (80 tahun) dan Soleh (75 tahun), serta dua pegawai kontrak PT KA, Wawan (23 tahun) dan Purwanto. Amanah dan SOleh dilarikan ke RS Tebet. Sementara Wawan dievakuasi ke RS Agung Manggarai, dan Purwanto ke RS Cipto Mangun Kusumo.
Imbas dari peristiwa tersebut, jadwal perjalanan KA lain yang melintasi jalur tersebut tertahan hingga beberapa jam. Bahkan sejumlah penumpang KA lain yang dikonfirmasi mengatakan, keterlambatan perjalanan yang terjadi mencapai hingga sekitar 3 jam.
”Kereta saya ada di belakang KA yang tabrakan itu. Sampai sekarang saya masih tertahan di stasiun UI,” ujar Hendra Wibawa, warga Cibinong yang berkantor di kawasan Sudirman, Jakarta.
Menurut informasi yang diterima dari manajemen PT Kereta Api, lanjut Barata, proses evakuasi kereta yang bertabrakan hingga keluar dari rel tersebut selesai pukul 10.40 WIB. ”Evakuasi dilakukan menggunakan Kereta NR. Pukul 11.00, dua jalur di sana sudah bisa digunakan secara normal kembali. Sebelumnya, hanya digunakan satu jalur secara bergantian,” pungkasnya. (roda kemudi)
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan mencari altenatif mekanisme untuk menginvestigasi penyebab kecelakaan yang menimpa pesawat Mimika Air di Papua, Jumat (17/4) pekan silam. Hal itu dikarenakan pesawat nahas jenis Pilatus PC-6/B2-H4 Turbo Porter tersebut tak memiliki kotak hitam atau black box.
Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengungkapkan, ketiadaan perangkat penting yang terdiri dari perekam suara kokpit (Cockpit Voice Recorder/CVR) dan perekam data penerbangan (Flight Data Recorder/FDR) diketahui berdasarkan laporkan yang disampaikan pihak manajemen Mimika Air.
”Kondisi itu kemungkinan akan menyulitkan KNKT mengungkap penyebab kecelakaan. Tetapi kami akan mencari alternatif lain untuk memperoleh data penerbangan pesawat itu,” jelas Tatang, Senin (20/4) petang.
Menurut Tatang, salah satu alternatif yang akan digunakan KNKT dalam penyelidikanya adalah menggunakan analisa kesalahan struktur pohon urai. Untuk sementara saat ini KNKT telah memiliki informasi dan data bahwa kondisi pesawat dan pilot tidak bermasalah.
Indikasi awal yang telah diperoleh KNKT, lanjutnya, adalah bahwa tragedi jatuhnya pesawat Mimika Air di lereng Gunung Gergaji pegunungan Jaya Wijaya itu dikarenakan pilot tidak dapat melihat terrain (permukaan bukit) sehingga mengalami kecelakaan dalam penerbangan dari Distrik Ilaga ke Mulia.
”Istilahnya control flight into terrain (CFIT),” ujar Tatang.
Dari sisi regulasi, Tatang menambahkan, pihaknya akan memeriksa aturan terkait penempatan kotak hitam pada pesawat, terutama ICAO Annex 6 dan CASR (Civil Aviation Safety Regulation) 135. ”Kami akan lihat regulasi, apakah kotak hitam wajib atau tidak karena pesawat Pilatus adalah jenis kecil," paparnya.
Pilatus Tidak Wajib Pasang Kotak Hitam
Ketentuan dalam Annex 6 organisasi penerbangan sipil internasional ICAO (International Civil Aviation Organization) yang merupakan hasil konvensi internasional penerbangan sipil menyebutkan, FDR dan CVR diwajibkan dipasang pada pesawat-pesawat berbobot lepas landas maksimum (Maximum Take-Off Weight/MTOW) 5700 kilogram (5,7 ton).
Pada ketentuan itu, diatur pula, operator penerbangan yang memiliki pesawat dengan MTOW hingga 27000 kilogram (2,7 ton) harus memiliki dan mengelola program analisis data penerbangan (flight data analysis programme) sebagai bagian dari sistem manajemen keselamatan. Jika tidak memiliki, operator dapat bekerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki dan mengelola program tersebut.
Sedangkan aturan pada CASR 135 tentang kewajiban pemasangan perangkat perekam data digital pesawat sendiri mengacu pada butir Annex 6 ICAO. Disebutkan, CASR mengatur tentang standar keselamatan untuk pesawat-pesawat kecil dengan MTOW 5700 kilogram (5,7 ton) atau yang memiliki kapasitas tempat duduk hingga 10 penumpang tidak disyaratkan menambah perangkat FDR/CVR.
Sementara itu, menurut data resmi yang dirilis situs resmi pabrikan pembuatnya, Pilatus Aircraft Ltd (Swiss), PC-6/B2-H4 Turbo Porter adalah pesawat yang memiliki bobot mati seberat 1270 kg (1,2 ton) dengan bobot lepas landas maksimum sebesar 2800 kilogram (2,8 ton).
Dengan demikian, jika mengacu pada ketentuan Annex 6 ICAO tersebut, pesawat kecil dengan panjang 10,9 meter, tinggi 3.2 meter, dan rentang sayap selebar 15.87 meter ini, tidak diwajibkan atau tidak direkomendasikan untuk di-install dengan kotak hitam.
Perekam data penerbangan (FDR) adalah alat untuk mencatat parameter kinerja pesawat udara secara spesifik. Penyandingnya adalah perekam suara kokpit (CVR), yang merekam percakapan di kokpit, komunikasi radio di antara kru kokpit dan lain-lainnya, termasuk merekam percakapan dengan personalia kontrol lalu-lintas udara.
Di beberapa kasus, kedua fungsi sudah digabungkan ke dalam satu kesatuan, seperti yang adalah kasus dengan bentuk asli. Data yang dicatat oleh FDR tersebut biasa dipakai untuk pemeriksaan kecelakaan, juga untuk menganalisasi sistem keamanan udara keluar, degradasi fisik dan kinerja mesin. Perangkat yang sesungguhnya berwarna jingga terang ini biasanya diletakkan pada bagian ekor pesawat udara yang diyakini lebih mungkin selamat dari kecelakaan hebat.
Karena pentingnya keberadaan kedua perangkat tersebut dalam sebuah penyelidikan kecelakaan, ICAO pun dengan cermat merancang dan spesifikasi kotak hitam agar tahan terhadap dampak kecepatan tinggi dan panas api akibat kebakaran hebat. Tidak hanya untuk menelusuri kronologi sebuah kecelakaan pesawat, penemuan kembali kotak hitam juga berkontribusi terhadap upaya evakuasi korban selamat dan pencarian jasad manusia.(roda kemudi)
Kecelakaan pesawat Pilatus PC-6/B2-H4 Turbo Porter milik maskapai Mimika Air di lereng Gunung Gergaji, kawasan pegunungan Jaya Wijaya, Papua, Jumat (17/4), diduga kuat terjadi akibat pengaruh cuaca buruk.
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menjelaskan, pada saat itu pesawat beregistrasi PK-LTJ itu terbang pada ketinggian 11800 kaki (3596.64 meter) di atas permukaan laut. Kabut tebal yang tiba-tiba turun menutupi wilayah itu membuat pandangan pilot menjadi terbatas.
Pilot Capt. Nay Linnn Aung yang berkebangsaan Myanmar itu diduga tidak bisa melihat lingkungan wilayah yang diterbanginya. Hingga akhirnya pesawat pun menabrak lereng gunung dalam penerbangan dari Ilaga menuju Mulia tersebut.
”Kemungkinan pilot juga kurang mengenal medan dan tidak menemukan indikasi cuaca buruk itu. Keyakinannya untuk terus terbang kemungkinan didasari pada kondisi pesawat yang bagus dan jarak tempuh yang dekat, hanya 15 menit,” papar Menhub Jusman dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Sabtu (18/4).
Pada jumpa pers tersebut, Menhub didampingi Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bhakti S Gumay, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi, dan Deputi Badan SAR Nasional Waluyo Jati.
Pesawat yang membawa 8 penumpang termasuk seorang bayi dan dua kru itu, take off pukul 09.30 WIT dan direncanakan tiba di Mulia pada 09.45 WIT. Komunikasi antara awak pesawat nahas tersebut dengan bandara terputus setelah beberapa menit lepas landas, ketika melintasi lereng Gunung Gergaji yang berketinggian 13700 kaki (4175.76 meter) di atas permukaan laut.
Sinyal darurat pesawat Mimika Air yang hilang itu ditemukan oleh pesawat maskapai penerbangan Mission Aviation Fellowship (MAF) dan Merpati Nusantara Airline yang melintas wilayah itu, pada koordinat 030 52’’ South dan 1370 44’’ East (South East).
Evakuasi Korban Masih Sulit
Tim SAR yang mencari bangkai pesawat Mimika Air berhasil mengetahui titik jatuhnya pesawat jenis Pilatus PK-LTJ itu pada Sabtu pagi waktu setempat. Yaitu diperkirakan berada 17 NM sebelum Distrik Mulia.
Namun hingga kini, tim penyelamat yang menggunakan sebuah helikopter milik Airfast, sebuah Twin Otter Trigana serta sebuah pesawat MAF Cessna 2008, belum bisa mendekati lokasi untuk mengevakuasi korban karena buruknya cuaca dan sulitnya medan.
Tim pencari dan evakuasi udara tersebut hanya bisa melihat bangkai pesawat yang hancur di posisi lereng gunung. ”Dari posisi wing ke ekor, kelihatanya masih utuh,” jelas Menhub.
Menhub melanjutkan, Tim SAR yang terdiri dari berbagai elemen tersebut akan memusatkan pada pertolongan terhadap seluruh korban yang belum diketahui nasibnya itu.
Selain tim SAR, upaya pencarian dan penyelamatan juga dilakukan melalui jalur darat oleh pasukan TNI dan Polri yang dibantu masyarakat setempat. "Seluruh operasi SAR kini bermarkas di Ilaga dan diketuai Komandan Pangkalan Udara Timika Letkol Penerbang Easter Haryanto," sambung Eko Jati menambahkan.
Para korban yang belum ditemukan itu antara lain Capt. Nay Linnn Aung (pilot), Capt. Makmur Susilo (kopilot), Herman Snanfi (Ketua Panwas Puncak Jaya), Marthen Jitmau, Pdt. Melkias Kiwak, Wilem Mayau, Lasarus Wonda, Ruben Murib, Termina Murib, dan seorang balita anak pasangan Ruben dan Termina Murib.
Usia Pesawat Masih Sangat Muda
Menhub Jusman Syafii Djamal menjelaskan, usia pesawat rakitan Pilatus Aircraft Ltd. (Switzerland) yang digunakan Mimika Air terbilang sangat muda. Pesawat yang dibeli Pemda Mimika seharga Rp 25 miliar tersebut dirakit perusahaan pembuatnya pada Februari 2008, atau baru berusia sekitar 1 tahun.
Untuk melintasi kawasan pegunungan, pesawat bermesin PT6A-27 rakitan Pratt & Whitney, Kanada, yang bertenaga 550 SHP itu, bukanlah sebuah masalah. Pesawat yang dilengkapi tiga bilah baling-baling Hartzell tersebut mampu mengudara hingga ketinggian 25 ribu kaki (7620 meter).
Pilatus PC-6 Turbo Porter yang berkemampuan mendarat di landasan-landasan pendek dengan bobot pendaratan maksimum (Maximum Landing Weight) 2660 kilogram ini.
”Pesawat ini memang sangat cocok untuk wilayah Papua,” kata Menhub.
Menhub menambahkan, pesawat itu diregistrasi pertama kali di Indonesia dalam kondisi baru pada 18 September 2008 atas nama Mimika Air, dengan nomor pendaftaran 2512 dan registrasi PK-LTJ. Masa berlaku sertifikat pesawat (C of R) dan sertifikat kelaikan udara (C of A) berlaku hingga 17 September 2009.
Jam terbang pesawat pada saat kejadian, lanjut Menhub baru 542 jam. Pesawat dirawat sesuai dengan program perawatan pada setiap 100 jam terbang. Dengan demikian, selama dioperasikan pesawat sudah lima kali diperiksa, dan terakhir pada 5 April 2009. Tidak adanya keluhan atau temuan selama pemeriksaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pesawat tersebut dalam kondisi yang sangat baik untuk dioperasikan.
Kemudian terkait tidak adanya nama Mimika Air dalam daftar pemeringkatan kinerja maskapai periode Maret 2009 yang dilakukan Ditjen Perhubungan Udara, menurut Menhub, itu karena masa kerja Mimika Air yang belum genap enam bulan.
”Karena masa kinerjanya masih baru, dia belum saatnya masuk. Nanti setelah enam bulan, kita pasti akan masukkan dalam pemeringkatan dan akan kita audit seperti yang lain. Tetapi, meski begitu, bukan berarti tidak diawasi. Biar baru, pengawasan tetap dilakukan,” jelasnya.
Untuk awak pesawat, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti, juga tidak ditemukan adanya masalah terkait prosedural. Capt. Nay Linnn Aung yang berkebangsaan Myanmar tersebut memiliki jam terbang yang cukup lama, yaitu 2794 jam terbang. Demikian pula halnya kopilot Capt. Makmur Susilo, asal Indonesia, memiliki jam terbang sebanyak 2720 jam.
Lisensi pilot (Commercial Pilot Licence/CPL) yang dimiliki keduanya juga masih berlaku. Masa berlaku CPL Capt. Nay Linnn Aung berakhir hingga 11 Juni 2009, dan Capt. Makmur Susilo hingga 4 Agustus 2009. ”Dari sisi kesehatan juga tidak ada masalah. Masa kedaluwarsa medical check up keduanya sama dengan masa kedaluwarsa CPL,” ujar Herry Bhakti.
Berdasar pada fakta tersebut, Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengatakan, diindikasikan bahwa tragedi jatuhnya pesawat Mimika Air itu lebih karena faktor cuaca.
”Kalau pesawat bagus, juga pilotnya ada dan tidak bermasalah, faktor penyebab yang paling menonjol adalah cuaca. Pilot tidak dapat melihat terrain (permukaan bukit) sehingga mengalami kecelakaan. Ini dinamakan Control Flight Into Terrain (CFIT),” ujar Tatang.
Menurut Tatang, sebenarnya kasus CFIT ini jarang terjadi di Indonesia. Peristiwa serupa terakhir terjadi saat pesawat Garuda celaka di Sibolangit pada tahun 1990-an. ”Tetapi kita tidak boleh menyimpulkan dulu bahwa ini adalah CFIT, kita tunggu 1 bulan setelah penyelidikan," pungkasnya. (roda kemudi)
Pesawat Aviastar terjatuh dan meledak seketika di area pegununan di Desa Pike, Wamena, Papua, Kamis (9/4) sekitar pukul 07.20 waktu setempat. Seluruh kru yang berjumlah enam orang dinyatakan tewas dalam peristiwa itu.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang S Ervan menjelaskan, kecelakaan terjadi ketika pesawat yang tengah mengangkut 9 ton bahan bakar avtur itu tengah melakukan pendekatan untuk mendarat di Bandara Wamena. Pesawat diketahui terjatuh dan seketika terbakar ketika tengah mencari posisi untuk mendekati runway 15 yang akan didaratinya.
”Pesawat go around saat di final ketika akan landing di runway 15. Pesawat belok kanan untuk melakukan pengepasan posisi dan memasuki right base. Pada saat itulah, pesawat masuk awan dan seketika hilang kontak dengan menara pengawas,” papar Bambang di Jakarta, Kamis.
Melihat pesawat yang dibimbingnya hilang, lanjut Bambang, petugas di menara pengawas terus berusaha menghubungi pilot, mengingat saat itu seharusnya pesawat sudah berada di tempatnya mendarat. ”Tapi tidak ada jawaban. Selanjutnya, petugas melihat ada asap membumbung di right base yang berada di kawasan Gunung Pike itu,” pungkasnya.
Pesawat dikabarkan terjatuh antara pukul 07.00-07.20 waktu setempat. Saat ini, menurut Bambang, sejumlah investigator Ditjen Perhubungan Udara Dephub akan segera mengirimkan tim teknis untuk menyelidiki kasus tersebut.
Dikonfirmasi terpisah, Jurubicara KNKT JA Barata mengatakan, pihaknya mengutus tiga orang investigator ke lokasi yang berjarak antara 5-10 kilometer dari Bandara Wamena itu. Mereka adalah Capt. Nurcahyo (Investigator In Charge/IIC), Capt. Chaeruddin, dan Norbertus (teknisi).
”Capt. Nurcahyo dan Capt. Chaeruddin, berangkat Kamis malam ini. Sedangkan Norbertus langsung menuju lokasi, karena posisinya ada di Papua,” ujar Barata, di Jakarta, Kamis siang.
Data yang diperoleh Roda Kemudi menyebutkan, pesawat nahas bernomor registrasi PK-BRD itu dioperasikan PT Aviastar Mandiri sejak 4 Desember 2007. Pesawat model BAe 146-300 tipe B463 rakitan British Aerospace tahun 1990 ini dilengkapi empat mesin jet.
Perusahaan penerbangan charter/borongan ini sendiri baru saja didaulat Ditjen Perhubungan Udara berada pada Kategori II dalam penilaian kinerja operator penerbangan untuk periode ke-IX Maret 2009.
Menurut Barata, belum diketahui pasti penyebab jatuhnya pesawat yang mengangkut avtur dari Bandara Sentani, Jayapura, tersebut. Namun, dia memastikan bahwa seluruh kru yang berada di dalam pesawat tidak ada satu pun yang selamat.
”Mereka yang meninggal adalah kru aktif Capt. Lukman Hakim dan Capt. Bayu Sigit, seorang engineer bernama Rahmat, load master Dicky, serta dua pramugari bernama Rani dan Wilda. Status mereka semua meninggal dunia,” sebut Barata.
Dijadwalkan Angkut Gubernur Papua
Usai menurunkan kargo yang dibawanya di bandara Wamena, pesawat dijadwalkan utuk langsung terbang kembali menuju Jayapura dengan membawa penumpang. Diperoleh informasi, salah satu penunmpang yang akan dibawa pesawat nahas ini dari Wamena adalah Gubernur Papua Barnabas Suebu.
Pesawat diindikasikan menabrak puncak Gunung Pike ketika masuk ke dalam awan. Mengingat kondisi cuaca saat itu dalam keadaan berkabut sehingga membuat jarak pandang pilot menjadi sangat terbatas.
Direktur Utama PT Aviastar Mandiri Bayu Susanto dalam keterangan tertulisnya mengatakan, semua keluarga pilot dan kru yang mengalami musibah telah dihubungi. Pihaknya juga telah melakukan koordinasi untuk pemulangan jenazah ke Jakarta.
"Evakuasi sampai saat ini masih dilakukan. Rencananya nanti malam kami bersama KNKT dan Ditjen Hubud akan menurunkan tim ke Wamena," ujarnya.
Dari hasil evakuasi pagi ini telah ditemukan peralatan FDR (flight data recorder) yang menjadi bagian dari kotak hitam pesawat (black box). Sedianya perangkat yang memuat data rekaman terakhir awak kabin itu akan digunakan sebagai bahan penyelidikan guna mencari penyebab kecelakaan lebih lanjut.
Untuk diketahui, pada 30 Januari 2008 silam pesawat Aviastar lain berjenis DHC-6 Twin Otter juga sempat mengalami kecelakaan. Pesawat rakitan Kanada yang saat itu mengangkut sebanyak 15 penumpang tersebut tergelincir di Bandara Sugapa, Kabupaten Paniai, Papua. Satu dari 15 penumpang yang dibawanya meninggal dunia, dan dua lainnya menderita luka berat, akibat peristiwa tersebut. (roda kemudi)
Departemen Perhubungan akan mengetatkan pengawasan terhadap pesawat-pesawat berusia tua. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas maskapai penerbangan Indonesia. Kebijakan ini diambil menyusul kembali maraknya permasalahan yang muncul melibatkan pesawat berusia lanjut tersebut.
”Kita akan meningkatkan lagi pengawasan terhadap semua maskapai-maskapai yang menggunakan pesawat-pesawat yang kita anggap memerlukan perhatian terhadap perawatan pesawat terbang,” tegas Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal kepada wartawan di Jakarta, Selasa (24/3).
Menhub menambahkan, pengecekan mendalam terhadap pesawat-pesawat yang mengalami masalah menjadi salah satu agenda pokok dalam program peningkatan pengawasan yang disebutkannya itu. ”Contohnya seperti yang dialami (pesawat) Sriwijaya Air. Sebenarnya sudah direkomendasikan lebih mengganti pesawat-pesawatnya yang jenis 200-nya itu (Boeing 737-200, Red) dengan jenis yang lebih baru. Waktu dulu, rekomendasi saya lebih kepada alasan bahan bakar terlalu boros,” ungkap mantan Dirut PT Dirgantara Indonesia tersebut.
Pesawat Sriwijaya Air yang maksudkan Menhub adalah jenis Boeing 737-300 yang memutuskan mengalihkan pendaratan ke Bandara Hang Nadim, Batam, Senin (23/3) lalu. Pesawat yang membawa 108 penumpang tersebut terbang dari Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang pada pukul 07.10 WIB. Pesawat itu direncanakan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, pada 08.40 WIB.
Beberapa menit setelah terbang, mesin nomor satu (sebelah kiri) pesawat beregistrasi PK-CJN itu diketahui tidak berfungsi. Untuk mengantisipasi risiko, pilot pun memutuskan untuk mengalihkan pendaratan ke Bandara Hang Nadim, Batam.
Menurut Menhub, dirinya telah meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi dan investigator Direktorat Kelaikan Udara dan Pengawasan Pesawat Udara (DKUPPU) Direktorat Perhubungan udara Dephub untuk melakukan penyelidikan.
Jika dari penyelidikan kedua institusi itu ditemukan ketidakberesan yang menyangkut hal teknis, kata Menhub, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan melakukan aksi seperti yang dilakukan terhadap pesawat jenis MD-90 milik Lion Air. Yakni menghentikan sementara operasi pesawat yang bersangkutan.
”Supaya hal-hal semacam ini dapat dihindari, kita ingin membangun suatu suasana bahwa pesawat terbang itu dipelihara dengan baik,” tegas Menhub.
”Kemudian kalau pesawat dinyatakan laik terbang, tidak dinyatakan sering mengalami apa yang disebut abort to take-off, return to base, dan lain-lain. Kita harapkan setiap pesawat yang beroperasi dipelihara dengan baik,” harapnya.
Terkait hal itu, Menhub meminta setiap maskapai untuk meningkatkan prosedur dan intensitas perawatan pesawat, khususnya pesawat-pesawat yang tergolong berusia tua. Karena menurutnya, kelaikan terbang sebuah pesawat udara tidak dipengaruhi oleh usia dan frekwensi terbang, meski dari sisi operasional dinilai kurang efisien bila dibandingkan dengan pesawat berusia lebih muda.
”Sebetulanya kalau mereka mau memelihara pesawat yang tua seperti itu, saratnya satu: harus melakukan perawatan yang lebih baik lagi. Kalau perawatan pesawat terbangnya kurang baik, maka akan mengalami hal semacam ini (masalah, Red). Sehingga akan menyebabkan penumpang akhirnya menjauhi maskapai itu,” paparnya.(roda kemudi)
Pesawat Batavia Air jenis Airbus 320 dengan nomor penerbangan E7P 636 rute Jakarta-Manado mengalami kebocoran avtur saat akan lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (24/3) pagi. Akibatnya, pesawat yang dijadwalkan berangkap pukul 08.45 WIB tersebut batal terbang dan kembali ke apron.
Insiden terjadi ketika pesawat didorong ke belakang (push back) pada pukul 08.35 WIB. Tahap ini biasa dilakukan sebelum pesawat masuk landasan pacu untuk bersiap terbang. Sebanyak 159 penumpang dialihkan ke pesawat jenis Boeing 737-400 pengganti yang berangkat ke Manado sekitar pukul 10.20 WIB. Sedangkan pesawat Airbus 320 yang mengalami insiden langsung diperbaiki.
"Saat itu ada masalah di sistem fuel transfer," kata Juru Bicara Batavia Air Eddy Haryanto, saat dihubungi wartawan, Selasa (24/3). ”Sekarang, pesawatnya sudah selesai diperbaiki, dan sudah dinyatakan laik terbang kembali," imbuhnya.
Kepala Humas Departemen Perhubungan, Bambang Ervan, menyatakan persoalan ini masuk dalam kategori insiden dan belum serius. "Sebab itu mereka membatalkan penerbangan, dan ini bukan gagal terbang," tegas Bambang.
Pembatalan terbang ini, jelasnya, merupakan salah satu pemenuhan prosedur keselamatan penerbangan akibat ada persoalan teknis. Kendati demikian, Bambang menilai, insiden ini harus menjadi perhatian manajemen perusahaan terkait. "Internal Batavia Air wajib melakukan pemeriksaan terkait peristiwa ini,” ujarnya.
Bambang menambahkan, persoalan ini langsung ditangani oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Dephub. "Tapi, KNKT tidak dilibatkan (dalam pemeriksaan), karena kategorinya masih insiden," lanjutnya.
Pernyataan senada dilontarkan juru bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata. Dijelaskan, tugas pokok KNKT adalah memeriksa kasus berkategori insiden serius atau kecelakaan saja. Namun, bukan berarti KNKT tidak dapat melibatkan diri dalam perkara tersebut. "Misalnya ada permintaan dari Departemen Perhubungan," jelas Barata.
Meski tidak terlibat langsung dalam proses investigas, Barata menambahkan, KNKT tidak akan menutup mata. Menurutnya KNKT tetap memonitor insiden tersebut. ”Kami bisa meminta hasil pemeriksaannya ke Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan maskapainya sebagai dokumen,” ujarnya. (roda kemudi)
Pesawat milik maskapai penerbangan Sriwijaya Air melakukan pengalihan pendaratan (divert) salah satu penerbangannya ke Bandara Hang Nadim, Batam, Senin (23/3). Sedianya, pesawat Boeing 737-300 yang terbang dari Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang tersebut mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.
Juru Bicara Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang menyatakan, pengalihan pendaratan dilakukan karena beberapa menit setelah pesawat lepas landas diketahui ada mesin yang tidak berfungsi.
”Setelah terbang, engine nomor satu (sebelah kiri) diketahui tidak berfungsi. Sedangkan engine satunya (sebelah kanan) masih normal. Karena itu diputuskan untuk divert ke Bandara Hang Nadim Batam,” kata Hanna saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (23/3).
Pesawat dengan kode registrasi PK-CJN itu, menurut Hanna langsung diperbaiki di Hang Nadim. Sementara penerbangan sebanyak 108 penumpangnya dialihkan ke penerbangan lain dari Batam ke Jakarta . “Sebagian telah diterbangkan dan sebagian lagi menyusul, menunggu penerbangan selanjutnya,” ujar Hanna.
Pesawat yang divert tersebut lepas landas dari Tanjungpinang sekitar pukul 07.10 WIB dan direncanakan tiba di Cengkareng sekitar pukul 08.40 WIB. Pesawat tersebut berhasil melakukan pendaratan dengan aman di Batam.
“Sesuai dengan prosedur, kami melakukan pendaratan saat ada masalah ke bandara terdekat. Semua penumpang selamat karena pendaratan tidak masalah. Pesawat saat ini juga tengah diperiksa oleh teknisi internal kami,” ujarnya.
Bukan Pendaratan Darurat
Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Komite Keselamatan Transportasi JA Barata mengatakan, peristiwa yang dialami pesawat Sriwijaya tersebut masuk dalam kategori insiden bukan kecelakaan. ”Sehingga kami tidak mengirimkan investigator untuk menyelidikinya,” jelasnya.
Dia menambahkan, pendaratan itu juga tidak masuk dalam kategori emergency landing atau pendaratan darurat. ”Meski hanya dengan satu mesin dan bukan di tempat yang dia tuju, itu tidak tergolong dalam pendaratan darurat. Karena pesawat itu masih dapat mendarat dengan safety atau aman untuk mendarat,” sambung Barata. (roda kemudi)
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengungkapkan, hal utama yang paling dibutuhkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saat ini adalah peningkatan konsolidasi internal. Konsolidasi tersebut menjadi modal pokok yang harus dimiliki KNKT untuk menuju proses pemandirian, di samping tunjangan pendanaan dan fasilitas.
”Harus ada semacam inti untuk meningkatkan kapasitasnya,” ujar Menhub kepada wartawan akhir pekan lalu. Menhub juga menyatakan, dirinya mendukung apabila KNKT harus menjadi organisasi independen terpisah dari Dephub dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden, sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Penerbangan. ”Kalau saya senang-senang saja,” imbuhnya.
Menhub menilai, kerja sama yang dilakoni KNKT dengan lembaga-lembaga serupa seperti Biro Keselamatan Transportasi Australia, ATSB, dan lembaga serupa milik Jepang, JTSB, saat ini merupakan hal positif yang harus mendapatkan apresiasi dari seluruh komponen masyarakat. ”Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan kualitas investigasi KNKT bisa berkembang dan semakin maju,” ujarnya.
Kerja sama yang dijalankan KNKT dengan ATSB merupakan bagian dari program bantuan bidang keselamatan transportasi. Untuk mendukung program ini, Negeri Kanguru tersebut mengucurkan bantuan dengan nilai total mencapai USD 24 juta. Salah satu kerja sama yang dijalin antara lain pertukaran tenaga ahli sebagai bagian dari program pendidikan.
Saat ini, menurut Menhub, sejumlah tenaga ahli KNKT tengah berada di Australia untuk memelajari proses pembacaan black box. ”Laboratoriumnya kita sudah punya. Black box reader KNKT sudah ter-install. Kita tinggal menunggu tenaga ahli yang kita sekolahkan itu datang. Insya Allah tahun ini (laboratorium black box KNKT) sudah bisa beroperasi,” imbuhnya.
Dipaparkan Menhub, sedianya laboratorium pemeriksaan kotak hitam ini menjadi alat pendukung KNKT untuk menyelidiki berbagai kasus kecelakaan udara. Bahkan, laboratorium ini juga telah dirancang untuk mampu membaca kotak hitam berbagai tipe pesawat. Selama laboratorium black box itu belum dapat difungsikan, KNKT memanfaatkan fasilitas pembacaan kotak hitam pada institusi serupa di Singapura maupun Australia.
Program kerja sama dengan lembaga keselamatan transportasi Jepang, JTSB, lanjut Menhub, tidak hanya dilakoni untuk meningkatkan kapasitas KNKT. Di sisi lain, Jepang juga menargetkan mampu menyerap pengalaman KNKT terutama di bidang investigas kecelakaan laut.
Program kerja sama yang difasilitasi Japan International Cooperate Agency (JICA) itu meliputi pendidikan investigasi kedua belah pihak, pertukaran tenaga ahli, bantuan pendanaan dan sarana, serta peningkatan kapasitas. Namun berapa nilai bantuan yang berikan melalui program ini, hingga saat ini pihak Jepang belum memublikasikannya.
Pemerintah, lanjut Menhub, dengan katerbatasan yang dimiliki memang belum bisa optimal memberikan dukungan dari sektor pendanaan dan sarana, sebagaimana diungkapkan Ketua JTSB Norihiro Goto kepada wartawan beberapa waktu sebelumnya.
Goto menilai, perhatian dan dukungan moral yang diberikan pemerintah Indonesia kepada KNKT melebihi perhatian yang diberikan pemerintahnya terhadap JTSB. Namun, dia menyayangkan, dukungan tersebut tidak diiringi pemberian tunjangan pendanaan dan sarana yang maksimal. Di sisi lain, Goto juga menyoroti masih sedikitnya jumlah sumber daya manusia yang dimiliki KNKT untuk menjalankan perannya.
Menjawab hal itu, Menhub mengakui adanya persolan minimnya tunjangan dana dan prasarana KNKT. ”Karena itulah kerja sama ini dilakukan. Tujuannya untuk itu, agar KNKT bisa meningkatkan kapasitas untuk memaksimalisasikan perannya dalam investigasi kecelakaan,” ujar Menhub.
”Tetapi, sekarang anggaran setiap tahunnya sudah meningkat. Artinya mulai ada kesadaran pemerintah untuk memperbaiki itu. Tahun lalu, Rp 20 miliar dan tahun ini Rp 15 miliar,” imbuhnya.
Menhub menambahkan, kendati masih memiliki sejumlah keterbatasan, terjalinnya kerja sama antara Jepang dan Australia tersebut merupakan bentuk apresiasi kedua negara atas keberhasilan yang telah dicapai KNKT. Di antaranya adalah antara lain sudah berhasil dieksposnya beberapa kasus kecelakaan penerbangan. (roda kemudi)
Badan Keselamatan Transportasi Jepang (Japan Transport Safety Board/JTSB) memuji perhatian dan semangat yang dimiliki pemerintah Indonesia untuk membenahi sektor keselamatan transportasi. Bahkan, semangat tersebut dinilai lebih tinggi dari yang dimiliki pemerintah Jepang.
”Tetapi sayang, (semangat) itu tidak diiringi oleh pemberian tunjangan pendanaan dan pengadaan sarana yang memadai. Tunjangan yang diberikan pemerintah Indonesia utuk kegiatan investigasi kecelakaan masih sangat terlalu kecil,” ujar Ketua JTSB Prof. Norihiro Goto kepada pers, usai mengikuti acara Indonesia and Japan Transport Safety Round Table Meeting di Hotel Nikko Jakarta, Selasa (17/3) petang. Pertemuan tersebut digelar untuk menginventarisasi masalah yang dihadapi kedua institusi.
Berbeda dengan Jepang, lanjut Goto, pemerintahnya mengalokasikan tunjangan pendanaan dan sarana yang cukup kepada lembaga yang dipimpinnya itu. Menurutnya, perbedaan itulah yang menjadi salah satu alasan JTSB memberikan bantuannya semaksimal mungkin kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Bantuan yang akan diberikan melalui perantara lembaga bantuan dan kerja sama internasional Jepang, Japan International Cooperation Agency (JICA) tersebut, tak hanya dalam hal pendanaan untuk mendukung operasional KNKT. Bantuan dalam hal pengadaan sarana dan prasarana penunjang kegiatan-kegiatan investigasi KNKT di lapangan juga akan diupayakan JTSB untuk diberikan.
Bantuan di luar pendanaan itu antara lain adalah bantuan program pendidikan bagi para investigator, peralatan penunjang penyelidikan, serta program sosialisasi untuk memberikan pemahaman kepada seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya sebuah investigasi terhadap kecelakaan.
Sosialisasi, menurut Goto, menjadi salah satu program kerja sama yang akan difokuskan JTSB dan KNKT. Dia menilai, hingga saat ini masih banyak yang belum memahami akan pentingnya sebuah investigasi terhadap kecelakaan dilakukan.
Dijelaskan Goto, investigasi kecelakaan merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kecelakaan dengan mengantisipasi terjadinya kasus yang sama di kemudian hari. Keuntungan yang dihasilkan dari investigasi kecelakaan tersebut juga begitu besar, dan tidak hanya terkait pada sektor transportasi. Tetapi turut pula memberikan pengaruh besar pada kegiatan perekonomian dan penyelenggaraan negara.
”Investigasi ini sangat penting. Kita mencari penyebab mengapa kecelakaan itu bisa terjadi dan memikirkan langkah-langkah apa yang harus dilakukan agar tidak terulang lagi,” jelasnya.
Goto juga menilai, di luar permasalahan pendanaan dan sarana penunjang, penyebab lain belum optimalnya proses pelaksanaan investigasi kecelakaan di Indonesia adalah karena masih adanya kesenjangan pemahaman terhadap investigasi kecelakaan.
Menurutnya, tak hanya anggota masyarakat, para pemegang kebijakan juga masih ada yang belum memiliki pemahaman yang sama akan hal tersebut. Di negerinya, kata Goto, juga masih banyak masyarakat yang belum memahami mengapa investigasi kecelakaan mesti dilakukan.
”Memberikan pemahaman ini memang bukan pekerjaan yang mudah. Ini sangat susah. Tetapi untungnya, pemerintah kami mendukung penuh JTSB,” imbuhnya.
Pada sisi lain, Goto juga menyoroti keterlibatan pihak kepolisian terhadap proses penyelidikan kecelakaan di Indonesia. Acapkali kepolisian republik ini terkesan terburu-buru dalam mengambil kesimpulan tentang sebuah penyebab kecelakaan. Di mana kesimpulan tersebut banyak yang langsung mengarah pada objek manusia yang terlibat sebagai penyebab utama kecelakaan.
”Padahal, mayoritas kecelakaan itu terjadi adalah akibat sistem yang tidak bekerja secara optimal. Memang ada unsur manusia, tetapi tidak selamanya unsur ini menjadi mayoritas,” jelasnya.
Oleh sebab itulah, dia menyayangkan ketika dalam sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi polisi langsung terjun dan mengambil alih penyelidikan tanpa berkoordinasi dengan lembaga investigasi kecelakaan seperti KNKT. Hingga pada akhirnya, kesimpulan itu bermuara pada penetapan seseorang sebagai tersangka yang harus diadili.
"Kalau polisi langsung terlibat untuk mengambil kesimpulan, untuk apa KNKT dibuat?” ujarnya. ”Di Jepang, polisi juga ikut terjun dalam sebuah peristiwa kecelakaan. Kami sering sama-sama berada di satu lokasi, tetapi tujuan penyelidikan kami berbeda. Polisi punya metode investigasinya sendiri, begitu juga kami,” imbuh Goto.
Dia berharap, melalui kerja sama ini, Indonesia dan Jepang bisa sama-sama menarik keuntungan dalam menyelesaikan masalah terkait proses investigasi kecelakaan. ”Kami sendiri akan banyak menimba ilmu terkait proses penyelidikan kecelakaan di laut kepada Indonesia. Karena Indonesia memiliki pengalaman yang lebih luas dari pada kami untuk sektor ini. Begitu pula untuk moda udara, kereta dan jalan raya, kita akanbertukar pengalaman,” pungkasnya. (roda kemudi)
Pesawat MD-90 bernomor registrasi PK-LIL milik maskapai Lion Air yang tergelincir di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta Senin lalu, diindikasikan tidak akan diterbangkan lagi.
”Tingkat kerusakannya sangat parah,” jelas Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Yurlis Hasibuan, saat dihubungi, Jumat (13/3).
Meski rusak berat, Yurlis menambahkan, bukan berarti pesawat nahas yang tergelincir saat mengangkut 166 penumpang dari Makassar tujuan Jakarta itu tidak bisa diperbaiki.
”Prinsipnya masih bisa (diperbaiki), tetapi biayanya pasti akan sangat besar sekali. Karena itu kemungkinannya pesawat tidak akan dioperasikan lagi atau total lost,” imbuh dia.
Kepastian total lost itu sendiri menurutnya bergantung pada keputusan perusahaaan asuransi penjamin. Yurlis menyarankan kepada manajemen Lion Air untuk melakukan klaim kepada pihak asuransi mengingat pesawat sudah tidak mungkin bisa diterbangkan lagi dan harus diserahkan kepada pemiliknya.
”Informasi yang kami terima (klaim asuransi) itu sudah dilakukan, saat ini pihak Lion sedang hitung-hitungan,” lanjut Yurlis.
Dephub saat ini juga sedang memeriksa empat pesawat MD-90 milik Lion Air lain yang di-grounded sejak 11 Maret 2009. Penghentian pengoperasian rakitan 1990-an tersebut menyusul kecelakaan tergelincir di Soekarno-Hatta dan pendaratan darurat tanpa roda depan di Hang Nadim, Batam.
Yurlis enggan menjelaskan perkembangan hasil pemeriksaan yang dilakukan timnya. ”Nanti saja, Pak Dirjen (Perhubungan Udara Herry Bakti) yang akan memberikan keterangannya. Saat ini pemeriksaan masih kita lakukan,” jelasnya.
Namun, dia menjamin bahwa waktu pemeriksaan tersebut tidak akan berjalan lebih lama dari yang direncanakan, yaitu tiga hari. ”Kalau di-grounded terus, (Lion Air) akan rugi banyak. Soal ini akan didiskusikan dulu dengan dirjen bagaimana baiknya," lanjutnya.
Terpisah, Juru Bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata mengatakan, saat ini pihaknya telah mengumpulkan sebagian besar data-data kecelakaan MD-90 di Cengkareng itu. Termasuk mengundang sejumlah pilot senior untuk berkonsultasi tentang pesawat MD-90.
”Untuk kepentingan investigasi, KNKT sudah mengambil banyak sampel dari pesawat yang rusak untuk diteliti lebih lanjut,” jelasnya. Sampel-sampel itu antara lain terdiri dari bagian-bagian pesawat yang rusak dan patah, data-data seperti log sheet pesawat, hingga black box. (roda kemudi)
Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI AL, Kesatuan Pengamanan Laut dan Pantai (KPLP), Polisi Air Polda Metro Jaya dan Bakorkamla, sepakat untuk memperpanjang pencarian terhadap korban KM Rimba III hingga dua hari ke depan.
Sejak karam pada peristiwa tabarakan dengan kapal Harapan Jaya, Kamis 5 Maret 2009 lalu, pencarian hingga hari ini memasuki hari ketujuh. ”Berdasarkan rapat, kami sepakat pencarian akan diperpanjang dua hari lagi," jelas Kepala Tim SAR Dadang Arkuni, kepada wartawan, Rabu (11/3).
Dengan demikian, proses pencarian korban masih akan berlangsung hingga Jumat (13/3) mendatang. Perpanjangan itu sendiri didasari pada analisa Tim SAR gabungan yang masih menyakini masih adanya korban yang masih berada di dalam kapal KM Rimba yang karam itu.
Dalam pencarian lanjutan tersebut, tim akan melakukan pemotongan pada bagian badan kapal. Hal tersebut untuk memudahkan pelaksanaan evakuasi korban, karena jika melewati tangga dan ruang sempit di dalam kapal, waktu yang dibutuhkan untuk mengevakuasi akan jauh lebih lama.
Hingga saat ini, dari tujuh korban KM Rimba Tiga, sudah tiga dari korban hilang yang berhasil dievakuasi dan diidentifikasi. Masih ada satu korban yang sudah diketahui lokasi dan masih dalam proses evakuasi tim penyelam.
Ketiga korban tersebut ditemukan tewas terjebak dalam kamar mesin kapal yang tenggelam di kedalaman 30 meter tersebut. Dadang menjelaskan, dari ketiga korban tersebut baru satu yang berhasil dievakuasi. Proses evakuasi dua korban lain terpaksa dihentikan lantaran kondisi alam yang semakin buruk. Para penyelam tak mau mengambil risiko karena gelombang semakin tinggi dan angin juga sangat kencang. Karena alasan itulah waktu penyelamatan pun diperpanjang.
Selain kondisi alam yang tak bersahabat, para penyelam juga menemui kendala teknis di dalam bangkai kapal. Penyelaman di dalam bangkai kapal terhalang banyaknya barang yang ikut karam dan banyak pintu kamar yang terkunci.
Menurut Dadang, aktivitas pencarian korban itu melibatkan sekitar 80 penyelam yang bekerja dengan sistem shift (bergantian) selama 24 jam. Sekali menyelam, kata Dadang, sedikitnya dilibatkan lima orang personel dengan waktu penyelamatan rata-rata 30-an menit.
Polisi Dahului KNKT
Sejauh ini, Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) telah memeriksa enam orang terkait tabrakan KM Harapan Jaya dengan KM Rimba Tiga di perairan Kepulauan Seribu. Keenam orang tersebut diperiksa sebagai saksi. Hingga hari keempat pasca tenggelamnya KM Rimba Tiga, polisi juga telah memeriksa 10 orang saksi.
Polisi memuat kesimpulan sementara bahwa penyebab tabrakan disebabkan kelalaian anak buah kapal. Satu orang saksi kunci kecelakaan ini, Mualim II, belum diperiksa karena masih trauma. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Zulkarnain Adinegara mengatakan, polisi sudah bisa menentukan siapa yang disalahkan dalam kejadian ini.
Namun, pihaknya masih menunggu dari sahbandar dan Mahkamah Pelayaran. "Memang tidak ada ketentuan yang mengatur polisi harus menunggu Mahkamah Pelayaran. Namun kita saling menghargai instansi lain yang masih bekerja," katanya.
Ditpol Air Polda Metro Jaya Edion menjelaskan mualim jaga dari KM Harapan Jaya yang bertugas di dek kapal sejak pukul 20.00 sampai 24.04 WIB diperiksa secara intensif karena mengetahui penyebab kejadian pada waktu tersebut. Sementara yang terjaga di dek kapal, ada perwira jaga dan dua juru mudi juga telah diperiksa.
Sementara itu, Komite Keselamatan Nasional Transportasi (KNKT) tetap pada prinsip bahwa pencarian sebab-sebab kecelakaan baru akan dilakukan setelah kondisinya dianggap memungkinkan. "Kita dahulukan dulu pencarian korban. Kita juga harus mengerti kondisi psikologis para korban, tidak mungkin kan mereka langsung kita tanya-tanya apalagi interogasi," ujar Juru Bicara KNKT JA Barata yang dikonfirmasi terpisah. (roda kemudi)
------------- Inilah daftar awak kapal KM Rimba yang masih belum ditemukan: 1. Rais (oiler) 2. Bambang Jatmiko (Oiler). 3. Khairul Anwar (Kadet mesin). 4. Mario Oktavianus (Kelas 1).(DIP)
Blog ini dibuat untuk menyiarkan informasi atas fakta dan penyikapan isu dari sebuah informasi terkait sektor transportasi yang sedang berkembang.
Informasi yang dimuat dalam blog ini adalah benar adanya, didasari pada hasil wawancara langsung pengelola blog dengan nara sumber, dan atau mengutip informasi dari sumber lain, blog lain, maupun media informasi lain yang dianggap kompeten.
Seluruh pemberitaan dalam blog ini dibuat tidak untuk secara sengaja memojokkan maupun untuk menyenangkan pihak-pihak tertentu.
Apa yang termuat dalam blog ini tidak dapat digunakan oleh pihak manapun sebagai rekomendasi dan atau pembenaran atas sebuah kesaksian atas perkara, sengketa, dan atau menjadikannya dasar pada sebuah proses penuntutan hukum di lembaga atau badan hukum negara manapun.