Pages

Showing posts with label Soekarno Hatta. Show all posts
Showing posts with label Soekarno Hatta. Show all posts

Monday, August 27, 2012

September, AP II Operasikan RNAV-1 dan Double Deck Tower Control

Dirut AP II: Tri S Sunoko
TANGERANG – PT Angkasa Pura II (Persero) tengah bersiap-siap untuk mengoperasikan prosedur pemanduan lalu lintas udara SID/STAR RNAV-1 dan membuka Sektor Pemanduan Sisi Selatan pada menara kontrol Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten. Prosedur Pemanduan SID/STAR RNAV-1 dijadwalkan beroperasi penuh pada 13 September 2012 pukul 00:00 WIB (17:00 GMT). Sementara Sektor Pemanduan Sisi Selatan akan dibuka secara penuh pada 20 September 2012 pukul 07:00 WIB (00:00 GMT).

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko menjelaskan, tahapan pengoperasian Prosedur Pemanduan SID/STAR RNAV-1 maupun sektor pemanduan sisi selatan menara kontrol Bandara Soekarno-Hatta tersebut mulai dilakukan sejak 23 Agustus 2012 hingga 19 September 2012. Proses tahapan pengoperasian tersebut dilakukan secara intensif dan berkala, dalam rangka uji coba sekaligus sosialisasi kepada seluruh pilot dan maskapai.

Tri Sunoko menegaskan, pengoperasian kedua fasilitas baru tersebut merupakan bentuk komitmen manajemen untuk selalu mengupayakan peningkatan keamanan dan keselamatan penerbangan di wilayah udara Bandara Soekarno-Hatta, maupun di wilayah Flight Information Region (FIR) Jakarta yang dikelola Angkasa Pura II. ”Penerapan prosedur dan fasilitas baru dalam pemanduan ini juga sebagai antisipasi terhadap pertumbuhan pergerakan lalu lintas penerbangan di masa mendatang,” ujarnya, Senin, 27 Agustus 2012.

Dijelaskan, pengoperasian sektor pemanduan baru pada sisi selatan menara pengawas akan mereduksi waktu antrean pesawat di pinggir landasan pacu menjelang lepas landas, serta meningkatnya kewaspadaan petugas ATC maupun pilot ketika berada di dalam wilayah pergerakan di bandara. Sebelumnya, menara hanya dilengkapi satu deck pengawas yang menghadap ke landasan pacu sebelah utara. Hal tersebut mengurangi efisiensi pergerakan petugas ATC ketika harus mengawasi pesawat yang bergerak di landasan sebelah selatan. ”Tetapi sekarang, dengan double-deck control, pola pengawasan danpemanduan pergerakan pesawat di kedua runway bisa dilakukan dengan lebih maksimal,” tegas Tri Sunoko.

Menurutnya, proses pengkajian terhadap pengoperasian double-deck control toweer ini dilakukan sejak tahun 2009. Hasil kajian tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan penggantian peralatan pendukung pengoperasian sektor selatan pada tahun 2010, termasuk melakukan pemenuhan jumlah SDM yang dibutuhkan. Selanjutnya pada awal 2011 dimulai pembuatan prosedur baru dan melaksanakan studi banding ke  Bandara Changi di Singapura, Bandara Kuala Lumpur di Malaysia dan Svarnabhumi di Thailand.

Kemudian untuk prosedur SID/STAR RNAV-1, Tri Sunoko menjelaskan, RNAV atau Area Navigation adalah metode navigasi yang akan mengatur pergerakan pesawat yang berangkat dan menuju bandara melewati koridor udara dengan batasan ketinggian dan kecepatan pesawat yang telah ditentukan. Koridor udara ini akan memisahkan pergerakan pesawat yang datang maupun pergi dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Sistem pemanduan RNAV mencakup RNAV Standard Instrument Departures (SID) untuk pemanduan keberangkatan pesawat dan RNAV Standard Terminal Arrival Routes (STAR) untuk pemanduan kedatangan pesawat.

”Tanpa RNAV, pesawat harus terbang dalam lintasan yang mengikuti posisi stasiun navigasi di bumi. Dengan memakai RNAV, pesawat dapat terbang dalam lintasan yang lebih efisien, melintasi rute berupa titik-titik imajiner yang disebut waypoints,” jelasnya.

Sistem RNAV akan mentukan posisi dan kecepatan pesawat dengan memakai acuan dari data yang dipancarkan stasiun navigasi bumi. Informasi yang akan menjadi acuan pilot tersebut akan muncul pada navigation display berbentuk peta digital, rencana rute yang akan dilewati, serta tanda-tanda navigasi lain semisal bandara, stasiun navigasi  atau waypoints. Selain itu, RNAV juga dapat terhubung dengan sistem autopilot pesawat untuk memberikan automatic guidance.

Petugas Pemandu Udara Bandara Soekarno - Hatta
Prosedur ini juga dilengkapi dengan beberapa High Altitude Holding Point di udara yang digunakan sebagai titik awal mula pesawat mengikuti prosedur RNAV-1. Dengan ditetapkannya holding point maka ATC akan mengarahkan pesawat yang menuju ke Bandara Soekarno Hatta untuk mengikuti antrian kedatangan. Holding point ini juga sangat bermanfaat untuk menyamakan pergerakan pesawat udara sesuai dengan arah dan ketinggian serta kecepatan yang sudah ditentukan.

Sederhananya, RNAV merupakan sebuah desain rute yang bertujuan untuk mengurangi jumlah komunikasi antara pilot dan petugas pengatur lalu lintas udara (ATC) saat datang maupun meninggalkan bandara, sehingga pilot memiliki otoritas menerbangkan pesawat dengan sangat sedikit intervensi dari ATC. Berkurangnya intervensi ATC tersebut akan secara otomatis mengurangi beban kerja ATC dan PILOT serta peningkatan kewaspadaan (situasional awareness) pilot dalam melakukan manuver.

”Keuntungan lainnya adalah, konsumsi bahan bakar juga akan berkurang, karena pesawat dapat terbang secara efisien pada rute yang telah ditentukan secara akurat baik kecepatan maupun ketinggiannya,” imbuh Tri Sunoko. Aeronatical Information Publication Supplement (AIP Supplement) yang berisi informasi rencana pengimplementasian prosedur pemanduan SID/STAR RNAV-1 (AIRAC No: 08/2012) juga telah dipublikasikan sejak 28 Juni 2012 lalu.

Selain mempersiapkan pengoperasian tower sisi selatan dan prosedur RNAV-1, Tri menambahkan, PT Angkasa Pura II saat ini juga tengah melakukan sejumlah kajian peningkatan kualitas pelayanan lalu lintas penerbangan. Antara lain meliputi Restukturusasi Ruang Udara Lapis Atas ( Upper airspace); Restukturusasi Ruang Udara Lapis Bawah  ( Lower airspace); Pembuatan Air Traffic Flow Management; Penambahan Antena  Pemancar Radio di Wonosari, Dumai, Padang, Lampung; Penambahan SDM ATC dan Tehnik; Penggantian  Antena Radar Semarang dan Palembang; serta Pembangunan ATC System di Jakarta.

Saat ini PT Angkasa Pura II mengelola dua belas (12) bandara utama di kawasan Barat Indonesia, yaitu Soekarno-Hatta (Jakarta), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Polonia (Medan), Supadio (Pontianak), Minangkabau (Ketaping) dulunya Tabing, Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), Husein Sastranegara (Bandung), Sultan Iskandarmuda (Banda Aceh), Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang) dulunya Kijang, Sultan Thaha (Jambi) dan Depati Amir (Pangkal Pinang) , serta melayani jasa penerbangan untuk wilayah udara (Flight Information Region/ FIR) Jakarta. (roda kemudi)

Friday, May 4, 2012

Airbus A-380 Mendarat Perdana di Soekarno Hatta

Airbus A-380 Singapore Airlines di Soekarno Hatta (4/5/2012)
Seiring dengan dikeluarkannya pernyataan bahwa Bandara Soekarno-Hatta aman dan laik operasi oleh Airport Council International (ACI), sebuah pesawat super jumbo jenis Airbus A-380 seri 800 milik maskapai Singapore Airline berhasil melakukan pendaratan darurat karena alasan medis (medical emergency divert landing) pada Jumat, 4 Mei 2012. Pendaratan pesawat tersebut dilakukan untuk mengevakuasi salah seorang penumpang yang tengah mengalami sakit kritis.

Dijelaskan Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko, pesawat dengan nomor penerbangan SQ-232 dan registrasi 9V-SKC itu terbang dari Sidney, Australia, menuju Singapura, dengan membawa total 280 penumpang dan 26 awak kabin. Pesawat yang dipiloti oleh Sie Tuck Kay Alexander itu mendarat di landasan pacu utara Bandara Soekarno-Hatta, pada posisi Runway 07-L. Dan parkir di Apron WC-1.

”Pilot menghubungi tower Soekarno-Hatta untuk meminta izin mendarat sewaktu posisi pesawat berada di atas wilayah Bali, karena ada penumpang yang mengalami sakit kritis dan harus segera dievakuasi. Terkait dengan itu, pihak kami langsung mempersiapkan segala sesuatunya. Alhamdulillah, pendaratan berhasil dilakukan dengan lancar dan aman, layaknya pendaratan reguler,” imbuh Tri Sunoko.

Tri menambahkan, setelah dilakukannya evakuasi terhadap penumpang yang pada akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit tersebut, pesawat Singapore Airlines langsung melakukan pengisian bahan bakar (refueling) sebelum terbang kembali pada pukul 17.50 WIB, atau sekitar 2 jam setelah mendarat. Diakuinya, keberhasilan pendaratan perdana pesawat super jumbo ini semakin menambah keyakinan PT Angkasa Pura II dalam mengelola Bandara Soekarno-Hatta, terutama dalam hal keselamatan.

Dalam waktu dekat ini, PT Angkasa Pura II akan memulai proyek pengembangan Bandara Soekarno-Hatta dalam rangka meningkatkan kapasitasnya dari 22 juta penumpang per tahun menjadi 62 juta penumpang per tahun. ”Insya Allah, sebentar lagi ground breaking pengembangan Soekarno-Hatta akan dilakukan. Ke depan, Soekarno-Hatta akan menjadi bandara moderen kebanggaan bangsa Indonesia,” pungkasnya. (roda kemudi)

ACI: Bandara Soekarno-Hatta Aman dan Laik Operasi


Pendaratan Perdana Airbus A380 di Soekarno Hatta
Airport Council International (ACI) telah menyelesaikan observasinya untuk mengukur tingkat keselamatan Bandara Internasional Soekarno – Hatta. Hasil dari kegiatan yang berlangsung sejak 23 April hingga 3 Mei 2012 tersebut menyatakan bahwa status Bandara Soekarno-Hatta ”Clearly Safe Operate”, alias aman dan laik operasi. 

Pernyataan tersebut disampaikan oleh John Pottinger Manager Safety and Operations Airport Council Internasional (ACI) yang juga merupakan team leader dalam program Airport Excellence (APEX) in Safety tersebut. Secara umum, imbuh Pottinger, meski tengah mengalami kekurangan kapasitas akibat peningkatan jumlah pergerakan penumpang dan menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan terhadap tingkat keselamatan di Bandara Soekarno-Hatta. ”Semua prosedur keselamatan penerbangan berjalan dengan baik,” ujarnya.

Dalam observasi selama kurun waktu 10 hari tersebut, ACI menurunkan sebanyak 11 orang pakarnya yang berasal dari lima negara, yakni Kanada, Hongkong, Korea Selatan, Afrika Selatan, dan India. Tim yang dikomandoi langsung oleh John Pottinger tersebut menitikberatkan observasi pada kondisi landasan pacu (runway), taxiway, apron, serta wilayah di sekitar terminal.

Dijelaskan Pottinger, dalam daftar ACI, Soekarno-Hatta saat ini menempati peringkat 11 bandara tersibuk di dunia dengan jumlah pergerakan penumpang mencapai 51,5 juta pergerakan. Jika dibandingkan dengan pergerakan pada tahun 2010 yang mencapai 43,6 juta, terjadi pertumbuhan sebesar 19 persen pada 2011. Kemudian jika dibandingkan dengan bandara-bandara lainnya, jumlah pertumbuhan di Soekarno-Hatta tersebut menempati urutan teratas.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko mengatakan, hasil observasi yang dilakukan oleh para tim ahli ACI tersebut semakin menambah keyakinan PT Angkasa Pura II dalam mengelola bandara terbesar di Indonesia tersebut. ”Hasil ACI ini menjadi pimicu semangat kami untuk terus melakukan improvement terhadap safety. Karena komitmen Angkasa Pura II sebagai operator bandara selalu memprioritaskan keselamatan penerbangan dan keselamatan penumpang,” jelasnya. (roda kemudi)

Tuesday, July 26, 2011

Inilah Konsep Baru Bandara Soekarno Hatta

GRAND DESIGN: Peta rencana pengembangan Bandara Soekarno-Hatta
Pemerintah telah menyetujui desain baru rencana induk (grand design) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (BSH) yang ditawarkan PT Angkasa Pura II. Legitimasi diberikan Wakil Presiden Boediono dalam Rapat Pengembangan Bandara Soekarno-Hatta di kantor Wapres, Jakarta, 24 Mei 2011, lalu. Sebagai upaya tindak lanjut, Angkasa Pura II langsung membuat desain teknis rinci atau detail engineering design (DED) agar proses pengerjaan fisik pengembangan bandara di Cengkareng, Banten, tersebut bisa dimulai pada awal 2012 mendatang.