Pages

Showing posts with label soekarno-hatta. Show all posts
Showing posts with label soekarno-hatta. Show all posts

Thursday, October 25, 2012

Bandara Soekarno-Hatta Penuhi Response Time ICAO

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, berhasil memenuhi waktu tanggap (response time) penanganan kondisi darurat sesuai standar International Civil Aviation Organization (ICAO). Hal tersebut terungkap dalam Airport Emergency Exercise atau Penanggukangan Keadaan Darurat (PKD) yang digelar di Terminal Haji Bandara Soekarno-Hatta, hari ini, Kamis, 25 Oktober 2012.

Ilustrasi penanggulangan kecelakaan pesawat | foto: antara
"Standar response time yang diberikan ICAO selama 3 menit, tetapi petugas di BSH bisa mencapai kurang dari 3 menit. Alhamdulillah, sejauh ini semua bandara AP II mampu mempertahankan waktu respons yang baik sesuai ketentuan ICAO," jelas Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Tri Sunoko dalam keterangan resminya.

Tri menambahkan, pelatihan penanggulangan keadaan darurat merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh seluruh bandara sekurangnya sekali dalam kurun dua tahun. Pelatihan ini bertujuan untuk mengevaluasi kesiagaan baik peralatan maupun kesigapan seluruh pihak terkait yang ada di sebuah bandar udara dalam beraksi dan berkoordinasi menanggulangi kondisi darurat.

Target utama dari penanggulangan kondisi darurat adalah menyelamatkan nyawa seluruh penumpang dan awak kabin, serta menekan sekecil mungking akibat yang ditimbulkan baik materiil maupun non-materiil. "Karena itu, meskin sifatnya latihan, seluruh personel yang terlibat di dalam kegiatan ini harus total memerankan fungsinya dan menganggap bahwa kondisi ini adalah nyata adanya," imbuh Tri Sunoko.

Latihan dengan kode operasi Rajawali IX ini diikuti oleh sekitar 600 peserta yang terdiri dari unsur pengelola bandara, regulator bandara, CIQ, Basarnas, maskapai penerbangan, ground handling, pemadam kebakaran, tim medis dan lain-lain.

Jenis latihan kali ini adalah Wet/Hot exercise, yaitu latihan dengan menggunakan api sebagai objek pemadaman dengan kendaraan pemadam yang akan melaksanakan proses pemadaman. Sifat latihan adalah Large Scale Exercise, yaitu latihan berskala besar yang melibatkan instansi internal atau pun eksternal.

Skenario latihan dimulai saat pilot pesawat maskapai Blue Sky dengan nomor penerbangan 001 tujuan Jakarta dari Singapura menginformasikan kepada petugas Air Traffic Controller (ATC) bahwa telah terjadi kerusakan hidrolik pada pesawat yang berpotensi menimbulkan kecelakaan saat pendaratan.

Mendapat informasi ini, petugas ATC lalu menghubungi Koordinator ATC yang diteruskan kepada Senior General Manager dan Kepala Otoritas Bandara selaku Ketua Airport Emergency Committee. Kepala Otoritas Bandara kemudian mengaktifkan Emergency Operation Center dan mengumpulkan seluruh anggota komite untuk memastikan kesiapan personel dan fasilitas yang dibutuhkan.

30 menit kemudian, pesawat mendarat darurat di Runway utara Bandara Soekarno-Hatta, diiringi ledakan yang cukup kuat. Petugas PK-PPK Bandara Soekarno-Hatta yang sudah bersiaga dilokasi bergerak cepat menuju pesawat untuk memadamkan api menggunakan foam concentrate. Tak sampai 3 menit, api berhasil dipadamkan. Disusul kemudian petugas medis dan SAR segera bergerak ke pesawat untuk mengevakuasi korban.

Hasil evakuasi menunjukan bahwa terdapat 10 orang meninggal dunia, 30 orang luka berat, 15 orang luka ringan, dan 60 orang selamat. Setelah itu, petugas Aviation Security membuat security line untuk pengamanan TKP dan petugas dari kepolisian mengatur jalur kendaraan evakuasi.

Sementara itu di Terminal, akibat run way ditutup sementara, terjadi delay yang cukup lama sehingga membuat penumpang marah dan menimbulkan kekacauan. Petugas OIC, Aviation Security, Kepolisian, CIQ dan Airlines mencoba menenangkan penumpang yang mulai beringas dan bertindak anarkis. Dengan segera, petugas Aviation Security dan Kepolisian pun mengamankan penumpang yang melakukan perusakan fasilitas pelayanan untuk diproses lebih lanjut. (roda kemudi)

Friday, September 9, 2011

Pergerakan Penumpang Lebaran Meningkat 11.43 %

Jumlah pergerakan penumpang di seluruh bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero) selama masa angkutan Lebaran tahun 2011, mencapai 3.069.400 penumpang. Sedangkan jumlah pergerakan pesawat sebanyak 23.313 pergerakan.

Hari Cahyono
Corporate Secretary PT Angkasa Pura II (Persero) RP Hari Cahyono menjelaskan, data pergerakan penumpang maupun pesawat sepanjang  23 Agustus hingga 7 September 2011 tersebut merupakan pergerakan datang dan pergi pada rute domestik maupun internasional. ”Jika dibandingkan tahun 2010, secara akumulatif jumlah pergerakan penumpang mengalami peningkatan sebesar 11.43%. Sedangkan jumlah pergerakan pesawat lebih tinggi 13.10%,” jelasnya dalam siaran pers, Kamis, 8 September 2011.

Pada masa angkutan Lebaran tahun 2010, jumlah pergerakan penumpang rute domestik maupun internasional di 12 bandara yang dikelola Angkasa Pura II sebanyak 2.754.630 penumpang. Sementara pergerakan pesawat yang terjadi sebanyak 20.612 pergerakan.

Monday, August 8, 2011

Bawa "Bom" di Soekarno-Hatta, WN Korea Ditangkap

Petugas keamanan bandara (Aviation Security/Avsec) Bandara Internasional Soekarno Hatta, menangkap tiga warga negara Korea Selatan pembawa tas berisi dummy alat peledak berkekuatan tinggi, Senin, 8 Agustus 2011. Barang-barang yang dikemas dalam sebuah tas khusus tersebut terdiri dari sejumlah detonator, 10 jenis kabel pemicu dengan beragam ukuran dan warna, serta 7 macam peledak bertanda high explosives.

WN Korea pembawa barang mencurigakan di Bandara
Direktur Operasi dan Teknik PT Angkasa Pura II Salahudin Rafi mengungkapkan, ketiga pelaku yang terdiri dari dua pria dan seorang wanita itu berniat membawa barang bawaan mereka ke Balikpapan, Kalimantan Timur, menggunakan pesawat Lion Air JT-760 yang dijadwalkan terbang pukul 06.15 WIB. Ketiga pelaku yang bernama Leeoeun Kyung, Khan Jae Soon serta Won Jeong Yeon, bertolak dari Bandara Incheon Korea dan tiba di Soekarno-Hatta pada Minggu (7/8) malam dengan menggunakan Korean Airlines KAL-627.

Sunday, November 7, 2010

Menhub: Debu Vulkanik Tidak Sampai ke Jakarta, Soekarno-Hatta Aman

Freddy Numberi
Sejumlah maskapai penerbangan asing menunda jadwal penerbangan ke Jakarta melalui Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, menyusul erupsi Gunung Merapi yang terjadi Sabtu (6/11) kemarin. Mereka beralasan, debu vulkanik telah sampai ke Bandara Soekarno Hatta. Namun, Menteri Perhubungan Freddy Numberi menegaskan bahwa bandara internasional itu hingga saat ini masih dalam status aman dan belum tersentuh debu vulkanik.

”Saya klarifikasi Jakarta itu tidak terkena dampak (debu vulkanik) sampai dengan saat ini," jelas Menhub Freddy dalam jumpa pers seusai rapat koordinasi penanggulangan bencana yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung Agung, Jogjakarta, Sabtu malam.

Menhub menyebutkan, beberapa maskapai asing yang membatalkan penerbangan ke Jakarta sebagai imbas negatif dari Notice to Airman (NOTAM) yang dikeluarkan pihak maskapai penerbangan Australia. Padahal peringatan ini tidak benar dan membuat maskapai lain khawatir.

"Ada beberapa internasional flight yang tidak terbang ke indonesia. Ini akibat, peristiwa kemarin di Batam. Kemudian, pihak Australia  mengeluarkan notice to airman yang sekaligus dikaitkan dengan pergerakan vulkanik." terang Menhub.

Menurut Menhub, pihaknya menjelaskan hal ini berdasarkan data yang akurat dari BMKG. "Kita selalu kerjasama dengan pihak BMKG, dan badan vulkanologi dari kementerian ESDM, Kita monitor betul pergerakan daripada awan panas itu. Dan tidak mengarah ke Jakarta," paparnya.

Menhub juga meyakinkan masyarakat bahwa kondisi bandara Soekarno-Hatta saat ini tetap berada dalam situasi yang kondusif. Dia memberi bukti, penerbangan maskapai Garuda yang tetap lancar menuju Jepang dan Dubai.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bakti menambahkan, sampai Sabtu malam, berdasarkan berbagai data yang masuk mengenai arah angin dan sebagainya, wilayah udara di atas Jakarta masih aman untuk diterbangi.

"Kita tidak pernah memberlakukan larangan terbang. Hari ini kita sudah klarifikasi semua, malah Menteri Transportasi sendiri sudah memberikan klarifikasi bahwa sampai saat ini Sukarno Hatta aman untuk penerbangan," jelasnya.

Terkait keputusan beberapa maskapai penerbangan membatalkan penerbangan, menurutnya maskapai mengambil keputusan itu berdasarkan notice yang dikeluarkan pihak otorita penerbangan Australia mengenai debu Merapi.  "Itu karena ada informasi dari Australia yang mengeluarkan Ashtam (peringatan kepada airlines soal debu vulkanik). Jadi, pemerintah Australia mengeluarkan peringatan bahwa debu vulkanik yang dari Gunung Merapi itu sudah ke arah Barat dan sudah mendekati Jakarta. Itulah dasar para airlines untuk memutuskan membatalkan penerbangan," jelasnya.

Klarifikasi Data

Dirjen Herry menegaskan, pihaknya sudah memberikan klarifikasi kepada berbagai maskapai penerbangan bahwa pihak Indonesia juga menerima informasi dari Australia tersebut namun data itu digabungkan dengan informasi Badan Metereologi dan Pusat Vulkanologi yang melihat arah angin yang membawa debu vulkanik tersebut.

"Dari data yang kita punya, arah angin memang ke Barat tetapi kemudian lari ke arah Selatan, ke lautan India. Jadi pada saat ini belum menganggu penerbangan. Makanya penerbangan domestik seperti Garuda tetap beroperasi. Keadaan masih aman. Indonesia masih menjamin itu," tegas dia.

Kendati demikian, otoritas penerbangan Indonesia akan tetap memantau dengan memakai seluruh data dari BKMG dan Pusat Vulkanologi serta juga dari otorita Australia. ”Sejauh ini otorita perhubungan udara Indonesia baru menutup dua bandara yaitu bandara Adisutjipto di Yogyakarta dan bandara Adisumarmo di Solo,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Maskapai penerbangan asing menunda jadwal penerbangan ke Jakarta, Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh isu bahwa abu vulkanik Gunung Merapi telah mencapai Jakarta

Manajemen PT Angkasa Pura II melalui siaran persnya Sabtu malam menjelaskan, tercatat sebanyak 13 maskapai asing yang menunda  sementara penerbangannya dari dan menuju Soekarno-Hatta sepanjang Sabtu mulai pukul 17.30 WIB hingga 23.15 WIB. Mereka antara lain  Malaysia airlines, Japan airlines, China Southern, Singapura Airlines , Value Air, Turkey Airline, KLM, Lufthansa, Emirates Air, Tiger Airways, Eva airlines, Ethihad, AirAsia.

”Sementara maskapai domestik yang juga menunda jadwal penerbangannya dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta, tetapi itu untuk rute Jogjakarta – Jakarta maupun sebaliknya,” jelas Coorporate Secretary PT AP II Hari Cahyono dalam siaran persnya. Maskapai itu adalah , Garuda Indonesia, Lion Air, Batavia Air, Sriwijaya Airlines, Indonesia AirAsia, Mandala Airlines.

”Untuk jadwal penerbangan Minggu, 7 Nopember 2010, perlu kami sampaikan bahwa maskapai Indonesia AirAsia telah memutuskan untuk meniadakan penerbangan untuk rute Bandung – Medan – Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur – Medan – Bandung,” pungkas Hari. (roda kemudi)

Saturday, November 6, 2010

Soekarno-Hatta Aman, Maskapai Asing Stop Penerbangan

Terkait penundaan rencana penerbangan yang dilakukan sejumlah maskapai luar negeri ke Jakarta melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Sabtu, 6 Nopember 2010, status Bandara Soekarno – Hatta masih dibuka dan aman untuk didarati. Demikian disampaikan PT Angkasa Pura II melalui coorporate secretary, Hari Cahyono.

Dijelaskan Hari, adapun penundaan jadwal penerbangan yang dilakukan maskapai luar negeri tersebut dilakukan atas inisiatif makapai yang bersangkutan. ”Berdasarkan penjelasan pihak maskapai yang kami terima, penundaan itu dilakukan karena alasan keselamatan (safety) menyusul aktivitas Gunung Merapi di Jawa Tengah. Sementara kami selaku otoritas bandara telah memberikan informasi bahwa Bandara Soekarno – Hatta masih aman untuk didarati dan belum terpengaruh dampak erupsi Gunung Merapi. Apa yang kami sampaikan tersebut sebagaimana disebutkan dalam NOTAM (Notice To Air Man) dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan selaku otoritas penerbangan nasional bahwa jalur udara utara dan barat aman untuk diterbangi,” paparnya.

Dia menambahkan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan selaku otoritas penerbangan nasional yang selalu menjadi acuan perusahaannya dalam mengoperasikan bandara, belum mengeluarkan pernyataan bahwa jalur penerbangan udara dari luar negeri menuju Jakarta maupun sebaliknya, dari Jakarta menuju luar negeri melalui Bandara Soekarno—Hatta telah terpengaruh oleh sebaran abu vulkanik Gunung Merapi.

Berikut maskapai luar negeri yang telah mengkoonfirmasikan untuk menunda sementara penerbangannya dari dan menuju Bandara Soekarno—Hatta  (datang/pergi) mulai pukul 17.30 – 23.15 WIB:

1. Malaysia airlines        : 6 penerbangan
2. Japan airlines             : 2 penerbangan
3. China Southern          : 1 penerbangan
4. Singapura Airlines      : 6 penerbangan
5. Value Air                   : 4 penerbangan
6. Turkey Airline            : 2 penerbangan
7. KLM                         : 2 penerbangan
8. Lufthansa                   : 2 penerbangan
9. Emirates Air               : 4 penerbangan
10. Tiger Airways           : 2 penerbangan
11.Eva airlines                : 2 penerbangan
12. Ethihad                     : 2 penerbangan
13. AirAsia                     : 13 penerbangan


Sementara maskapai domestik yang juga menunda jadwal penerbangannya dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk rute Jogjakarta – Jakarta maupun sebaliknya pada hari ini adalah:

1. Garuda Indonesia         : 11 datang dan 10 berangkat
2. Lion Air                        : 2 datang dan 2 berangkat
3. Batavia Air                   : 3 datang dan 3 berangkat
4. Sriwijaya Airlines          : 2 datang dan 2 berangkat
5. Indonesia AirAsia          : 3 datang dan 3 berangkat
6. Mandala Airlines           : 2 datang dan 2 berangkat

”Untuk jadwal penerbangan Minggu, 7 Nopember 2010, perlu kami sampaikan bahwa maskapai Indonesia AirAsia telah memutuskan untuk meniadakan penerbangan untuk rute Bandung – Medan – Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur – Medan – Bandung,” pungkasnya. (roda kemudi)

Sunday, October 24, 2010

AP II Targetkan Tender Pembangunan JAATS-2 Mulai Desember 2010

PT Angkasa Pura II (Persero) tengah menyiapkan konsep pembangunan Jakarta Automation Air Traffic System (JAATS) untuk memperkuat performa Pengatur Lalu Lintas Udara serupa yang telah ada saat ini. JAATS-2 itu ditargetkan dapat beroperasi selambat-lambatnya akhir 2011 mendatang. Sedangkan tender pembangunanya sendiri ditargetkan untuk dimulai pada Desember 2010.
www.airtrafficcontrollerexam.com

Direktur Utama PT AP II Tri S. Sunoko memaparkan, proses persiapan yang tengah dilakukan saat ini adalah menyusun term of reference (TOR) dan spesifikasi teknis  pengadaan dan pemasangan JAATS-2 oleh tim gabungan yang terdiri dari para ahli navigasi udara Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan PT AP II. Organisasi profesi Indonesia Air Traffic Controller Association (IATCA) serta para teknisi penerbangan dan operator penerbangan juga turut dilibatkan sebagai nara sumber.

”Penyusunan TOR dan spesifikasi teknis dilaksanakan sejak September lalu dan akhir Nopember 2010 ini diharapkan akan rampung. Sehingga proses tender pembangunan gedung sebagai langkah awal bisa dilakukan pada Desember mendatang,” jelas Tri S. Sunoko, Minggu (24/10).

Estimasi dana yang dibutuhkan  untuk pembangunan gedung JAATS-2 tersebut, jelasnya, mencapai kisaran Rp 200 miliar yang dibiayai melalui sumber pendanaan APBN Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub. Rentang waktu pembangunan gedung JAATS-2 direncanakan sepanjang 2011, mulai Januari hingga Desember. Sementara untuk pengadaan dan instalasi infrastruktur JAATS-2 menjadi proyek yang dibiayai melalui  PT AP II, dengan estimasi waktu antara Maret – Desember 2011, yang dilanjutkan dengan proses simulasi dan training pada Januari 2012.

”Estimasi biaya yang disiapkan AP II untuk infrastruktur JAATS 2 ini nilainya sekitar Rp 500 miliar. Permohonan persetujuan anggarannya diajukan kepada Kementerian BUMN Oktober 2010 ini. Kita harapkan bisa segera disetujui selambatnya akhir Oktober, sehingga kita bisa langsung buka tender Desember mendatang. Tendernya sendiri akan dilakukan oleh tim konsultan independen yang juga dilibatkan dalam proyek ini,” imbuh dia.

JAATS-2 Sebagai Back Up

Direktur Operasi dan Teknik, Salahudin Rafi menambahkan alasan di balik rencana pembangunan JAATS-2. Menurutnya, JAATS-2 tidak dibangun untuk menggantikan keberadaan JAATS-1 yang usianya relatif tua dan sempat mengalami gangguan teknis beberapa waktu lalu. ”Keberadaan JAATS-2 yang mengadopsi teknologi terkini adalah untuk memperkuat posisi JAATS-1 dan dalam rangka meningkatkan performa radar yang kita miliki. Ini juga sebagai salah satu langkah dalam menyikapi pesatnya pertumbuhan industri penerbangan saat ini,” papar Rafi.

Menurut Rafi, seiring dengan upaya persiapan pembangunan infrastrutktur JAATS-2 yang dipastikan akan sarat dengan teknologi anyar dan diharapkan mampu mengantisipasi perkembangan teknologi yang sangat dinamis. Beberapa teknisi penerbangan (ATC dan teknisi) juga sudah melakukan ”benchmark” dalam mengikuti seminar yang digelar Internasional Civil Aviation Organization (ICAO) serta merencanakan peninjauan ke beberapa bandara yang telah menggunakan pola pengoperasian dan  sistem radarnya yang modern dan canggih sebagai pembanding.

JAATS adalah sistem penginderaan jarak jauh (surveillance) yang digunakan oleh petugas pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) untuk memberikan pelayanan lalu lintas penerbangan di wilayah operasi udara Flight Information Region (FIR) Jakarta dengan cakupan wilayah udara Indonesia bagian barat. Pelayanan ini lazim disebut sebagai air traffic services. Perangkat JAATS yang dioperasikan PT APII ini berada di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Banten. Namun, keberadaan JAATS sendiri tidak hanya untuk kebutuhan pengontrolan lalu lintas udara, namun lebih luas lagi yang mampu berfungsi untuk air traffic management.

Rafi menambahkan, radar JAATS pertama dioperasikan perdana pada 1996 silam, dan pada sat itu diproyeksikan untuk melayani pergerakkan pesawat hingga 600 pergerakan per hari dan pelayanan data sebanyak 900 pesan Aeronautical Fixed Telecommunication Network (AFTN). Namun pada 2010, kenyataannya total pergerakan pesawat yang dilayani JAATS telah mencapai hingga 2000 pergerakan peswat dan mengelola sebanyak 4000 pesan AFTN.

Menyusul kendala operasional radar yang terjadi beberapa waktu lalu, perbaikan cepat dilakukan sehingga mampu mengembalikan fungsi pelayanan JAATS seperti sedia kala. Untuk mengantisipasi kejadian serupa, telah dilakukan updating dan refreshing sistem JAATS secara periodik dari setiap dua bulan menjadi satu bulan dan dua minggu untuk mengurangi beban data yang diproses oleh sistem tersebut.

”Sejak awal September lalu upaya perbaikan dan antisipasi terhadap kegagalan sistem terus dilakukan, seperti menyiapkan back up system yang dibutuhkan. Contingency plan atau rencana darurat JAATS Radar System Failure Contingency Plan yang menyentuh kondisi terburuk kita rancang dan kita masukkan dalam SOP. Saat ini, rencana darurat itu yang sedang proses sosialisasi. Namun, saat ini sudah ter-back up dan sosialisasi juga sedang di lakukan ke setiap unit dan seluruh controller,” lanjut Rafi.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengatakan bahwa pihaknya akan mendorong percepatan pembangunan radar JAATS-2 untuk menopang radar yang telah ada saat ini. Di sisi  lain, hal  tersebut juga sebagai upaya untuk menyongsong pengimplementasian ASEAN Open Sky 2015 mendatang. "Banyak pembenahan yang harus kita lakukan. Salah satunya adalah sistem radar," ujar Menhub di gedung DPR, Jumat (22/10).

Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S. Gumay menambahkan, saat ini pihaknya bersama tim tengah melakukan penyusunan TOR dan spesifikasi rencana pembangunan radar JAATS-2 agar secepatnya bisa dilakukan tender. "Kami dari pemerintah akan memfasilitasi bangunannya, gedungnya. Sedangkan Angkasa Pura II infrastruktur radarnya," ujar dia. (roda kemudi)

Monday, October 11, 2010

AP II Naikkan Status Penerangan Umum dan AC Terminal di Bandara Soetta Jadi Prioritas

Menyusul terjadinya gangguan pasokan arus listrik pada fasilitas-fasillitas bandara yang tergolong non-prioritas di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, PT Angkasa Pura II (Persero) memutuskan untuk menaikkan status suplai tenaga cadangan (back up) pada kategori tersebut menjadi prioritas. Salah satunya adalah fasilitas penerangan umum dan penyejuk ruangan (AC) di seluruh area terminal.
Dirut AP II Tri Sunoko (berjaket) dan
Dirut PLN Dahlan Iskan (foto: antara)


”Penerangan umum atau pun AC di terminal-terminal itu semula masuk kategori non-priority dalam sistem back up kita. Tetapi sekarang sudah kita naikkan statusnya menjadi prioritas. Dengan demikian, ketika pemadaman listrik oleh PLN terjadi, lampu maupun AC di Bandara Soekarno—Hatta bisa tetap menyala. Kami menyadari betul bahwa kenyamanan penumpang merupakan salah satu faktor yang harus kami prioritaskan. Tujuan peningkatan status ini sendiri tak lain untuk meningkatkan kenyamanan bagi setiap pengguna jasa bandara,” ungkap Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko, Senin (11/10).

Dikatakannya, peningkatan status tersebut juga merupakan salah satu tuntutan dari masyarakat pengguna jasa Bandara Soetta yang direspons perusahaannya. Dia berharap, peristiwa terakhir, yaitu padamnya lampu penerangan umum dan AC di area terminal seperti ketika gardu induk PLN Kosambi terganggu beberapa waktu, lalu tidak akan terulang lagi ke depan. ”Karena ketika pasokan listrik PLN terhenti, sistem back up akan langsung mengambil alih dalam hitungan detik,” ujarnya.

Menurut Tri Sunoko, saat ini Bandara Soetta memiliki total tenaga listrik cadangan sebesar 7300 KVA. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3000 KVA telah teralokasikan untuk mem-back up fasilitas yang selama ini masuk dalam kategori high priority dan priority. Fasilitas yang masuk dalam kategori high priority adalah seluruh seluruh perangkat teknikal pada sisi udara (air side) dan berkaitan erat dengan sistem pengaturan lalu lintas pergerakkan pesawat, seperti peralatan navigasi, landasan pacu, radar, dlsb. Sementara pada kategory priority, perlengkapan operasional di dalam bandara, seperti fasilitas check  in, imigrasi, bea dan cukai, karantina, x-ray, conveyer, dan lainnya.

Sedangkan fasilitas lainnya masuk pada kelompok non-priority yang selama ini adalah fasilitas-fasilitas yang hanya mengandalkan ketersediaan pasokan arus dari PLN dan back up sebesar 20-30 persen. Perangkat tersebut di antaranya adalah lampu penerangan umum dan penyejuk ruangan di terminal. ”Sejalan dengan naiknya status beberapa fasilitas dari non-prority menjadi priority, kita alokasikan sekitar 75 persen dari dari 4300 KVA cadangan arus listrik yang tersedia. (Peningkatan status) ini merupakan salah satu tuntutan dari masyarakat pengguna jasa yang kita respons. Kita harapkan, peristiwa padamnya lampu dan AC di area  terminal seperti ketika gardu induk PLN Kosambi terganggu beberapa waktu lalu, tidak akan terulang lagi ke depan,” lanjutnya.

Di sisi lain, lanjut Tri Sunoko, untuk meningkatkan kapasitas listrik cadangan di Bandara Soetta, perusahaanya juga telah menyewa pembangkit  listrik (genset) secara berkala dalam dua tahap. Tahap pertama, genset berkapasitas 3 x 2 MVA, dan tahap kedua 5 x 2 MVA. Keseluruhan genset sewaan itu akan digunakan untuk mem-back up seluruh jalur penerangan, perkantoran, serta tenant. Termasuk pula seluruh fasilitas mekanikal elektrikal seperti AC, elevator, escalator, dan conveyor di terminal 1 dan 2. ”Seluruh pengadaan ini kita lakukan tahun 2010, dan itu semua di luar program RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan),” jelasnya.

Menurutnya, penyewaan genset tersebut dilakukan mengingat sisa pasokan tenaga cadangan dari genset yang telah ada selama ini, sebesar 4300 KVA, tidak dapat digunakan seluruhnya. ”Tenaga cadangan yang tersisa 4300 KVA itu memang tidak boleh digunakan total 100 persen. Prosedurnya seperti itu, maksimal kita hanya bisa pakai 75 persen. Karena itu kita alokasikan dana untuk menyewa genset untuk meng-cover fasilitas-fasilitas yang sebelumnya belum masuk daftar cadangan, baik di terminal 1, 2, maupun terminal 3,” tandasnya.

Tri menambahkan, terkait upaya perbaikan terhadap jaringan T9 dan T10 yang sempat membuat kedipan selama 1,7 detik dan menyebabkan terganggunya aktivitas penerbangan di Bandara Soetta pada 6 Agustus silam, saat ini AP II yang bekerja sama dengan PLN tengah melakukan penggantian instalasi kabel secara menyeluruh. Sampai kabel tersebut selesai diganti, untuk sementara pasokan arus listrik di kedua titik tersebut menggunakan kabel darurat melalui unit kabel berjalan (UKB) milik PLN.

”SOP dan gugus kerja antara AP II sudah kita bentuk untuk penanganan darurat. Jadi, sekarang ada pegawai PLN yang berada di Soetta untuk koordinasi dan fasilitas radio komunikasi yang terhubung antara bandara dengan kantor PLN,” imbuhnya.

Kemudian, lanjut dia, sambil berjalan PT AP II juga melakukan uji performasi terhadap sistem back up dengan melakukan simulasi pemadaman listrik dan resetting pada masa sepi, antara pukul 24.00 sampai pukul 04.00. Hasilnya dari uji performasi itu cukup memuaskan alias seluruh sistem back up dapat bekerja maksimal sesuai harapan.

”Untuk menghindari kesalahfahaman informasi, selama proses pengujuian ini seluruh airlines dan tenant sudah kita informasikan. Kita targetkan Oktober ini selesai, sedangkan untuk untuk suplai yang ke T3, 25 September lalu sudah selesai. Selain itu, di luar infrastruktur, kita juga melakukan penambahan teknisi pada main power station, di luar penempatan pegawai PLN di sana,” pungkas Tri. (roda kemudi)

Friday, September 17, 2010

Listrik Padam Lagi di Soetta, Pelayanan Tetap Normal

Pasokan listrik di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Cengkareng, Banten, kembali terkena masalah. Jumat (17/9), sekitar pukul 12.30 WIB, arus listrik di bandara tersibuk se-Indonesia itu kembali mengalami masalah. Kendati demikian, tidak ada gangguan signifikan terhadap fasilitas bandara maupun jadwal penerbangan, seperti yang terjadi pada 6 Agustus 2010 lalu.

”Peristiwa hari ini berbeda dengan yang waktu itu. Tidak ada gangguan terhadap konter-konter check in maupun pelayanan lainnya di bandara. Penerbangan juga masih tetap normal, tidak ada masalah yang muncul karena terimbas kejadian ini,” jelas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay saat dikonfirmasi.

Menurut Dirjen Herry, hingga saat ini penyebab padamnya listrik untuk kali kedua tersebut masih dalam penelusuran. ”Kita belum ketahui penyebabnya apa. Saya masih menunggu laporan dari PT Angkasa Pura II. Tapi yang jelas, kondisi saat ini tidak seperti waktu itu,” tegasnya, seraya berharap kejadian ini menjadi kali terakhir.

Pada Jumat, 6 Agustus 2010 lalu, kali pertama listrik di bandara mengalami masalah. Kedipan selama 1,7 detik yang terjadi saat itu sempat membuat sejumlah pelayanan penumpang dan jadwal penerbangan terganggu. Menindaklanjuti kondisi tersebut, PT AP II dan PT PLN bersinergi untuk mengelola pasokan listrik di Bandara Soetta.

Terpisah, Direktur Utama PT Angkasa Pura II Tri S Sunoko menjelaskan, gangguan aliran listrik di bandara yang dikelolanya terganggu sejak pukul 12.30 hingga 13.42 WIB. Namun, jelasnya, berkat sistem pendukung (back up) yang berfungsi dengan baik, pergerakan penumpang dan lalu lintas udara  tetap beroperasi normal.

”Penyebab gangguan sedang diatasi tim gabungan PLN dan AP2 yang sedang melakukan tugas bersama sejak awal pelaksanaan angkutan lebaran juga untuk tahap-tahap selanjutnya. Insya Allah, secepatnya kita akan perbaiki agar tidak ada lagi gangguan,” jelasnya.

Juru Bicara PT AP II Andang Santoso menambahkan, gangguan pasokan listrik yang terjadi di Bandara Soetta tidak sempat menyentuh fasilitas utama seperti konter pelayanan check in di area penumpang, maupun yang terkait dengan keamanan dan keselamatan penerbangan. ”Hanya listrik untuk penerangan umum. Tetapi masalah cepat terlesaikan dengan pasokan cadangan dari genset. Saat ini petugas dari PLN sedang menelusuri penyebab gangguan itu. Yang jelas, semua pelayanan tetap lancar,” jelasnya. (dephub.go.id)

Tuesday, October 27, 2009

Menhub: Terminal 1 Soekarno-Hatta Amburadul

Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengkritik kondisi pelayanan publik di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Bahkan Menhub menilai pelayanan publik di terminal yang dikelola PT Angkasa Pura (AP) II tersebut masih amburadul. ”Masih ada pedagang, atau tukang semir yang berlalu lalang di sana. Masih banyak orang duduk-duduk sembarangan dan membuang puntung rokok di lantai, padahal sudah disediakan tempatnya. Saya juga masih mendengar banyak keluhan tentang kondisi toilet di sana,” ungkap Menhub saat melakukan kunjungan kerja ke bandara tersibuk di Indonesia tersebut, Selasa (27/10).

Dalam kunjungannya itu, Menhub menyempatkan diri untuk memasuki satu per satu toilet di Terminal 1A, setelah sebelumnya melakukan peninjauan ke Terminal 3. Dia berharap, kondisi yang tampak dan kenyamanan yang dirasakan di Terminal 3 bisa dirasakan di seluruh bandara yang ada di Indonesia.

”Kalau semua bandara di Indonesia seperti Terminal 3, bagus. Tetapi Terminal 1 masih amburadul,” ujarnya. Menhub meyakini, kenyamanan dan ketertiban di setiap bandara bisa diupayakan. Karena menurutnya, Indonesia bukanlah negara miskin yang akan menemui kendala permodalan untuk mewujudkan hal tersebut. Di satu sisi, dia juga menambahkan, ”Orang pintar juga banyak di negara kita. Kita harus bisa lebih baik dari Singapura,” tegasnya.

Atas dasar itu, PT AP II selaku pengelola bandara internasional tersebut diminta untuk terus mengupayakan peningkatkan kualitas pelayanannya. Menhub meminta PT AP II untuk memerhatikan hal-hal kecil yang justru dapat berdampak besar terhadap pencerminan dan pencitraan jati diri bangsa Indonesia di mata wisatawan asing. Hal itu mengingat bandara merupakan salah satu penghubung utama Indonesia dengan dunia internasional.

Toilet, kata Menhub, kerap dijadikan tolok ukur penilaian sebuah kepribadian bangsa. ”Yang pertama dilihat orang asing itu toilet. Kalau dia masuk lihat toilet kotor, dia akan langsung bilang kalau semua orang Indonesia itu jorok-jorok,” ujarnya. ”Jadi, ini soal kepribadian yang tidak bisa dibiarkan seenaknya. Kamar mandi, WC, semua harus terjaga dengan baik. Tidak ada alasan tidak bisa,” lanjutnya.

Kemudian terkait banyaknya pedagang maupun penyemir sepatu liar yang berkeliaran di area publik terminal di bandara, menurut Menhub hal tersebut bisa disiasati tanpa harus menghilangkan keberadaan mereka. Justru sebaliknya, keberadaan mereka bisa diberdayakan sebagai bagian dari pelayanan publik.

”Tukang semir atau pedagang itu tidak perlu diusir, tetapi sediakan mereka tempat yang layak dan tepat. Jangan keluarkan mereka dari sistem, tetapi jadikan mereka sebagai bagian dari sistem tanpa harus merusak sistem. Ini yang harus dipikirkan. Di luar negeri, tukang semir itu disediakan booth khusus, mereka tidak liar dan itu malah menjadi bagian dari pelayanan,” papar Menhub.

Program Sepanjang Masa

Menhub menekankan bahwa pelayanan publik di seluruh fasilitas infrastruktur transportasi harus menjadi prioritas para pengelola dan operator angkutan yang beroperasi di sana. Keteraturan, kedisiplinan, dan kebersihan merupakan hal-hal pokok yang harus dijadikan fokus dalam mengupayakan peningkatan kenyamanan terhadap penumpang. ”Pelayanan publik itu bukan program sementara, tidak hanya 100 hari, sebulan atau setahun, tetapi ini program sepanjang masa,” tegasnya.

Untuk merealisasikan hal tersebut, lanjut dia, dibutuhkan pemimpin tegas yang tidak hanya duduk manis dan menerima gaji besar. Di Indonesia, menurut Menhub, terutama pada instansi maupun lembaga yang erat kaitannya dengan pelayanan publik, masih banyak terdapat pemimpin yang kurang berkompeten dalam menjalani tugas.

”Ada leaked of managerial skill di sini. Kalau memang tidak mampu, bilang saja biar nanti cepat kita ganti sama orang yang mampu,” ujar Menhub.

Ditambahkan Menhub, upaya penciptaan kenyamanan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik di bandara tidak hanya menjadi tanggung PT AP II selaku pengelola. Di sisi lain, maskapai sebagai operator penerbangan juga dituntut kontribusinnya untuk menjaga sistem agar tetap berjalan dengan baik. (roda kemudi)

Monday, June 29, 2009

Antisipasi Flu Babi, Pemeriksaan Pilot dan Awak Kabin di Bandara Diperketat

Untuk menekan penyebarluasan virus influenza A H1N1 (flu babi) di Indonesia melalui jalur transportasi udara, pemerintah melalui Departemen Perhubungan meningkatkan intesivitas pemeriksaan kesehatan para pilot dan awak pesawat.

Pemeriksaan ketat kepada pilot dan awak kabin ini diutamakan pada bandara-bandara internasional dengan menggunakan body scanner. pengecekan dilakukan sebelum mereka meninggalkan bandara. Salah satu bandara internasional yang tengah intensif melakukan upaya tersebut adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Banten.

Kepala Administrator Bandara Soekarno-Hatta Edward A. Silooy mengatakan, dalam melakukan ativitas tersebut, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Departemen Kesehatan. Menurutnya, pengetatan pemeriksaan tersebut dilakukan menyusul ditetapkannya salah seorang pilot maskapai nasional mengidap virus tersebut.

"Kami mewajibkan pilot dan awak kabin maskapai yang telah penerbangan dari luar negeri untuk melalui body scanner sebelum mereka keluar dari bandara," jelasnya, di Jakarta, Senin (29/6).

Dijelaskan Silooy, pilot dan awak kabin sangat rentan dan berpeluang besar menjadi media penyebaran virus yang tengah membuat sibuk dunia kesehatan intersional tersebut di Indonesia. Terutama pilot-pilot dan awak kabin yang melayani penerbangan luar negeri.

"Ini untuk antisipasi merebaknya virus dari pilot dan awak kabin. Mereka sangat rentan oleh virus flu babi. Pengetatan pemeriksaan kesehatan ini akan kita lakukan terus menerus untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut," sambungnya.

Baru-baru ini Departemen Kesehatan merilis, seorang pilot maskapai nasional positif mengidap virus A H1N1. Sebelum sakit, pada 14 Juni 2009, pilot tersebut melakukan penerbangan ke Perth, Australia. Kemudian 18 Juni 2009, dia bertugas ke Hong Kong. (roda kemudi)

Tuesday, April 28, 2009

Presiden SBY Resmikan Terminal 3 Soekarno-Hatta

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang, Banten, Selasa (28/4).

Konsep terminal yang merupakan terminal ecomodern pertama di Indonesia ini berbeda dengan Terminal I dan Terminal II. Desain interior dan eksterior terminal ini lebih moderen dan ramah lingkungan. Arsitektur interior banyak menggunakan elemen kaca sehingga mengurangi penggunaan listrik di siang hari.

Angkasa Pura II mulai membangun terminal ini sejak 2007 dengan dana sebesar Rp 300 miliar. Rencananya terminal akan dibangun lima tahap. Dermaga (pier) I yang diresmikan presiden ini sudah beroperasi pada 15 April lalu.

Terminal III akan melayani maskapai penerbangan Mandala Airlines dan Indonesia Air Asia. Target kapasitas penumpang diperkirakan mencapai 4 juta orang per tahun. Saat ini terminal 1 dan 2 sudah penuh sesak, di mana pergerakan penumpang untuk terminal 1 rata-rata 16 juta orang per tahun, dan terminal 2 rata-rata sembilan juta orang per tahun.

Selain meresmikan terminal 3, Presiden Yudhoyono juga akan meresmikan peremajaan Stasiun Kereta Api Tanjung Priok di Jakarta Utara. Dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan lomba tertib lalu lintas dan angkutan kota 2008.

"Terminal yang sebelumnya terminal haji atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu merupakan terminal yang diharapkan mampu menjadi tempat pelayanan yang terbaik bagi para penumpang," kata Humas PT Angkasa Pura II Trisno Heryadi.

Ia mengatakan, terminal yang dibangun sejak 2006 ini sebagai jawaban untuk mengurangi dampak dari global warming. Terminal dibangun untuk mengatasi ruang layanan bagi penumpang, karena terminal 1 dan terminal 2 sudah tidak memadai lagi untuk melayani penumpang yang setiap tahun terus meningkat.

Terminal 3 tersebut lebih nyaman dibandingkan terminal 1 dan terminal 2, apalagi atap terminal dibuat dengan bahan semacam plastik yang terang, tetapi tidak panas. Dinding terminal terbuat dari kaca, sehingga memberi kesan luas dan terang. "Yang pasti, terminal ini akhirnya menjadi hemat lampu listrik dan AC," katanya.

Di terminal seluas 30.000 meter persegi ini nantinya tidak akan ada ojek dan motor yang parkir di depan terminal, juga tidak ada porter. Sebagai gantinya, terminal menyediakan 300 troli yang bisa digunakan penumpang.

Ruang keberangkatan terletak di lantai satu, dengan 30 gerai untuk check-in. Sedangkan ruang tunggu keberangkatan ada di lantai dua. Ruang kedatangan terletak di lantai satu sebelah kanan. Terminal ini akan melayani penumpang dari 97 penerbangan keberangkatan dan kedatangan. (roda kemudi)

Tuesday, March 24, 2009

Avtur Bocor, Batavia Air Batal Terbang

Pesawat Batavia Air jenis Airbus 320 dengan nomor penerbangan E7P 636 rute Jakarta-Manado mengalami kebocoran avtur saat akan lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (24/3) pagi. Akibatnya, pesawat yang dijadwalkan berangkap pukul 08.45 WIB tersebut batal terbang dan kembali ke apron.

Insiden terjadi ketika pesawat didorong ke belakang (push back) pada pukul 08.35 WIB. Tahap ini biasa dilakukan sebelum pesawat masuk landasan pacu untuk bersiap terbang. Sebanyak 159 penumpang dialihkan ke pesawat jenis Boeing 737-400 pengganti yang berangkat ke Manado sekitar pukul 10.20 WIB. Sedangkan pesawat Airbus 320 yang mengalami insiden langsung diperbaiki.

"Saat itu ada masalah di sistem fuel transfer," kata Juru Bicara Batavia Air Eddy Haryanto, saat dihubungi wartawan, Selasa (24/3). ”Sekarang, pesawatnya sudah selesai diperbaiki, dan sudah dinyatakan laik terbang kembali," imbuhnya.

Kepala Humas Departemen Perhubungan, Bambang Ervan, menyatakan persoalan ini masuk dalam kategori insiden dan belum serius. "Sebab itu mereka membatalkan penerbangan, dan ini bukan gagal terbang," tegas Bambang.

Pembatalan terbang ini, jelasnya, merupakan salah satu pemenuhan prosedur keselamatan penerbangan akibat ada persoalan teknis. Kendati demikian, Bambang menilai, insiden ini harus menjadi perhatian manajemen perusahaan terkait. "Internal Batavia Air wajib melakukan pemeriksaan terkait peristiwa ini,” ujarnya.

Bambang menambahkan, persoalan ini langsung ditangani oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Dephub. "Tapi, KNKT tidak dilibatkan (dalam pemeriksaan), karena kategorinya masih insiden," lanjutnya.

Pernyataan senada dilontarkan juru bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata. Dijelaskan, tugas pokok KNKT adalah memeriksa kasus berkategori insiden serius atau kecelakaan saja. Namun, bukan berarti KNKT tidak dapat melibatkan diri dalam perkara tersebut. "Misalnya ada permintaan dari Departemen Perhubungan," jelas Barata.

Meski tidak terlibat langsung dalam proses investigas, Barata menambahkan, KNKT tidak akan menutup mata. Menurutnya KNKT tetap memonitor insiden tersebut. ”Kami bisa meminta hasil pemeriksaannya ke Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan maskapainya sebagai dokumen,” ujarnya. (roda kemudi)

Friday, March 13, 2009

Lion Air Tergelincir Akan Digrounded Total

Pesawat MD-90 bernomor registrasi PK-LIL milik maskapai Lion Air yang tergelincir di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta Senin lalu, diindikasikan tidak akan diterbangkan lagi.

”Tingkat kerusakannya sangat parah,” jelas Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Yurlis Hasibuan, saat dihubungi, Jumat (13/3).

Meski rusak berat, Yurlis menambahkan, bukan berarti pesawat nahas yang tergelincir saat mengangkut 166 penumpang dari Makassar tujuan Jakarta itu tidak bisa diperbaiki.

”Prinsipnya masih bisa (diperbaiki), tetapi biayanya pasti akan sangat besar sekali. Karena itu kemungkinannya pesawat tidak akan dioperasikan lagi atau total lost,” imbuh dia.

Kepastian total lost itu sendiri menurutnya bergantung pada keputusan perusahaaan asuransi penjamin. Yurlis menyarankan kepada manajemen Lion Air untuk melakukan klaim kepada pihak asuransi mengingat pesawat sudah tidak mungkin bisa diterbangkan lagi dan harus diserahkan kepada pemiliknya.

”Informasi yang kami terima (klaim asuransi) itu sudah dilakukan, saat ini pihak Lion sedang hitung-hitungan,” lanjut Yurlis.

Dephub saat ini juga sedang memeriksa empat pesawat MD-90 milik Lion Air lain yang di-grounded sejak 11 Maret 2009. Penghentian pengoperasian rakitan 1990-an tersebut menyusul kecelakaan tergelincir di Soekarno-Hatta dan pendaratan darurat tanpa roda depan di Hang Nadim, Batam.

Yurlis enggan menjelaskan perkembangan hasil pemeriksaan yang dilakukan timnya. ”Nanti saja, Pak Dirjen (Perhubungan Udara Herry Bakti) yang akan memberikan keterangannya. Saat ini pemeriksaan masih kita lakukan,” jelasnya.

Namun, dia menjamin bahwa waktu pemeriksaan tersebut tidak akan berjalan lebih lama dari yang direncanakan, yaitu tiga hari. ”Kalau di-grounded terus, (Lion Air) akan rugi banyak. Soal ini akan didiskusikan dulu dengan dirjen bagaimana baiknya," lanjutnya.

Terpisah, Juru Bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata mengatakan, saat ini pihaknya telah mengumpulkan sebagian besar data-data kecelakaan MD-90 di Cengkareng itu. Termasuk mengundang sejumlah pilot senior untuk berkonsultasi tentang pesawat MD-90.

”Untuk kepentingan investigasi, KNKT sudah mengambil banyak sampel dari pesawat yang rusak untuk diteliti lebih lanjut,” jelasnya. Sampel-sampel itu antara lain terdiri dari bagian-bagian pesawat yang rusak dan patah, data-data seperti log sheet pesawat, hingga black box. (roda kemudi)

Tuesday, March 10, 2009

Dephub Grounded Seluruh Pesawat MD-90 Milik Lion Air

Departemen Perhubungan memutuskan untuk menghentikan sementara (grounded) pengoperasian seluruh pesawat jenis MD-90 milik maskapai Lion Air mulai Rabu, 11 Maret 2009. Keputusan ini diambil terkait tergelincirnya pesawat jenis sama milik maskapai tersebut di Bandara Soekarno-Hatta pada Senin lalu.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Dephub Herry Bakti dalam keterangan resminya menjelaskan, kebijakan penghentian pengoperasian ini untuk memudahkan pengecekan yang akan dilakukan pihaknya terhadap pesawat yang kerap mengalami insiden tersebut.

Ditegaskan, keputusan untuk meng-grounded pesawat-pesawat milik Lion Air tersebut dan mengevaluasinya bukanlah bentuk sanksi atas insiden yang membuat ditutupnya salah satu landasan pacu Soekarno-Hatta selama hampir 24 jam tersebut. Meski dia meyakini bahwa kondisi pesawat Lion yang tergelincir itu cukup laik terbang untuk beroperasi.

”Pesawat tua belum tentu tidak laik terbang. Sebaliknya, pesawat baru juga belum tentu tidak bisa celaka. Ini dalam rangka antisipasi ke depan,” ujar Herry Bakti di kantornya, Selasa (10/3).

Dalam rangkaian evaluasi tersebut, menurutnya, Dephub akan memeriksa semua pesawat MD-90 series yang ada. ”Kebetulan, maskapai yang pakai MD series saat ini cuma Lion. Untuk sementara, mulai besok (Rabu), kita akan grounded seluruh pesawat-pesawat itu,” imbuhnya.

Tak hanya fisik pesawat rakitan Mc Donell Douglass tahun 1996 itu, Dephub, lanjut Herry, juga akan mengevaluasi sistem keselamatan serta mekanisme perawatan yang dilakukan oleh manajemen Lion Air terhadap seluruh pesawatnya.

”Termasuk frekwensi penerbangan yang menggunakan pesawat MD series kita akan evaluasi juga. Pengecekan ini akan memakan waktu 3-4 hari,” sambung Herry.

Selain pesawat, Dephub juga secara otomatis akan meng-grounded Capt. Haryanto Asmani selaku pilot bernomor penerbangan JT-793 yang bertolak dari Gorontalo, Makassar, tersebut. Menurut Herry, perintah untuk tidak terbang terhadap pilot pesawat nahas itu sekurangnya berlaku selama sebulan setelah kecelakaan terjadi.

Evakuasi Terhambat Roda Rusak

Terkait lambannya proses evakuasi pesawat dari lokasi tergelincir, Herry menjelaskan, hal itu disebabkan oleh rusaknya dua roda pendaratan bagian belakang. Kondisi itu diperparah oleh terbenamnya roda tersebut di tanah tepian landasan pacu yang berjarak sekitar 800 meter dari ujung landasan itu.

”Kita lumayan agak kesulitan untuk menaruh bantalan udara agar bisa menggeser badan pesawat yang melintang. Apalagi kedua landing gear belakangnya collapse,” paparnya. Hingga akhirnya, setelah menggunakan beragam peralatan evakuasi seperti dooley dan crane, pesawat berhasil dipindahkan sekitar pukul 14.30 WIB. Kendati demikian, landasan pacu Soekarno-Hatta bagian selatan itu masih harus ditutup. ”Karena, meski tidak rusak, masih harus kita bersihkan agar aman digunakan penerbangan selanjutnya,” pungkasnya.

Selanjutnya, untuk menyimpulkan penyebab dari kecelakaan pesawat bernomor registrasi PK-LIL ini, pihaknya menyerahkan hal itu kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang hingga saat ini masih melakukan investigas di lapangan. Untuk menyelidiki kasus ini sendiri, KNKT menurunkan lima orang investigatornya. Antara lain Wakil Ketua KNKT Franz Wenaz, investigator senior Temenggung, Capt. Nurcahyo, Alit Sadikin, dan Sulaeman.

Dihubungi terpisah, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menegaskan pihaknya siap untuk mengikuti perintah dari regulator. "Jika itu yang dimaui oleh regulator, kami siap," katanya.

Edward mengakui, pelarangan lima pesawat jenis MD-90 tersebut berpotensi besar menimbulkan kerugian bagi perusahannya. "Besarannya belum dihitung secara pasti, mengingat rute yang dilalui oleh pesawat-pesawat tersebut berbeda-beda. Jika taksiran kasar bisa saja mencapai sekitar satu miliar rupiah,” katanya.

Dikatakan, Lion Air juga telah menyiapkan pesawat pengganti untuk jenis MD. Terbukti pada Maret ini akan datang dua jenis B 737-900 ER yakni pada 17 maret dan 25 Maret. "Kita memang berencana akan menjadikan pesawat jenis MD sebagai cadangan secara bertahap mulai Juni nanti. Sedangkan proses peremajaan selesai tinggal pemenuhan pemesanan," ungkapnya. (roda kemudi)

KNKT Utus Lima Investigator Selidiki Insiden Lion di Cengkareng

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengirimkan lima investigator untuk menyelidiki insiden tergelincirnya pesawat Lion Air di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Senin lalu.

Juru Bicara KNKT JA Barata menjelaskan, saat ini pihaknya masih mengumpulkan data untuk mencari penyebab insiden tersebut. "Kita akan kumpulkan sebanyak munngkin data-data pendukung di lapangan," jelasnya, Selasa (10/3).

Kelima investigator KNKT yang dikirimkan tersebut, papar Barata, antara lain Wakil Ketua KNKT Franz Wenaz, investigator senior Temenggung, Capt. Nurcahyo, Alit Sadikin, dan Sulaeman.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, hingga pukul 09.00 WIB hari ini, pesawat Loin Air jenis MD-90 dengan nomor penerbangan JT-793 itu masih berada di landasan pacu bagian selatan Soekarno-Hatta. "Informasinya akan ditarik keluar runway pagi ini," imbuh Barata.

Pesawat tujuan Ujung Pandang-Jakarta yang mengangkut 166 penumpang dan 6 awak termasuk pilot dan kopilot itu tergelincir saat melakukan pendaratan, Senin (9/3) pukul 15.30 WIB. Tidak ada korban jiwa maupun korban terluka akibat peristiwa ini. Namun akibat insiden tersebut, bagian depan pesawat yang dipiloti Capt. Haryanto dan kopilot Darsito tersebut mengalami kerusakan.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Umum Lon Air Edward Sirait mengungkapkan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya dan mendukung penyelidikan yang dilakukan KNKT. Dia menegaskan, pendaratan yang dilakukan pilot saat itu merupakan pendaratan normal.

"Tidak ada masalah saat landing akan dilakukan. Pesawat juga dalam keadaan sangat baik dan laik terbang. Kemungkinan tergelincir akibat landasan pacu yang basah habis hujan," ujarnya. (roda kemudi)