Pages

Showing posts with label kecelakaan pesawat. Show all posts
Showing posts with label kecelakaan pesawat. Show all posts

Thursday, February 11, 2010

Mesin Rusak, Pesawat Trigana Mendarat di Sawah

Pesawat jenis ATR 42 milik Trigana Air Service mendarat darurat di areal persawahan, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis (11/2), sekitar pukul 11.50 WITA. Diduga, pendaratan darurat ini disebabkan oleh kerusakan yang terjadi pada mesin pesawat bernomor registrasi PK-YRP tersebut.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan menjelaskan, menurut informasi yang diterimanya, kelima kru pesawat dan 51 penumpang yang diangkut pesawat itu selamat. ”Selain membawa penumpang, pesawat juga mengangkut kargo seberat 74 dan 451 bagasi,” jelasnya.

Dipaparkan Bambang, saat kejadian, pesawat nahas yang dipiloti Kapten Nur Solichin tersebut tengah menerbangi rute Balikpapan-Samarinda-Berau. Masalah yang terjadi pada salah satu mesinnya, memaksa pilot untuk mendaratkan darurat pesawat di luar landasan pacu yang berjarak sekitar 18 nautical miles (33,3 kilometer) dari Bandara Sepinggan, Balikpapan. ”Pesawat mendarat di sawah, di KM 41, Samboja,” imbuhnya.

Terpisah, Juru Bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata mengungkapkan bahwa institusinya telah mengirimkan tim ke lapangan. Mereka yang diutus antara lain Ketua Bidang Investigasi dan Penelitian Kecelakaan Pesawat Udara KNKT Frans Wenas, sebagai ketua tim, yang didampingi Capt. Masruri dan Sulaeman.

”Kita belum dapat mengkategorikan peristiwa ini insiden serius atau kecelakaan. Kita masih melakukan verifikasi dari tim investigasi yang berangkat ke sana untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut,” jelas Barata. (roda kemudi)

Tuesday, April 21, 2009

Pesawat Mimika Air Tak Punya Kotak Hitam, KNKT Cari Alternatif Investigasi

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan mencari altenatif mekanisme untuk menginvestigasi penyebab kecelakaan yang menimpa pesawat Mimika Air di Papua, Jumat (17/4) pekan silam. Hal itu dikarenakan pesawat nahas jenis Pilatus PC-6/B2-H4 Turbo Porter tersebut tak memiliki kotak hitam atau black box.

Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengungkapkan, ketiadaan perangkat penting yang terdiri dari perekam suara kokpit (Cockpit Voice Recorder/CVR) dan perekam data penerbangan (Flight Data Recorder/FDR) diketahui berdasarkan laporkan yang disampaikan pihak manajemen Mimika Air.

”Kondisi itu kemungkinan akan menyulitkan KNKT mengungkap penyebab kecelakaan. Tetapi kami akan mencari alternatif lain untuk memperoleh data penerbangan pesawat itu,” jelas Tatang, Senin (20/4) petang.

Menurut Tatang, salah satu alternatif yang akan digunakan KNKT dalam penyelidikanya adalah menggunakan analisa kesalahan struktur pohon urai. Untuk sementara saat ini KNKT telah memiliki informasi dan data bahwa kondisi pesawat dan pilot tidak bermasalah.

Indikasi awal yang telah diperoleh KNKT, lanjutnya, adalah bahwa tragedi jatuhnya pesawat Mimika Air di lereng Gunung Gergaji pegunungan Jaya Wijaya itu dikarenakan pilot tidak dapat melihat terrain (permukaan bukit) sehingga mengalami kecelakaan dalam penerbangan dari Distrik Ilaga ke Mulia.

”Istilahnya control flight into terrain (CFIT),” ujar Tatang.

Dari sisi regulasi, Tatang menambahkan, pihaknya akan memeriksa aturan terkait penempatan kotak hitam pada pesawat, terutama ICAO Annex 6 dan CASR (Civil Aviation Safety Regulation) 135. ”Kami akan lihat regulasi, apakah kotak hitam wajib atau tidak karena pesawat Pilatus adalah jenis kecil," paparnya.

Pilatus Tidak Wajib Pasang Kotak Hitam

Ketentuan dalam Annex 6 organisasi penerbangan sipil internasional ICAO (International Civil Aviation Organization) yang merupakan hasil konvensi internasional penerbangan sipil menyebutkan, FDR dan CVR diwajibkan dipasang pada pesawat-pesawat berbobot lepas landas maksimum (Maximum Take-Off Weight/MTOW) 5700 kilogram (5,7 ton).

Pada ketentuan itu, diatur pula, operator penerbangan yang memiliki pesawat dengan MTOW hingga 27000 kilogram (2,7 ton) harus memiliki dan mengelola program analisis data penerbangan (flight data analysis programme) sebagai bagian dari sistem manajemen keselamatan. Jika tidak memiliki, operator dapat bekerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki dan mengelola program tersebut.

Sedangkan aturan pada CASR 135 tentang kewajiban pemasangan perangkat perekam data digital pesawat sendiri mengacu pada butir Annex 6 ICAO. Disebutkan, CASR mengatur tentang standar keselamatan untuk pesawat-pesawat kecil dengan MTOW 5700 kilogram (5,7 ton) atau yang memiliki kapasitas tempat duduk hingga 10 penumpang tidak disyaratkan menambah perangkat FDR/CVR.

Sementara itu, menurut data resmi yang dirilis situs resmi pabrikan pembuatnya, Pilatus Aircraft Ltd (Swiss), PC-6/B2-H4 Turbo Porter adalah pesawat yang memiliki bobot mati seberat 1270 kg (1,2 ton) dengan bobot lepas landas maksimum sebesar 2800 kilogram (2,8 ton).

Dengan demikian, jika mengacu pada ketentuan Annex 6 ICAO tersebut, pesawat kecil dengan panjang 10,9 meter, tinggi 3.2 meter, dan rentang sayap selebar 15.87 meter ini, tidak diwajibkan atau tidak direkomendasikan untuk di-install dengan kotak hitam.

Perekam data penerbangan (FDR) adalah alat untuk mencatat parameter kinerja pesawat udara secara spesifik. Penyandingnya adalah perekam suara kokpit (CVR), yang merekam percakapan di kokpit, komunikasi radio di antara kru kokpit dan lain-lainnya, termasuk merekam percakapan dengan personalia kontrol lalu-lintas udara.

Di beberapa kasus, kedua fungsi sudah digabungkan ke dalam satu kesatuan, seperti yang adalah kasus dengan bentuk asli. Data yang dicatat oleh FDR tersebut biasa dipakai untuk pemeriksaan kecelakaan, juga untuk menganalisasi sistem keamanan udara keluar, degradasi fisik dan kinerja mesin. Perangkat yang sesungguhnya berwarna jingga terang ini biasanya diletakkan pada bagian ekor pesawat udara yang diyakini lebih mungkin selamat dari kecelakaan hebat.

Karena pentingnya keberadaan kedua perangkat tersebut dalam sebuah penyelidikan kecelakaan, ICAO pun dengan cermat merancang dan spesifikasi kotak hitam agar tahan terhadap dampak kecepatan tinggi dan panas api akibat kebakaran hebat. Tidak hanya untuk menelusuri kronologi sebuah kecelakaan pesawat, penemuan kembali kotak hitam juga berkontribusi terhadap upaya evakuasi korban selamat dan pencarian jasad manusia. (roda kemudi)

Saturday, April 18, 2009

Kecelakaan Mimika Air Diduga Akibat Cuaca Buruk

Kecelakaan pesawat Pilatus PC-6/B2-H4 Turbo Porter milik maskapai Mimika Air di lereng Gunung Gergaji, kawasan pegunungan Jaya Wijaya, Papua, Jumat (17/4), diduga kuat terjadi akibat pengaruh cuaca buruk.

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menjelaskan, pada saat itu pesawat beregistrasi PK-LTJ itu terbang pada ketinggian 11800 kaki (3596.64 meter) di atas permukaan laut. Kabut tebal yang tiba-tiba turun menutupi wilayah itu membuat pandangan pilot menjadi terbatas.

Pilot Capt. Nay Linnn Aung yang berkebangsaan Myanmar itu diduga tidak bisa melihat lingkungan wilayah yang diterbanginya. Hingga akhirnya pesawat pun menabrak lereng gunung dalam penerbangan dari Ilaga menuju Mulia tersebut.

”Kemungkinan pilot juga kurang mengenal medan dan tidak menemukan indikasi cuaca buruk itu. Keyakinannya untuk terus terbang kemungkinan didasari pada kondisi pesawat yang bagus dan jarak tempuh yang dekat, hanya 15 menit,” papar Menhub Jusman dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Sabtu (18/4).

Pada jumpa pers tersebut, Menhub didampingi Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bhakti S Gumay, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi, dan Deputi Badan SAR Nasional Waluyo Jati.

Pesawat yang membawa 8 penumpang termasuk seorang bayi dan dua kru itu, take off pukul 09.30 WIT dan direncanakan tiba di Mulia pada 09.45 WIT. Komunikasi antara awak pesawat nahas tersebut dengan bandara terputus setelah beberapa menit lepas landas, ketika melintasi lereng Gunung Gergaji yang berketinggian 13700 kaki (4175.76 meter) di atas permukaan laut.

Sinyal darurat pesawat Mimika Air yang hilang itu ditemukan oleh pesawat maskapai penerbangan Mission Aviation Fellowship (MAF) dan Merpati Nusantara Airline yang melintas wilayah itu, pada koordinat 030 52’’ South dan 1370 44’’ East (South East).

Evakuasi Korban Masih Sulit

Tim SAR yang mencari bangkai pesawat Mimika Air berhasil mengetahui titik jatuhnya pesawat jenis Pilatus PK-LTJ itu pada Sabtu pagi waktu setempat. Yaitu diperkirakan berada 17 NM sebelum Distrik Mulia.

Namun hingga kini, tim penyelamat yang menggunakan sebuah helikopter milik Airfast, sebuah Twin Otter Trigana serta sebuah pesawat MAF Cessna 2008, belum bisa mendekati lokasi untuk mengevakuasi korban karena buruknya cuaca dan sulitnya medan.

Tim pencari dan evakuasi udara tersebut hanya bisa melihat bangkai pesawat yang hancur di posisi lereng gunung. ”Dari posisi wing ke ekor, kelihatanya masih utuh,” jelas Menhub.

Menhub melanjutkan, Tim SAR yang terdiri dari berbagai elemen tersebut akan memusatkan pada pertolongan terhadap seluruh korban yang belum diketahui nasibnya itu.

Selain tim SAR, upaya pencarian dan penyelamatan juga dilakukan melalui jalur darat oleh pasukan TNI dan Polri yang dibantu masyarakat setempat. "Seluruh operasi SAR kini bermarkas di Ilaga dan diketuai Komandan Pangkalan Udara Timika Letkol Penerbang Easter Haryanto," sambung Eko Jati menambahkan.

Para korban yang belum ditemukan itu antara lain Capt. Nay Linnn Aung (pilot), Capt. Makmur Susilo (kopilot), Herman Snanfi (Ketua Panwas Puncak Jaya), Marthen Jitmau, Pdt. Melkias Kiwak, Wilem Mayau, Lasarus Wonda, Ruben Murib, Termina Murib, dan seorang balita anak pasangan Ruben dan Termina Murib.

Usia Pesawat Masih Sangat Muda

Menhub Jusman Syafii Djamal menjelaskan, usia pesawat rakitan Pilatus Aircraft Ltd. (Switzerland) yang digunakan Mimika Air terbilang sangat muda. Pesawat yang dibeli Pemda Mimika seharga Rp 25 miliar tersebut dirakit perusahaan pembuatnya pada Februari 2008, atau baru berusia sekitar 1 tahun.

Untuk melintasi kawasan pegunungan, pesawat bermesin PT6A-27 rakitan Pratt & Whitney, Kanada, yang bertenaga 550 SHP itu, bukanlah sebuah masalah. Pesawat yang dilengkapi tiga bilah baling-baling Hartzell tersebut mampu mengudara hingga ketinggian 25 ribu kaki (7620 meter).

Pilatus PC-6 Turbo Porter yang berkemampuan mendarat di landasan-landasan pendek dengan bobot pendaratan maksimum (Maximum Landing Weight) 2660 kilogram ini.

”Pesawat ini memang sangat cocok untuk wilayah Papua,” kata Menhub.

Menhub menambahkan, pesawat itu diregistrasi pertama kali di Indonesia dalam kondisi baru pada 18 September 2008 atas nama Mimika Air, dengan nomor pendaftaran 2512 dan registrasi PK-LTJ. Masa berlaku sertifikat pesawat (C of R) dan sertifikat kelaikan udara (C of A) berlaku hingga 17 September 2009.

Jam terbang pesawat pada saat kejadian, lanjut Menhub baru 542 jam. Pesawat dirawat sesuai dengan program perawatan pada setiap 100 jam terbang. Dengan demikian, selama dioperasikan pesawat sudah lima kali diperiksa, dan terakhir pada 5 April 2009. Tidak adanya keluhan atau temuan selama pemeriksaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pesawat tersebut dalam kondisi yang sangat baik untuk dioperasikan.

Kemudian terkait tidak adanya nama Mimika Air dalam daftar pemeringkatan kinerja maskapai periode Maret 2009 yang dilakukan Ditjen Perhubungan Udara, menurut Menhub, itu karena masa kerja Mimika Air yang belum genap enam bulan.

”Karena masa kinerjanya masih baru, dia belum saatnya masuk. Nanti setelah enam bulan, kita pasti akan masukkan dalam pemeringkatan dan akan kita audit seperti yang lain. Tetapi, meski begitu, bukan berarti tidak diawasi. Biar baru, pengawasan tetap dilakukan,” jelasnya.

Untuk awak pesawat, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti, juga tidak ditemukan adanya masalah terkait prosedural. Capt. Nay Linnn Aung yang berkebangsaan Myanmar tersebut memiliki jam terbang yang cukup lama, yaitu 2794 jam terbang. Demikian pula halnya kopilot Capt. Makmur Susilo, asal Indonesia, memiliki jam terbang sebanyak 2720 jam.

Lisensi pilot (Commercial Pilot Licence/CPL) yang dimiliki keduanya juga masih berlaku. Masa berlaku CPL Capt. Nay Linnn Aung berakhir hingga 11 Juni 2009, dan Capt. Makmur Susilo hingga 4 Agustus 2009. ”Dari sisi kesehatan juga tidak ada masalah. Masa kedaluwarsa medical check up keduanya sama dengan masa kedaluwarsa CPL,” ujar Herry Bhakti.

Berdasar pada fakta tersebut, Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengatakan, diindikasikan bahwa tragedi jatuhnya pesawat Mimika Air itu lebih karena faktor cuaca.

”Kalau pesawat bagus, juga pilotnya ada dan tidak bermasalah, faktor penyebab yang paling menonjol adalah cuaca. Pilot tidak dapat melihat terrain (permukaan bukit) sehingga mengalami kecelakaan. Ini dinamakan Control Flight Into Terrain (CFIT),” ujar Tatang.

Menurut Tatang, sebenarnya kasus CFIT ini jarang terjadi di Indonesia. Peristiwa serupa terakhir terjadi saat pesawat Garuda celaka di Sibolangit pada tahun 1990-an. ”Tetapi kita tidak boleh menyimpulkan dulu bahwa ini adalah CFIT, kita tunggu 1 bulan setelah penyelidikan," pungkasnya. (roda kemudi)

Friday, April 17, 2009

Presiden Instruksikan Menhub Tangani Kecelakaan Mimika Air di Papua

Terkait kecelakaan kecelakaan pesawat Mimika Air di Pegunungan Jaya Wijaya, Jumat (17/4) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung mengistruksikan Menteri Perhubungan Jusman SYafii Djamal agar segera mengkoordinasikan langkah-langkah SAR dan evakuasi dengan instansi terkait.

”Termasuk dengan pemda setempat dan TNI/Polri,” ungkap Juru Bicara Kepresidenan Andi Malarangeng dalam siaran persnya, Jumat malam.

Sehubungan dengan kecelakaan ini, lanjut Andi, Presiden SBY menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban awak pesawat dan penumpang yang menjadi korban.

”Presiden juga menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada awak pesawat yang gugur dalam memberikan pelayanan penerbangan perintis bagi rakyat Indonesia di daerah Papua,” lanjutnya. Penghargaan yang sama, kata Andi, juga diberikan Presiden kepada pejabat penyelenggara pemilu daerah yang kemungkinan gugur dalam menjalankan tugas agar suara rakyat dijunjung tinggi.

Pesawat Tangguh Serbaguna

Terpisah, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi menyampaikan, Menhub telah menginstruksikan dirinya untuk melakukan investigasi terhadap kecelakaan tersebut. ”Sebagai langkah awal, kamis sudah mengutus investigator kami yang berdomisili di Papua menuju lokasi. Namanya Nobertus,” jelas Tatang, di Jakarta.

Data awal yang diterima KNKT menyebutkan, lokasi hilangnya pesawat nahas yang mengangkut 8 penumpang dan dua awak itu diperkirakan di areal Gunung Gergaji, Puncak Jaya. perkiraan itu didasari pada sinyal yang dipancarkan penentu lokasi darurat pesawat (Emergency Locator Beacon Aircraft/ELBA).

Pesawat beregistrasi PK-LTJ itu take-off dari Ilaga pukul 09.45, mengangkut sejumlah pejabat KPU Provinsi, polisi, dan logistik Pemilu 2009. Hingga Jumat malam, pencarian bangkai pesawat dan seluruh penumpang dan awak belum membuahkan hasil. Kondisi cuaca dan medan yang kurang mendukung, menurut Tatang, menjadi kendala tim pencari dan evakuasi dalam untuk dapat bekerja cepat.

”Pesawat hilang kontak pukul 10.55 WIT saat berada di daerah antara Ilaga-Mulia, wilayah pegunungan Jaya Wijaya. Data manifest menyebutkan ada 8 penumpang, tujuh dewasa dan satu anak-anak, serta penerbang 2 orang,” jelas Tatang.

Tatang menambahkan, menurut dokumen kelaikan udara air worthiness yang diterimanya, kondisi pesawat tipe Pilatus Police Constable-6/B2-H4 Turbo Porter berkapasitas penumpang hingga 10 orang ini dalam keadaan baik.

”Dari jenisnya, pesawat ini memang pesawat bagus. Pesawat ini bisa dipakai di segala medan, dan berkemampuan take-off dan landing dengan jarak yang pendek (short take-off and landing capabilities/STOL). Militer banyak yang pakai juga karena kemampuannya itu,” ujarnya.

Data resmi yang dirilis pabrikan pembuatnya, Pilatus Aircraft Ltd (Swiss), PC-6/B2-H4 Turbo Porter merupakan versi terakhir yang dirakitnya. Pesawat ini adalah jenis pesawat udara tangguh serba guna dan berbahan bakar sangat irit ini memiliki panjang 10,9 meter, tinggi 3.2 meter, bobot mati 1270 kg, dan sayap selebar 15.87 meter.

Pesawat yang bisa digunakan untuk membedah lingkungan yang tak dapat dicapai banyak pesawat udara lain, seperti medan berdebu, air atau salju tersebut, relatif sangat fleksibel. Pesawat dengan kecepatan maksimum 125 KTAS ini bisa melakukan lepas landas di atas landasan pacu sepanjang 197 meter (646 kaki) dengan take-off distance hingga 440 meter (1.558 kaki), dan mendarat dengan jarak 127 meter (417 kaki) dengan landing distance 315 meter (1.003 kaki).

Pilatus PC-6 memiliki pintu geser yang besar di kedua sisi, sehingga bisa dengan cepat diubah fungsi dan tugas sesuai kebutuhan. Antara lain menjadi angkutan penumpang, ambulans, kargo, pemantauan, maupun olahraga udara.

Tangki khusus berkapasitas sebanyak 1300 liter yang bisa dimuat di kabin, mendukung pesawat yang terus diproduksi Pilatus Aircraft Ltd hingga saat ini untuk menjalankan misi penanganan kebakaran hutan maupun penyemprotan.

”Memang jenis yang sangat pas digunakan untuk penerbangan-penerbangan perintis di daerah-darah seperti Papua,” pungkas Tatang. (roda kemudi)

Pesawat Mimika Air eks- GT Air

Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan menyebutkan, pesawat milik Pemda Mimika yang hilang di pedalaman Papua Jumat (17/4) pagi, merupakan pesawat eks-Germania Trisila (GT) Air.

Pesawat bernomor registrasi PK-LTJ tersebut dioperasikan perusahaan maskapai PT Mimika Air. Maskapai yang berkantor di Gedung Terminal Bandara Halim Perdana Kusuma, Lantai 2 Ruang 224A, Jakarta 13610, ini adalah perusahaan maskapai milik Pemda Mimika.

Disebutkan, PT Mimika Air masuk dalam kategori maskapai penerbangan tak berjadwal (unscheduled) yang memiliki dua armada dengan lisensi AOC 135 (kapasitas tempat duduk 30 kursi). Yaitu pesawat tipe Pilatus PC yang memiliki kode organisasi penerbangan sipil internasional IATA/ICAO PK-LTJ, dan pesawat tipe DO 28-D1 S bernomor registrasi PK-LTU.

Pesawat jenis Pilatus PC yang digunakan Mimika Air tersebut diproduksi di Swis pada tahun 1988. Masa berlaku registrasi pesawat ini sejak 10 Agustus 2008 dan berakhir pada 9 Agustus 2009.

Sedangkan pesawat DO 28-D1 S, diregistrasi sejak 3 September 2003 dan berlaku hingga 2 September 2011. Pesawat tersebut adalah pesawat rakitan tahun 1969. ”Saat ini, pesawat ini sedang dalam perbaikan dan tidak sedang dioperasikan,” jelas Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Tri Sunoko, Jumat petang.

Tri Sunoko menjelaskan, GT Air berubah nama menjadi Mimika Air sejak 7 Oktober 2008. Lisensi pengoperasian pesawat (Air Operation Certificate/AOC) dihidupkan kembali tanggal 28 Nopember 2008.

”Jadi, (Mimika Air) itu awalnya GT Air yang AOC-nya dibekukan dan akan dicabut 25 Juni nanti jika tidak dihidupkan,” jelas Tri. Tetapi, lanjut Tri, kemudian GT Air menjalin kerja sama dengan Pemda Mimika dan menghidupkan kembali AOC dengan nama Mimika Air. ”Jadi, hanya ganti nama saja,” imbuhnya.

Meski hanya mengoperasikan satu pesawat, menurut Tri, penerbitan kembali oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) AOC tidak menjadi sebuah pelanggaran. Karena Mimika Air merupakan maskapai berkategori tidak berjadwal atau charter.

”AOC dikeluarkan lagi, karena memang syaratnya boleh cuma satu pesawat. Dalam tiga tahun ke depan, mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan armada sesuai ketentuan baru,” papar Tri Sunoko.

Dia menambahkan, selanjutnya Mimika Air cukup meminta izin terbang (Flight Approval/FA) pada wilayah operasi yang diterbanginya kepada Dinas Perhubungan Provinsi Papua. ”Tidak harus ke Dephub, karena rutenya masih dalam satu provinsi. Kalau lintas provinsi, baru FA-nya minta ke kita (Dephub, Red),” tandasnya.

Ketika ditanya mengapa Mimika Air tidak masuk dalam daftar pemeringkatan penilaian kinerja maskapai periode Maret 2009 lalu, Tri tidak dapat menjelaskan. "Untuk keterangan ini silakan konfirmasi ke DKUPPU

Informasi lain yang diperoleh menyebutkan, PT Mimika Air merupakan perusahaan milik Pemerintah Daerah Mimika. Pesawat nahas yang sebagian besar penumpangnya adalah petugas KPU dan Panwaslu itu, dibeli dari Swiss seharga Rp 25 miliar melalui anggaran APBD Mimika 2008. (roda kemudi)

Pesawat Mimika Air Hilang di Pedalaman Papua

Pesawat Mimika Air yang mengangkut 10 penumpang termasuk pilot dan kopilot dikabarkan hilang di pedalaman Papua, Jumat (18/4) pukul 10.30 WIT. Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian terhadap pesawat jenis Pilatus PC-6 yang diawaki dua kru, pilot dan kopilot itu masih dilakukan.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Bambang S Ervan menjelaskan, informasi sementara yang diterimanya menyebutkan, sinyal yang dipancarkan alat penentu lokasi darurat (Emergency Locator Beacon Aircraft/ELBA) milik pesawat itu dari wilayah Gunung Sinap.

Menurut Bambang, pesawat terbang dari Ilaga menuju Mulia. Sampai saat ini, pesawat belum ditemukan. Kondisi penumpang dan awak juga belum diketahui. ”Kita belum tahu kondisi pesawat dan penumpangnya karena bandara masih kehilangan kontak sampai sekarang,” jelas Bambang, seusai Salat Jumat di Gedung Dephub.

Dia menambahkan, direktorat Jenderal Perhubungan Udara sudah meminta agar pesawat-pesawat yang terbang di wilayah itu untuk ikut membantu melakukan pengamatan di sekitar lokasi berdasarkan sinyal ELBA yang dipancarkan.

Terpisah, Ketua Komite Nasional Keselamatan Trasnportasi (KNKT) Tatang Kurniadi menjelaskan, meski telah menerima informasi tentang kecelakaan tersebut, KNKT tidak akan langsung menurunkan tim investigator. ”Kita tunggu lokasi pastinya dulu. Kalau pesawat sudah ditemukan, kita pasti langsung kirim investigator ke sana,” jelasnya.

Maskapai Tak Masuk Peringkat

Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan menyebutkan, pesawat tersebut merupakan pesawat ex-Germania Trisila (GT) Air bernomor registrasi PK-LTJ yang dioperasikan perusahaan maskapai PT Mimika Air. Maskapai ini berkantor di Gedung Terminal Bandara Halim Perdana Kusuma, Lantai 2 Ruang 224A, Jakarta 13610.

Disebutkan situs resmi Ditjen Hubud tersebut, PT Mimika Air masuk dalam kategori maskapai penerbangan tak berjadwal (unscheduled) yang memiliki dua armada . Yaitu pesawat tipe Pilatus PC yang memiliki kode organisasi penerbangan sipil internasional IATA/ICAO PK-LTJ, dan pesawat tipe DO 28-D1 S bernomor registrasi PK-LTU.

Pesawat Pilatus PC yang didaftarkan sejak 10 Agustus 2008 dan berakhir pada 9 Agustus 2009 merupakan pesawat rakitan tahun 1988 berkapasitas 6 penumpang dan dua awak. Sedangkan pesawat DO 28-D1 S yang registrasinya berlaku sejak 3 September 2003 hingga 2 September 2011, adalah pesawat rakitan 1969.

Namun, dalam daftar Penilaian Kinerja Maskapai Penerbangan Periode IX (Maret 2009) yang dirilis Ditjen Perhubungan Udara 7 April 2009, Mimika Air tidak termasuk dalam daftar. Demikian pula halnya nama maskapai GT Air.

Informasi lain yang diperoleh Roda Kemudi menyebutkan, PT Mimika Air merupakan perusahaan milik Pemerintah Daerah Mimika. Pesawat nahas yang sebagian besar penumpangnya adalah petugas KPU dan Panwaslu itu, dibeli dari Swiss seharga Rp 25 miliar melalui anggaran APBD Mimika 2008. (roda kemudi)

Thursday, April 9, 2009

Diduga Tabrak Gunung, Pesawat Aviastar Jatuh dan Meledak di Wamena

Pesawat Aviastar terjatuh dan meledak seketika di area pegununan di Desa Pike, Wamena, Papua, Kamis (9/4) sekitar pukul 07.20 waktu setempat. Seluruh kru yang berjumlah enam orang dinyatakan tewas dalam peristiwa itu.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang S Ervan menjelaskan, kecelakaan terjadi ketika pesawat yang tengah mengangkut 9 ton bahan bakar avtur itu tengah melakukan pendekatan untuk mendarat di Bandara Wamena. Pesawat diketahui terjatuh dan seketika terbakar ketika tengah mencari posisi untuk mendekati runway 15 yang akan didaratinya.

”Pesawat go around saat di final ketika akan landing di runway 15. Pesawat belok kanan untuk melakukan pengepasan posisi dan memasuki right base. Pada saat itulah, pesawat masuk awan dan seketika hilang kontak dengan menara pengawas,” papar Bambang di Jakarta, Kamis.

Melihat pesawat yang dibimbingnya hilang, lanjut Bambang, petugas di menara pengawas terus berusaha menghubungi pilot, mengingat saat itu seharusnya pesawat sudah berada di tempatnya mendarat. ”Tapi tidak ada jawaban. Selanjutnya, petugas melihat ada asap membumbung di right base yang berada di kawasan Gunung Pike itu,” pungkasnya.

Pesawat dikabarkan terjatuh antara pukul 07.00-07.20 waktu setempat. Saat ini, menurut Bambang, sejumlah investigator Ditjen Perhubungan Udara Dephub akan segera mengirimkan tim teknis untuk menyelidiki kasus tersebut.

Dikonfirmasi terpisah, Jurubicara KNKT JA Barata mengatakan, pihaknya mengutus tiga orang investigator ke lokasi yang berjarak antara 5-10 kilometer dari Bandara Wamena itu. Mereka adalah Capt. Nurcahyo (Investigator In Charge/IIC), Capt. Chaeruddin, dan Norbertus (teknisi).

”Capt. Nurcahyo dan Capt. Chaeruddin, berangkat Kamis malam ini. Sedangkan Norbertus langsung menuju lokasi, karena posisinya ada di Papua,” ujar Barata, di Jakarta, Kamis siang.

Data yang diperoleh Roda Kemudi menyebutkan, pesawat nahas bernomor registrasi PK-BRD itu dioperasikan PT Aviastar Mandiri sejak 4 Desember 2007. Pesawat model BAe 146-300 tipe B463 rakitan British Aerospace tahun 1990 ini dilengkapi empat mesin jet.

Perusahaan penerbangan charter/borongan ini sendiri baru saja didaulat Ditjen Perhubungan Udara berada pada Kategori II dalam penilaian kinerja operator penerbangan untuk periode ke-IX Maret 2009.

Menurut Barata, belum diketahui pasti penyebab jatuhnya pesawat yang mengangkut avtur dari Bandara Sentani, Jayapura, tersebut. Namun, dia memastikan bahwa seluruh kru yang berada di dalam pesawat tidak ada satu pun yang selamat.

”Mereka yang meninggal adalah kru aktif Capt. Lukman Hakim dan Capt. Bayu Sigit, seorang engineer bernama Rahmat, load master Dicky, serta dua pramugari bernama Rani dan Wilda. Status mereka semua meninggal dunia,” sebut Barata.

Dijadwalkan Angkut Gubernur Papua

Usai menurunkan kargo yang dibawanya di bandara Wamena, pesawat dijadwalkan utuk langsung terbang kembali menuju Jayapura dengan membawa penumpang. Diperoleh informasi, salah satu penunmpang yang akan dibawa pesawat nahas ini dari Wamena adalah Gubernur Papua Barnabas Suebu.

Pesawat diindikasikan menabrak puncak Gunung Pike ketika masuk ke dalam awan. Mengingat kondisi cuaca saat itu dalam keadaan berkabut sehingga membuat jarak pandang pilot menjadi sangat terbatas.

Direktur Utama PT Aviastar Mandiri Bayu Susanto dalam keterangan tertulisnya mengatakan, semua keluarga pilot dan kru yang mengalami musibah telah dihubungi. Pihaknya juga telah melakukan koordinasi untuk pemulangan jenazah ke Jakarta.

"Evakuasi sampai saat ini masih dilakukan. Rencananya nanti malam kami bersama KNKT dan Ditjen Hubud akan menurunkan tim ke Wamena," ujarnya.

Dari hasil evakuasi pagi ini telah ditemukan peralatan FDR (flight data recorder) yang menjadi bagian dari kotak hitam pesawat (black box). Sedianya perangkat yang memuat data rekaman terakhir awak kabin itu akan digunakan sebagai bahan penyelidikan guna mencari penyebab kecelakaan lebih lanjut.

Untuk diketahui, pada 30 Januari 2008 silam pesawat Aviastar lain berjenis DHC-6 Twin Otter juga sempat mengalami kecelakaan. Pesawat rakitan Kanada yang saat itu mengangkut sebanyak 15 penumpang tersebut tergelincir di Bandara Sugapa, Kabupaten Paniai, Papua. Satu dari 15 penumpang yang dibawanya meninggal dunia, dan dua lainnya menderita luka berat, akibat peristiwa tersebut. (roda kemudi)

Tuesday, March 24, 2009

Dephub Ketatkan Pengawasan Pesawat Tua

Departemen Perhubungan akan mengetatkan pengawasan terhadap pesawat-pesawat berusia tua. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas maskapai penerbangan Indonesia. Kebijakan ini diambil menyusul kembali maraknya permasalahan yang muncul melibatkan pesawat berusia lanjut tersebut.

”Kita akan meningkatkan lagi pengawasan terhadap semua maskapai-maskapai yang menggunakan pesawat-pesawat yang kita anggap memerlukan perhatian terhadap perawatan pesawat terbang,” tegas Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal kepada wartawan di Jakarta, Selasa (24/3).

Menhub menambahkan, pengecekan mendalam terhadap pesawat-pesawat yang mengalami masalah menjadi salah satu agenda pokok dalam program peningkatan pengawasan yang disebutkannya itu. ”Contohnya seperti yang dialami (pesawat) Sriwijaya Air. Sebenarnya sudah direkomendasikan lebih mengganti pesawat-pesawatnya yang jenis 200-nya itu (Boeing 737-200, Red) dengan jenis yang lebih baru. Waktu dulu, rekomendasi saya lebih kepada alasan bahan bakar terlalu boros,” ungkap mantan Dirut PT Dirgantara Indonesia tersebut.

Pesawat Sriwijaya Air yang maksudkan Menhub adalah jenis Boeing 737-300 yang memutuskan mengalihkan pendaratan ke Bandara Hang Nadim, Batam, Senin (23/3) lalu. Pesawat yang membawa 108 penumpang tersebut terbang dari Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang pada pukul 07.10 WIB. Pesawat itu direncanakan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, pada 08.40 WIB.

Beberapa menit setelah terbang, mesin nomor satu (sebelah kiri) pesawat beregistrasi PK-CJN itu diketahui tidak berfungsi. Untuk mengantisipasi risiko, pilot pun memutuskan untuk mengalihkan pendaratan ke Bandara Hang Nadim, Batam.

Menurut Menhub, dirinya telah meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi dan investigator Direktorat Kelaikan Udara dan Pengawasan Pesawat Udara (DKUPPU) Direktorat Perhubungan udara Dephub untuk melakukan penyelidikan.

Jika dari penyelidikan kedua institusi itu ditemukan ketidakberesan yang menyangkut hal teknis, kata Menhub, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan melakukan aksi seperti yang dilakukan terhadap pesawat jenis MD-90 milik Lion Air. Yakni menghentikan sementara operasi pesawat yang bersangkutan.

”Supaya hal-hal semacam ini dapat dihindari, kita ingin membangun suatu suasana bahwa pesawat terbang itu dipelihara dengan baik,” tegas Menhub.

”Kemudian kalau pesawat dinyatakan laik terbang, tidak dinyatakan sering mengalami apa yang disebut abort to take-off, return to base, dan lain-lain. Kita harapkan setiap pesawat yang beroperasi dipelihara dengan baik,” harapnya.

Terkait hal itu, Menhub meminta setiap maskapai untuk meningkatkan prosedur dan intensitas perawatan pesawat, khususnya pesawat-pesawat yang tergolong berusia tua. Karena menurutnya, kelaikan terbang sebuah pesawat udara tidak dipengaruhi oleh usia dan frekwensi terbang, meski dari sisi operasional dinilai kurang efisien bila dibandingkan dengan pesawat berusia lebih muda.

”Sebetulanya kalau mereka mau memelihara pesawat yang tua seperti itu, saratnya satu: harus melakukan perawatan yang lebih baik lagi. Kalau perawatan pesawat terbangnya kurang baik, maka akan mengalami hal semacam ini (masalah, Red). Sehingga akan menyebabkan penumpang akhirnya menjauhi maskapai itu,” paparnya. (roda kemudi)

Monday, March 23, 2009

17 Tewas Dalam Kecelakaan Pesawat di Montana

Dinas Penerbangan Federal (FAA) menyatakan 17 orang tewas dalam satu kecelakaan pesawat di sebuah areal pemakaman, Butte, Montana, Senin (23/3).

Jurubicara FAA Mike Fergus mengatakan kepada wartawan laporan awal menunjukkan banyak korban adalah anak-anak.

"Kami kira barangkali itu adalah perjalanan untuk main ski buat anak-anak," kata Fergus.

Pesawat itu sedang dalam penerbangan dari Oroville, California sebelum jatuh di pemakaman Holy Cross, katanya.

Fergus mengatakan pilot pesawat tersebut telah menyerahkan rencana penerbangan yang memperlihatkan tujuan akhir adalah Bozeman, tapi ia telah membatalkan penerbangannya di satu tempat dan menerbangkan pesawatnya ke Butte.

Pesawat itu jatuh sekitar 150 meter dari bandar udara sewaktu berusaha mendarat dan terbakar. Tak ada korban di darat.

Seorang saksi mata mengenai kecelakaan tersebut mengatakan kepada surat kabar lokal Montana Standard bahwa pesawat itu berbelok dan kemudian menukik.

"Tiba-tiba pilot kehilangan kendali dan pesawat tersebut jatuh menukik," kata Kennye Gulick. "Ia tak dapat menaikkan pesawat tepat pada waktunya dan pesawat itu jatuh di pepohonan di pemakaman," tandasnya. (reuters/roda kemudi)

Friday, March 13, 2009

Lion Air Tergelincir Akan Digrounded Total

Pesawat MD-90 bernomor registrasi PK-LIL milik maskapai Lion Air yang tergelincir di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta Senin lalu, diindikasikan tidak akan diterbangkan lagi.

”Tingkat kerusakannya sangat parah,” jelas Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Yurlis Hasibuan, saat dihubungi, Jumat (13/3).

Meski rusak berat, Yurlis menambahkan, bukan berarti pesawat nahas yang tergelincir saat mengangkut 166 penumpang dari Makassar tujuan Jakarta itu tidak bisa diperbaiki.

”Prinsipnya masih bisa (diperbaiki), tetapi biayanya pasti akan sangat besar sekali. Karena itu kemungkinannya pesawat tidak akan dioperasikan lagi atau total lost,” imbuh dia.

Kepastian total lost itu sendiri menurutnya bergantung pada keputusan perusahaaan asuransi penjamin. Yurlis menyarankan kepada manajemen Lion Air untuk melakukan klaim kepada pihak asuransi mengingat pesawat sudah tidak mungkin bisa diterbangkan lagi dan harus diserahkan kepada pemiliknya.

”Informasi yang kami terima (klaim asuransi) itu sudah dilakukan, saat ini pihak Lion sedang hitung-hitungan,” lanjut Yurlis.

Dephub saat ini juga sedang memeriksa empat pesawat MD-90 milik Lion Air lain yang di-grounded sejak 11 Maret 2009. Penghentian pengoperasian rakitan 1990-an tersebut menyusul kecelakaan tergelincir di Soekarno-Hatta dan pendaratan darurat tanpa roda depan di Hang Nadim, Batam.

Yurlis enggan menjelaskan perkembangan hasil pemeriksaan yang dilakukan timnya. ”Nanti saja, Pak Dirjen (Perhubungan Udara Herry Bakti) yang akan memberikan keterangannya. Saat ini pemeriksaan masih kita lakukan,” jelasnya.

Namun, dia menjamin bahwa waktu pemeriksaan tersebut tidak akan berjalan lebih lama dari yang direncanakan, yaitu tiga hari. ”Kalau di-grounded terus, (Lion Air) akan rugi banyak. Soal ini akan didiskusikan dulu dengan dirjen bagaimana baiknya," lanjutnya.

Terpisah, Juru Bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata mengatakan, saat ini pihaknya telah mengumpulkan sebagian besar data-data kecelakaan MD-90 di Cengkareng itu. Termasuk mengundang sejumlah pilot senior untuk berkonsultasi tentang pesawat MD-90.

”Untuk kepentingan investigasi, KNKT sudah mengambil banyak sampel dari pesawat yang rusak untuk diteliti lebih lanjut,” jelasnya. Sampel-sampel itu antara lain terdiri dari bagian-bagian pesawat yang rusak dan patah, data-data seperti log sheet pesawat, hingga black box. (roda kemudi)

Wednesday, March 11, 2009

Lima Pesawat Digrounded, Lion Jamin Jadwal Penerbangan Tidak Terganggu

Menanggapi perintah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan, terhitung sejak Rabu, 11 Maret 2009, maskapai Lion Air menghentikan pengoperasian seluruh pesawat jenis MD-90 series miliknya.

Dengan penghentian sementara ini, manajemen Lion Air menjamin seluruh operasi penerbangan yang awalnya dilayani oleh lima unit MD-90 series miliknya itu tetap akan dilayani sesuai jadwal penerbangan yang ada.

”Kita akan gunakan pesawat pengganti jenis lainnya,” jelas Direktur Umum Lion Air Edward Sirait dalam surat keterangan resmi yang dirilisnya, Rabu. Penghentian pengoperasian ini dilakukan hingga pemeriksaan yang dilakukan pihak regulator selesai dilakukan.

Pemeriksaan yang dilakukan Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Ditjen Perhubungan Udara ini terkait dua peristiwa kecelakaan yang melibatkan pesawat jenis itu. Yakni pendaratan darurat tanpa roda depan di Bandara Hang Nadim, Batam, 23 Februari silam (JT 972), dan peristiwa tergelincir di landasan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, pada 9 Maret lalu.

Pasca pendaratan darurat di Batam beberapa waktu lalu, Menhub Jusman Syafii Djamal mengimbau agar Lion Air mengganti pesawat-pesawat MD series yang dimilikinya. Menhub menilai, selain pesawat jenis itu termasuk pesawat yang boros dalam penggunaan bahan bakar. Selain itu, menurut Menhub, peremajaan ini juga untuk menopang citra Lion yang sudah baik dengan penggunaan pesawat-pesawat baru jenis Boeing 737-900 ER.

Usai memberikan sambutan pada acara Munas ke-3 Masyarakat Kereta Api (Maska), Rabu (11/3), Menhub juga kembali mengungkapkan hal serupa. Terkait alasan Dephub untuk meng-grounded seluruh pesawat MD-90 milik Lion Air selama sekitar tiga hari, Menhub mengatakan, ”Dua kali accident, maskapainya sama, pesawatnya juga sama. Itu alasannya,” jelasnya.

Dikatakan Menhub, usia pesawat pada dasarnya tidak akan mempengaruhi kualitas keselamatan pesawat tersebut. ”Asalkan pesawatnya dirawat dengan baik dan seluruh prosedur dijalankan. Usia tidak berpengaruh. Mau baru, mau lama, sama saja. Semua tergantung pada mekanisme perawatannya,” tegas Menhub.

Maskapai seperti Lion Air yang menggunakan pesawat berusia di atas 20 tersebut, menurut Menhub, sedianya dituntut untuk memperketat mekanisme dan jadwal perawatan rutin. ”Semakin tua usia pesawat, tingkat pemeriksaannya harus lebih sering dibandingkan pesawat baru di samping biaya operasionalnya juga lebih tinggi. Ini yang akan kita konfirmasikan kepada pihak Lion Air,” ujarnya.

Terkait hal itu, Edward Sirait dalam keterangan resminya juga menjelaskan bahwa perusahaannya akan terus menjalankan program peremajaan pesawat dengan selalu menambah atau memperkuat armada yang ada diantaranya pesawat jenis Boeing 737-900 ER.

”Saat ini kami sudah mengoperasikan 18 Boeing 737-900 ER yang diterima secara bertahap, dari total 178 pesawat yang sudah dipesan langsung dari Boeing Commercial Airplane Amerika Serikat. Pada bulan Maret 2009 ini, kami akan menerima armada Boeing 737-900 ER sehingga menjadi 20 pesawat,” pungkasnya. (roda kemudi)

Tuesday, March 10, 2009

Dephub Grounded Seluruh Pesawat MD-90 Milik Lion Air

Departemen Perhubungan memutuskan untuk menghentikan sementara (grounded) pengoperasian seluruh pesawat jenis MD-90 milik maskapai Lion Air mulai Rabu, 11 Maret 2009. Keputusan ini diambil terkait tergelincirnya pesawat jenis sama milik maskapai tersebut di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin lalu.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Dephub Herry Bakti dalam keterangan resminya menjelaskan, kebijakan penghentian pengoperasian ini untuk memudahkan pengecekan yang akan dilakukan pihaknya terhadap pesawat yang kerap mengalami insiden tersebut.

Ditegaskan, keputusan untuk meng-grounded pesawat-pesawat milik Lion Air tersebut dan mengevaluasinya bukanlah bentuk sanksi atas insiden yang membuat ditutupnya salah satu landasan pacu Soekarno-Hatta selama hampir 24 jam tersebut. Meski dia meyakini bahwa kondisi pesawat Lion yang tergelincir itu cukup laik terbang untuk beroperasi.

”Pesawat tua belum tentu tidak laik terbang. Sebaliknya, pesawat baru juga belum tentu tidak bisa celaka. Ini dalam rangka antisipasi ke depan,” ujar Herry Bakti di kantornya, Selasa (10/3).

Dalam rangkaian evaluasi tersebut, menurutnya, Dephub akan memeriksa semua pesawat MD-90 series yang ada. ”Kebetulan, maskapai yang pakai MD series saat ini cuma Lion. Untuk sementara, mulai besok (Rabu), kita akan grounded seluruh pesawat-pesawat itu,” imbuhnya.

Tak hanya fisik pesawat rakitan Mc Donell Douglass tahun 1996 itu, Dephub, lanjut Herry, juga akan mengevaluasi sistem keselamatan serta mekanisme perawatan yang dilakukan oleh manajemen Lion Air terhadap seluruh pesawatnya.

”Termasuk frekwensi penerbangan yang menggunakan pesawat MD series kita akan evaluasi juga. Pengecekan ini akan memakan waktu 3-4 hari,” sambung Herry.

Selain pesawat, Dephub juga secara otomatis akan meng-grounded Capt. Haryanto Asmani selaku pilot bernomor penerbangan JT-793 yang bertolak dari Gorontalo, Makassar, tersebut. Menurut Herry, perintah untuk tidak terbang terhadap pilot pesawat nahas itu sekurangnya berlaku selama sebulan setelah kecelakaan terjadi.

Evakuasi Terhambat Roda Rusak

Terkait lambannya proses evakuasi pesawat dari lokasi tergelincir, Herry menjelaskan, hal itu disebabkan oleh rusaknya dua roda pendaratan bagian belakang. Kondisi itu diperparah oleh terbenamnya roda tersebut di tanah tepian landasan pacu yang berjarak sekitar 800 meter dari ujung landasan itu.

”Kita lumayan agak kesulitan untuk menaruh bantalan udara agar bisa menggeser badan pesawat yang melintang. Apalagi kedua landing gear belakangnya collapse,” paparnya. Hingga akhirnya, setelah menggunakan beragam peralatan evakuasi seperti dooley dan crane, pesawat berhasil dipindahkan sekitar pukul 14.30 WIB. Kendati demikian, landasan pacu Soekarno-Hatta bagian selatan itu masih harus ditutup. ”Karena, meski tidak rusak, masih harus kita bersihkan agar aman digunakan penerbangan selanjutnya,” pungkasnya.

Selanjutnya, untuk menyimpulkan penyebab dari kecelakaan pesawat bernomor registrasi PK-LIL ini, pihaknya menyerahkan hal itu kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang hingga saat ini masih melakukan investigas di lapangan. Untuk menyelidiki kasus ini sendiri, KNKT menurunkan lima orang investigatornya. Antara lain Wakil Ketua KNKT Franz Wenaz, investigator senior Temenggung, Capt. Nurcahyo, Alit Sadikin, dan Sulaeman.

Dihubungi terpisah, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menegaskan pihaknya siap untuk mengikuti perintah dari regulator. "Jika itu yang dimaui oleh regulator, kami siap," katanya.

Edward mengakui, pelarangan lima pesawat jenis MD-90 tersebut berpotensi besar menimbulkan kerugian bagi perusahannya. "Besarannya belum dihitung secara pasti, mengingat rute yang dilalui oleh pesawat-pesawat tersebut berbeda-beda. Jika taksiran kasar bisa saja mencapai sekitar satu miliar rupiah,” katanya.

Dikatakan, Lion Air juga telah menyiapkan pesawat pengganti untuk jenis MD. Terbukti pada Maret ini akan datang dua jenis B 737-900 ER yakni pada 17 maret dan 25 Maret. "Kita memang berencana akan menjadikan pesawat jenis MD sebagai cadangan secara bertahap mulai Juni nanti. Sedangkan proses peremajaan selesai tinggal pemenuhan pemesanan," ungkapnya. (roda kemudi)

KNKT Utus Lima Investigator Selidiki Insiden Lion di Cengkareng

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengirimkan lima investigator untuk menyelidiki insiden tergelincirnya pesawat Lion Air di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Senin lalu.

Juru Bicara KNKT JA Barata menjelaskan, saat ini pihaknya masih mengumpulkan data untuk mencari penyebab insiden tersebut. "Kita akan kumpulkan sebanyak munngkin data-data pendukung di lapangan," jelasnya, Selasa (10/3).

Kelima investigator KNKT yang dikirimkan tersebut, papar Barata, antara lain Wakil Ketua KNKT Franz Wenaz, investigator senior Temenggung, Capt. Nurcahyo, Alit Sadikin, dan Sulaeman.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, hingga pukul 09.00 WIB hari ini, pesawat Loin Air jenis MD-90 dengan nomor penerbangan JT-793 itu masih berada di landasan pacu bagian selatan Soekarno-Hatta. "Informasinya akan ditarik keluar runway pagi ini," imbuh Barata.

Pesawat tujuan Ujung Pandang-Jakarta yang mengangkut 166 penumpang dan 6 awak termasuk pilot dan kopilot itu tergelincir saat melakukan pendaratan, Senin (9/3) pukul 15.30 WIB. Tidak ada korban jiwa maupun korban terluka akibat peristiwa ini. Namun akibat insiden tersebut, bagian depan pesawat yang dipiloti Capt. Haryanto dan kopilot Darsito tersebut mengalami kerusakan.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Umum Lon Air Edward Sirait mengungkapkan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya dan mendukung penyelidikan yang dilakukan KNKT. Dia menegaskan, pendaratan yang dilakukan pilot saat itu merupakan pendaratan normal.

"Tidak ada masalah saat landing akan dilakukan. Pesawat juga dalam keadaan sangat baik dan laik terbang. Kemungkinan tergelincir akibat landasan pacu yang basah habis hujan," ujarnya. (roda kemudi)

Thursday, March 5, 2009

Kronologi Pendaratan Darurat Lion Air di Batam

Insiden pendaratan darurat pesawat Lion Air JT 972 di Batam, 23 Februari 2009 lalu, menjadi peristiwa yang patut mendapat perhatian. Karena Capt Anwar, sang pilot, telah sukses mendaratkan pesawat berjenis MD-90 tersebut tanpa roda depan dengan mulus tanpa menimbulkan korban jiwa. Jika saja dia gagal melakukan aksinya, tentu peristiwa ini akan menjadi pukulan berat bagi dunia penerbangan Indonesia di mata internasional.

Selain Capt Anwar, penentu keberhasilan pendaratan darurat ini juga tak lepas dari peran petugas ATC (Air Traffic Controller) Bandara Hang Nadim Batam.

Indah Irwansyah, Chief ATC Bandara Hang Nadim selaku petugas ATC Senior, menjelaskan, dalam proses pendaratan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 972 itu, dia juga dibantu oleh Capt Daniel selaku Direktur Operasional Lion Air.

Komunikasi intensif antara ATC dan Capt Anwar dilakukan seperti biasa melalui gelombang radio komunikasi penerbangan. Adapun komunikasi dengan Capt Daniel dilakukan via telepon secara bersama-sama.

Indah Irwansyah baru memegang mikrofon ATC sekitar pukul 17.25 WIB. Ia ambil kendali ketika petugas ATC lainnya menjelaskan bahwa pesawat Lion Air yang sedianya akan mendarat melaporkan kendala serius karena roda depan pesawat tidak terbuka.

Berikut percakapan ATC Irwan dengan Capt Anwar yang telah diartikan dalam bahasa Indonesia .

ATC Irwan : "Lion JT972. Di sini ATC, bisa diterima?"
Capt Anwar : "Oke... Silakan..." ATC Irwan : "Oke... Di mana posisi dan berapa ketinggian?"
Capt Anwar : "Posisi long final, ketinggian 2000 kaki." ATC Irwan : "Lion JT972 silakan lanjut, pertahankan kecepatan, dan arahkan ke landasan pacu 04."
Capt Anwar : "Oke... oke...."
Petugas ATC secara berkala menanyakan posisi dan ketinggian pesawat.

ATC Irwan : "Boleh tahu di mana posisi dan di ketinggian berapa."
Capt Anwar : "Oke...."
ATC Irwan : "Lion JT 972 upaya telah dilakukan."

Capt Anwar : "Prosedur manual telah dilakukan."
Capt Anwar : "Saya telah coba pull up"

Komunikasi ini berlanjut di tiap menit dan tidak terhitung jumlahnya, dan pesawat berputar-putar sebanyak 8 kali di wilayah udara Batam selama lebih dari 1 jam.

Sekitar 30 menit sebelum proses pendaratan darurat, Capt Daniel masuk melalui telepon operator. Capt Daniel menginstruksikan seluruh prosedur penerbangan, untuk pendaratan darurat.

Capt Daniel : "Coba tarik dengan kuat tuas tersebut secara manual."
ATC Irwan : "Lion JT 972, tarik sekuat mungkin tuas tersebut."
Capt Anwar : "Oke... dan sudah dicoba berkali-kali."

Sekitar 15 menit sebelum pendaratan darurat, Capt Anwar dengan suara tenang melapor dan meminta izin ke ATC untuk melakukan prosedur pendaratan darurat.

Capt Anwar : "Permintaan segera untuk mendarat."
ATC Irwan : "Landasan telah bersih dan siap digunakan."

Setelah permintaan itu, pada posisi pesawat 5 menit akan mendarat, komunikasi tidak digunakan lagi. Capt Anwar berkonsentrasi tinggi. Namun, radio komunikasi tetap hidup.

Ketika percakapan antara Indah Irwansyah dan Capt Anwar terhenti, percakapan antara Indah Irwansyah dan Capt Daniel terus berlanjut. Bahkan, Indah melaporkan detik per detik pesawat akan mendarat ke Capt Daniel.

ATC Irwan : "Oke... Capt Daniel, posisi pesawat tinggal 15 menit lagi dari landasan pacu."
ATC Irwan : "Oke... Capt Daniel, posisi pesawat tinggal 5 menit lagi."
ATC Irwan : "Oke... Capt Daniel, posisi pesawat tinggal dua detik lagi roda pesawat menyentuh landasan."
ATC Irwan : "Capt Daniel, pesawat menyentuh landasan dengan sempurna."
ATC Irwan : "Capt Daniel, percikan terlihat..."
ATC Irwan : "Capt Daniel, pesawat berhenti dan kondisi terkendali.."

Setelah semua berjalan lancar dan terkendali, Irwan langsung menekan tombol sirine tanda evakuasi penumpang dimulai. Upaya pemanduan Indah Irwansyah sendiri berakhir dengan terikan keras menyebut nama sang pencipta dari pusat kendali ATC, "Terima kasih ya Allah."

Terlihat, dari posisi tower, pilot turun terakhir setelah evakuasi penumpang. Pilot langsung digendong beramai-ramai oleh petugas dan tim evakuasi. (roda kemudi)

Berikut rangkaian pendaratan darurat yang menegangkan itu. Ini merupakan foto-foto dari saksi mata yang diposting di Facebook serta dari harian Tribun Batam.

Bandara Hang Nadim, Batam, Senin 23 Februari 2009



19:07
Pesawat sudah berputar sekitar 6 kali diatas bandara Hang Nadim. Terlihat kondisi ban depan yang belum dapat berfungsi dengan baik.












19:17
Pesawat terus berputar untuk menghabiskan bahan bakar.











19:22

Malam menjelang, pesawat masih terus berputar.



















20:15

Pesawat mendarat, disambut dgn semburan air dari pemadam kebakaran.














20:15
Pemadam kebakaran terus menyemburkan air untuk mencegah terbakarnya pesawat.












20:22
Proses evakuasi dilakukan.













20:26 Tim medis bersiap-siap mengantisipasi penumpang yang menjadi korban.

















20:27 Tidak terdapat korban jiwa dalam insiden ini.

Monday, March 2, 2009

Arab Danai Pelabuhan Kaltim Rp 20 Triliun

Investor dari Timur Tengah akan membangun fasilitas infrastruktur pengangkut batu bara di Kutai, Kalimantan Timur senilai USD 1,7 miliar atau Rp 20 triliun.

Penandatanganan itu dilakukan oleh pemerintah Ras Al-Khaimah Emirate, salah satu negara federasi Uni Emirat Arab dengan Propinsi Kalimantan Timur di sela-sela Forum Ekonomi Islam Sedunia di Jakarta, Senin (2/3).

"Nilai pembangunan infrastruktur pengangkutan batu bara ini adalah kontrak yang terbesar," ujar Menteri BUMN Sofyan Djalil.

Menurut dia, investasi senilai USD 1,7 miliar akan digunakan untuk membangun rel kereta pengangkut batu bara sepanjang 200 kilometer, pelabuhan dan kawasan industri oleh Kutai, Kalimantan Timur.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), M Lutfi mengatakan investasi pembangunan rel kereta api membutuhkan nilai USD 500 juta. Selanjutnya, akan ditambah menjadi USD 750 juta - 1 miliar. "Nanti rel itu yang akan dipakai untuk mengangkut batubara," ujar Lutfi.

Selain di Kalimantan, Ras al-Khaimah juga bekerjasama untuk membuka smelting di Sumatra Selatan. Lokasinya berada di daerah tanjung api-api. Prosesnya menurut Lutfi, tinggal menunggu keputusan.

Garuda Dapat Jatah Rp 4,3 Triliun

Sementara itu, Dubai Aerospace Enterprises mendanai pembelian delapan pesawat Boeing 737-800 PT Garuda Indonesia Airlines. Harga satu pesawat USD 45 juta atau sekitar Rp 540 miliar.

"Pembiayaan dilakukan selama 10 tahun. Mereka membiayai delapan pesawat dari 50 pesawat Boeing yang akan didatangkan Garuda," kata Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar di sela acara yang sama.

Dengan demikian, untuk delapan pesawat itu Dubai Aerospace Enterprises mengeluarkan total USD 360 juta atau sekitar Rp 4,3 triliun dengan kurs Rp 12.000/USD.

Pesawat-pesawat ini, kata Emir, akan datang sekitar Juni 2009. Selain 50 pesawat B737NG, Garuda juga memesan 10 pesawat jenis B777-300ER yang akan dikirimkan pada 2010 untuk dukung perkembangan bisnis di 2009

Sebelumnya, Jubir Presiden Dino Patti Djalal mengatakan, selain penandatangan dengan Garuda, juga akan ditandatangani kerja sama antara pemerintah Ras Al-Khaimah Emirate dengan Propinsi Kalimantan Timur; the ETA Star Dubai dan Itochu Corporation Japan dengan PT Pertamina; Bank Muamalat Indonesia dengan the National Commercial Bank Saudi Arabia, serta the Islamic Payments System Sdn. Berhad Malaysia dan PT Pos Indonesia.

Di sela-sela pertemuan WIEF ke-5, menurut Dino, rencananya akan dilakukan pertemuan bilateral antara Presiden Yudhoyono dengan sejumlah pemimpin negara.

Pertemuan WIEF ke-5 dinilai tepat di tengah upaya penanganan krisis keuangan, pangan dan energi yang tengah melanda negara-negara di dunia. Diharapkan pertemuan ini dapat menawarkan solusi yang feasible bagi upaya penanganan krisis melalui kemitraan global baik di antara negara Muslim maupun negara Muslim dengan masyarakat internasional lainnya. (roda kemudi)

Thursday, February 26, 2009

Turkish Airlines Jatuh di Amsterdam, 9 Tewas

Jumlah korban tewas jatuhya pesawat milik maskapai Turkish Airlines di Amsterdam, Belanda, terus bertambah. Sedikitnya ada 9 orang tewas dan 50 orang luka-luka dalam peristiwa naas tersebut.

"Kami tidak bisa mengatakan apapun tentang penyebab kecelakaan. Prioritas utama sekarang adalah upaya pertolongan," ujar pejabat bandara Mayor Michel Bezuijen sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (25/2/2009).

Dalam siaran tv lokal Belanda, terlihat upaya evakuasi sedang dilakukan. Tubuh korban dalam kantung mayat tampak masih berada di sekitar lokasi kecelakaan pesawat. Total penumpang 135 orang.

Petugas bandara menyebutkan tipe pesawat yakni 737-800. Reporter televisi Turki menyebut 2 mesin pesawat mati karena kehabisan bahan bakar. Tapi hal ini tegas-tegas dibantah pejabat transportasi Turki.

Pesawat ini diketahui terbang dari Istanbul, Turki, dan mengalami kecelakaan saat mendarat di runaway utara, Bandara Schipol, Belanda.

Akibat kecelakaan ini, seluruh penerbangan yang menggunakan bandara ini dibatalkan. Kecelakaan ini adalah yang terburuk yang terjadi di Schipol sejak 1992 lalu di mana sebuah pesawat kargo menabrak apartemen di sekitar bandara yang menyebabkan 43 orang tewas.

Hantam Bumi Dalam 10 Detik

Pesawat milik maskapai Turkish Airlines jatuh di dekat bandara Schiphol, Amsterdam Rabu, 25 Februari 2009 sore. Badan pesawat terbelah menjadi tiga bagian.

Seorang penumpang yang selamat mengatakan pesawat yang ia tumpangi mendadak kehilangan ketinggian dan mengalami turbulensi. "Ekor pesawat mengenai tanah dan pesawat meluncur dari jalan menuju lahan pertanian," kata Kerem Uzel kepada televisi Turki NTV.

Sedikitnya sembilan orang tewas dan lebih dari 55 penumpang luka-luka dalam kecelakaan ini. Sejumlah penumpang berhasil mendaki keluar pesawat sebelum petugas penyelamat tiba.

Departemen Transportasi Turki mengatakan sekitar 56 warga asing dan 78 warga Turki berada di dalam pesawat yang meninggalkan Istanbul pada pukul 8.22 waktu setempat menuju Amsterdam. Pesawat ini mengangkut 127 penumpang dan tujuh kru pesawat.

Penumpang lainnya, Tuncer Mutluhan mengatakan pesawat Boeing 737 itu seperti jatuh ke dalam cairan. "Pesawat kehilangan kendali, mendadak jatuh dalam tiga sampai lima detik," kata pegawai sebuah bank di Belanda ini seperti dikutip laman stasiun televisi BBC.

Sementara itu, Huseyin Sumer mengatakan ia mengira pilot becanda saat berseru bahwa pesawat akan mendarat dari ketinggian 600 meter. Sumer menyangka pesawat hanya mengalami turbulensi.

"Beberapa penumpang berteriak panik namun kecelakaan ini terjadi sangat cepat dan berakhir dalam 10 detik," kata Sumer.

Hidung Pesawat Meluncur Lebih Tinggi

Thomas Friedhoff adalah seorang pelajar yang menjadi saksi mata jatuhnya pesawat milik Turkish Airlines di dekat bandara Schiphol, Amsterdam Rabu 25 Februari 2009.

Tinggal di sekitar lokasi kecelakaan, Friedhoff sedang bersepeda ketika ia melihat pesawat Boeing 737-800 itu. Ia menyadari ada yang salah ketika melihat pesawat itu terbang sangat rendah tapi tidak terdengar suara mesin.

"Pesawat itu terus kehilangan ketinggian secara drastis sampai benar-benar berhenti, pesawat membentuk sudut 45 derajat," kata Friedhoff seperti dimuat laman stasiun televisi BBC.

Beberapa detik setelah pesawat terjatuh, Friedhoff mengaku melihat 15 hingga 20 penumpang mulai keluar. Beberapa masuk kembali ke dalam pesawat untuk membantu korban yang terluka.

Seorang warga Zwanenburg yang terletak 500 meter dari tempat jatuhnya pesawat, Rena Lubbers sedang berangkat kerja ketika ia melihat kejadian itu. Lubbers mengatakan pesawat itu tampak sedang meluncur dengan posisi hidung lebih tinggi dari badan dan ekor pesawat.

Saksi lainnya, Nikolai van der Smagt mengemudi di sekitar Schiphol setelah kecelakaan. Van der Smagt melihat pesawat terbagi menjadi tiga bagian dan diselubungi awan debu dan asap kelabu. "Ada banyak debu tapi tidak ada kebakaran," kata van der Smagt.

Sedikitnya sembilan orang tewas dan lebih dari 55 penumpang luka-luka dalam kecelakaan ini. Sejumlah penumpang berhasil mendaki keluar pesawat sebelum petugas penyelamat tiba.

Departemen Transportasi Turki mengatakan sekitar 56 warga asing dan 78 warga Turki berada di dalam pesawat yang meninggalkan Istanbul pada pukul 8.22 waktu setempat menuju Amsterdam. Pesawat ini mengangkut 127 penumpang dan tujuh kru pesawat. (roda kemudi)