Pages

Showing posts with label investigasi. Show all posts
Showing posts with label investigasi. Show all posts

Monday, March 23, 2009

Menhub: KNKT Butuh Peningkatan Konsolidasi Internal

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengungkapkan, hal utama yang paling dibutuhkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saat ini adalah peningkatan konsolidasi internal. Konsolidasi tersebut menjadi modal pokok yang harus dimiliki KNKT untuk menuju proses pemandirian, di samping tunjangan pendanaan dan fasilitas.

”Harus ada semacam inti untuk meningkatkan kapasitasnya,” ujar Menhub kepada wartawan akhir pekan lalu. Menhub juga menyatakan, dirinya mendukung apabila KNKT harus menjadi organisasi independen terpisah dari Dephub dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden, sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Penerbangan. ”Kalau saya senang-senang saja,” imbuhnya.

Menhub menilai, kerja sama yang dilakoni KNKT dengan lembaga-lembaga serupa seperti Biro Keselamatan Transportasi Australia, ATSB, dan lembaga serupa milik Jepang, JTSB, saat ini merupakan hal positif yang harus mendapatkan apresiasi dari seluruh komponen masyarakat. ”Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan kualitas investigasi KNKT bisa berkembang dan semakin maju,” ujarnya.

Kerja sama yang dijalankan KNKT dengan ATSB merupakan bagian dari program bantuan bidang keselamatan transportasi. Untuk mendukung program ini, Negeri Kanguru tersebut mengucurkan bantuan dengan nilai total mencapai USD 24 juta. Salah satu kerja sama yang dijalin antara lain pertukaran tenaga ahli sebagai bagian dari program pendidikan.

Saat ini, menurut Menhub, sejumlah tenaga ahli KNKT tengah berada di Australia untuk memelajari proses pembacaan black box. ”Laboratoriumnya kita sudah punya. Black box reader KNKT sudah ter-install. Kita tinggal menunggu tenaga ahli yang kita sekolahkan itu datang. Insya Allah tahun ini (laboratorium black box KNKT) sudah bisa beroperasi,” imbuhnya.

Dipaparkan Menhub, sedianya laboratorium pemeriksaan kotak hitam ini menjadi alat pendukung KNKT untuk menyelidiki berbagai kasus kecelakaan udara. Bahkan, laboratorium ini juga telah dirancang untuk mampu membaca kotak hitam berbagai tipe pesawat. Selama laboratorium black box itu belum dapat difungsikan, KNKT memanfaatkan fasilitas pembacaan kotak hitam pada institusi serupa di Singapura maupun Australia.

Program kerja sama dengan lembaga keselamatan transportasi Jepang, JTSB, lanjut Menhub, tidak hanya dilakoni untuk meningkatkan kapasitas KNKT. Di sisi lain, Jepang juga menargetkan mampu menyerap pengalaman KNKT terutama di bidang investigas kecelakaan laut.

Program kerja sama yang difasilitasi Japan International Cooperate Agency (JICA) itu meliputi pendidikan investigasi kedua belah pihak, pertukaran tenaga ahli, bantuan pendanaan dan sarana, serta peningkatan kapasitas. Namun berapa nilai bantuan yang berikan melalui program ini, hingga saat ini pihak Jepang belum memublikasikannya.

Pemerintah, lanjut Menhub, dengan katerbatasan yang dimiliki memang belum bisa optimal memberikan dukungan dari sektor pendanaan dan sarana, sebagaimana diungkapkan Ketua JTSB Norihiro Goto kepada wartawan beberapa waktu sebelumnya.

Goto menilai, perhatian dan dukungan moral yang diberikan pemerintah Indonesia kepada KNKT melebihi perhatian yang diberikan pemerintahnya terhadap JTSB. Namun, dia menyayangkan, dukungan tersebut tidak diiringi pemberian tunjangan pendanaan dan sarana yang maksimal. Di sisi lain, Goto juga menyoroti masih sedikitnya jumlah sumber daya manusia yang dimiliki KNKT untuk menjalankan perannya.

Menjawab hal itu, Menhub mengakui adanya persolan minimnya tunjangan dana dan prasarana KNKT. ”Karena itulah kerja sama ini dilakukan. Tujuannya untuk itu, agar KNKT bisa meningkatkan kapasitas untuk memaksimalisasikan perannya dalam investigasi kecelakaan,” ujar Menhub.

”Tetapi, sekarang anggaran setiap tahunnya sudah meningkat. Artinya mulai ada kesadaran pemerintah untuk memperbaiki itu. Tahun lalu, Rp 20 miliar dan tahun ini Rp 15 miliar,” imbuhnya.

Menhub menambahkan, kendati masih memiliki sejumlah keterbatasan, terjalinnya kerja sama antara Jepang dan Australia tersebut merupakan bentuk apresiasi kedua negara atas keberhasilan yang telah dicapai KNKT. Di antaranya adalah antara lain sudah berhasil dieksposnya beberapa kasus kecelakaan penerbangan. (roda kemudi)

Thursday, March 5, 2009

Nakhoda KM Rimba Ditemukan Tewas

Tim pencari korban berhasil menemukan dua korban kecelakaan tabrakan kapal di Kepulauan Seribu dinihari tadi. Salah seorang di antaranya adalah Waston yang diidentifikasi sebagai KM Rimba Segara III. Kedua korban ditemukan sekitar pukul 14.00 WIB oleh kapal Catamaran milik Armada KPLP Tanjung Priok.

Adpel Tanjung Priok Capt. Bobby R. Mamahit menjelaskan, satu korban lain yang ditemukan tersebut adalah jenazah bocah berusia 3 tahun bernama Samuel. ”Korban merupakan anak Fandy, mualim III kapal pengangkut semen yang nahas itu,” jelasnya.

Sebelumnya, salah seorang korban tewas berkelamin lelaki ditemukan kelompok nelayan. Hingga berita ini diturunkan, berarti sudah ditemukan tiga mayat korban tabrakan kapal yang terjadi pada posisi 106,56,90 bujur timur-05.55.750 lintang selatan, atau 3 mil barat laut dari Pulau Damar, perairan Kepulauan Seribu.

Sementara korban yang masih belum ditemukan sebanyak 10 orang, dari 13 korban yang dikabarkan hilang (bukan 16 seperti yang diberitakan sebelumnya, Red). Seluruh korban meninggal itu telah dievakuasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Bobby menambahkan, pencarian kapal KM Rimba terpaksa dihentikan sementara karena cuaca sudah tidak memungkinkan. Pencaraian direncanakan akan dilanjutkan Jumat (6/3) pagi sekitar pukul 06.00 WIB.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan Sunaryo mengatakan bahwa sesungguhnya kejadian ini tidak perlu terjadi. Dia beralasan, sedianya nakhoda KM Rimba Segara III bisa melakukan manuver untuk menghindari kecelakaan tersebut untuk menghindari tongkang pengangkut pasir yang ditarik tug boat TB Harapan Indah.

”Apalagi, perairan itu terbilang cukup luas dan dalam, antara 20-30 meter. Karena tongkang tidak memiliki kecakapan yang cukup untuk melakukan manuver cepat dan memiliki sistem alert yang rendah, maka KM Rimba lah yang seharusnya melakukan itu,” ujar Sunaryo, usai mengikuti pelantikan sejumlah pejabat eselon I Dephub, Kamis petang.

”Tetapi mengingat waktu, malam hari memang waktu yang rawan. Di militer saja, untuk pelayaran pada malam hari, yang dipakai pasti perwira-perwira senior. KM Rimba, seharusnya diserahkan Mualim I, meskipun nakhoda yang mengemudikannya memiliki kecakapan yang cukup juga,” imbuhnya.

Sunaryo menambahkan, ke depan, pihaknya akan melakukan evaluasi kadar profesionalitas para pelaut untuk meminimalisasi angka kecelakaan di laut. ”Jadi, potensi human error pada kecelakaan laut bisa dikurangi,” jelasnya. Terkait kecelakaan itu sendiri, pihaknya akan menunggu hasil penyelidikan Komite Keselamatan Nasional Transportasi. (roda kemudi)

Tabrakan di Kepulauan Seribu, 16 Awak Kapal Kargo Hilang

Kapal kargo pengangkut semen KM Rimba bertabrakan dengan kapal tunda (tug boat) Harapan Indah di sekitar barat daya perairan Pulau Damar, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Kamis (5/3) sekitar pukul 00.30 WIB.

Pada lokasi insiden yang berjarak sekitar 12 mil dari Jakarta atau sekitar 11 derajat lintang selatan, kapal kargo yang membawa 27 awak itu tenggelam. Sebelas awak kapal berbobot 3376 GT itu berhasil diselamatkan, sedangkan 16 lainnya masih belum ditemukan.

Hingga saat ini tim, dari Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) dan Tim SAR Polda Metro Jaya telah berada di lokasi kecelakaan. Mereka mencari awak yang hilang tersebut. Diperkirakan, seluruh awak kapal yang hilang tersebut masih berada di dalam kapal yang diketahui langsung karam di lokasi kejadian. "Kemungkinan demikian," jelas Kepala Administrator Pelabuhan Tanjung Priok Bobby R. Mamahit.

Pada pagi dini hari itu, KM Rimba yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok pukul 23.00 WIB, sedang berlayar menuju Pelabuhan Belawan, Medan. Saat melintasi kawasan Pulau Damar, dari arah yang berlawanan datang Kapal Harapan Indah yang bergerak menuju Marunda. Tabrakan pun tidak dapat dihindari. Saat terjadi tabrakan, KM Rimba langsung tenggelam kedalaman yang diperkirakan mencapai 30 meter.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih melakukan verifikasi informasi dan mengedepankan tahapan penyelamatan korban kecelakaan oleh SAR. "Kami belum menentukan investigator yang akan dikirim. Nanti kalau hasil verifikasi sudah jelas, kita dapat mempunyai gambaran investigator mana yang sesuai untuk menyelidiki kecelakaan in," jelas Juru Bicara KNKT JA Barata. (roda kemudi)